Tidak Bisa Menopang
3 Desember 2011
Baca: Lukas 16:9
Alkitab dalam setahun: Daniel 1–3
Di pembaringan terakhir sebelum kita menemui ajal, kita mengalami situasi saat tak seorang pun dapat menemani kita. Pasangan hidup, orang tua, teman terdekat atau siapa pun tidak bisa mendampingi. Ruangan sekitar kita akan terasa begitu sepi. Ruangan hati kita pun terasa kosong sekali.
Akankah saat itu dalam ruangan hati kita ada Tuhan Yesus yang selama ini memang sudah menempatinya dengan nyaman? Dengan nyaman artinya tidak ada yang menempatinya selain Dia, sebab sabda-Nya, kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24). Kalau tidak nyaman, berarti Ia tidak ada di sana. Tuhan Yesus menginginkan ruangan hati kita itu menjadi ruangan pribadi-Nya. Jika tidak, Ia tidak sudi menempatinya.
Di pembaringan terakhir, apa yang bisa menopang kita untuk menemui kematian yang sudah di ambang pintu? Kekayaan, gelar, pangkat, popularitas, kecantikan, kekuatan fisik pun tidak bisa menopang. Apa yang kita butuhkan? Makan minum, perhiasan, rumah, mobil? Tidak, itu semua tidak kita butuhkan. Kita baru melihat fakta benarlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus, bahwa hidup manusia tidaklah tergantung dari kekayaannya (Luk. 12:15). Benarlah bahwa memang semua yang selama ini kita kejar adalah Mamon yang tidak jujur, artinya tidak bisa dipercayai. Mamon itu tipuan belaka, tidak bisa menopang kita.
Apa pun yang selama ini kita banggakan mendadak menjadi tidak berharga lagi. Uang yang kita cari setiap hari dan setiap bulan, benar-benar tidak berharga. Tempat tinggal kita yang mungkin bak istana benar-benar bukan rumah kita. Perhiasan yang biasanya membuat kita pede, kilaunya tidak lagi menggairahkan. Semua terlepas dari genggaman dengan kejam dan tidak setia. Kalau bisa berbicara, mereka berkata, “Maaf, ini bukan wilayah kami”.
Sebelum kita menemui kenyataan itu, marilah kita belajar bergumul mulai hari ini juga, bagaimana kita bisa menghadapinya. Sebab mau ataupun tidak, setiap kita akan menghadapi pembaringan terakhir. Mudah mengatakan bahwa kita siap menghadap Bapa, namun di pembaringan terakhir, barulah kita tahu bahwa selama ini kita belum siap.
Bagaimana agar kita siap? Karena harta benda tidak bisa menopang kita, kita harus belajar melepaskannya mulai sekarang dari hati kita. Jadikan hati kita takhta Kristus. Ia harus sungguh-sungguh menjadi Raja dalam segenap kehidupan kita. Ialah satu-satunya yang dapat menopang kita saat menghadap Bapa.
Hati kita harus menjadi takhta Kristus, agar kita siap menghadap Bapa.


Selesai membaca renungan ini,saya langsung ingat saat SMA dulu.Ketika saya dan dua teman melaksanakan tugas yang diberikan seorang guru.Kami harus meliput sebuah kegiatan seni. Seni apa saja. Lalu kami bertiga sepakat untuk pergi ke Taman Ismail Marzuki.Ada pameran lukisan di sana.
Yang saya ingat,ada 2 orang pelukis yang menggelar karya-karyanya.Dan salah satunya begitu menarik perhatian saya.Ada rasa penasaran yang mendesak saya untuk tahu jawabnya.Hampir semua lukisannya menggambarkan sesosok tubuh manusia yang terperangkap di sebuah tempat sempit. Persisnya seperti sebuah lubang kubur dengan tali-tali yang terentang di sudut-sudutnya.Tali-tali itu melilit dan menjerat sosok tadi.
Warna-warna lukisannya didominasi hitam dan putih.Bernuansa suram,sepi dan kelam.Memancarkan aroma kesunyian yang begitu kuat mendekap. Mencengkeram erat -satu sosok yang terisolasi sendiri.
Waktu saya tanyakan,sang seniman menjawab dengan lugas.Ringkasnya seperti ini: “Pada akhirnya,seorang manusia akan sendiri.
Jawaban itu menghentak saya,persis yang digambarkan renungan ini.Yah,dalam menghadapi kematian dan penghakiman Tuhan,tiap manusia harus menghadapinya sendiri karena tak ada lagi dusta atau harta yang dapat membela.Tak ada orang lain -bahkan seorang pengacara- yang bisa dibayar untuk mendampingi.
Tapi semudah itukah manusia menerimanya? Bukankah sekarang ini yang terjadi justru sebaliknya?Surga dan neraka cuma jadi sebuah ilusi,hanya sebuah dongeng semata. Anda tahu dan masih ingat seloroh ini: “Dosa itu tidak membuat ‘benjol’!”
Apalagi ketika kita terperangkap di dalam labirin itu: ketika kini,seringkali,seseorang dihargai dan dihormati bukan karena kebaikan atau kebajikannya tetapi karena penampilannya yang serbah “Wah”! Lantas tentu saja,’Kaya dan Mewah’ jadi tujuan dan impian utama.Yang lain? Cuma omong kosong!
Maka jangan terkejut bila di surat kabar ibukota -yang kebetulan saya baca- memuat berita: seorang wanita remaja rela menjual diri demi memiliki Hp BlackBerry.
Tapi pertanyaanya kemudian adalah: apakah saya mampu menghadapi’godaan dunia’ dan ‘tidak terjerat’ di dalamnya? Saya tahu itu memang tidak mudah! Dan renungan ini telah “menampar” saya kembali untuk sadar. Tak ada lagi yang dapat “menopang” saya ketika sang Malaikat Maut itu menunggu di pintu kehidupan saya.
Terima kasih atas renungannya,Salam damai!
Terima kasih banyak untuk sharing Sdr.Heri yang sangat berbobot. Sambil membaca saya membayangkan lukisan dan keadaan itu. Pasti itu lukisan yang hebat. Tuhan Yesus memberkati!