Sumber Ketenangan Bukan Harta
28 Januari 2012
Baca: Mazmur 73:25-26
Alkitab dalam setahun: Matius 5-6
Sering kita mendengar orang berkata bahwa yang penting hidup dalam ke¬tenangan. Ketenangan yang dimaksud pasti keadaan dimana tidak ada perselisi¬han, tidak ada ancaman dan masalah yang mengganggu jiwa. Pada umumnya atau bahkan bisa dikatakan hampir semua orang berusaha untuk memiliki kehidupan seperti itu. Jalan yang dipahami oleh hampir semua orang untuk mencapai ketena¬gan seperti itu adalah uang atau kekayaan materi, karena kekayaan materi dipan¬dang sebagai kekuatan yang prima di dunia hari ini. Uang bisa membeli aparat, uang bisa membeli keputusan hakim, uang bisa mengubah hukum, uang bisa membeli kedudukan, uang membuat seseorang terhormat dan disegani orang, uang bisa membeli dukungan politik dan lain sebagainya.
Tidaklah heran kalau fokus manusia tertuju kepada usaha bagaimana memiliki uang sebanyak mungkin. Semakin banyak uang, maka diperkirakan bisa menjadi lebih tenang, atau semakin besar kemungkinan untuk memiliki ketenangan. Menu¬rut Firman Tuhan bisa dipastikan orang seperti itu tidak akan pernah memperoleh ketenangan dalam arti yang sesungguhnya. Tuhan Yesus berkata agar kita berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung daripada kekayaannya itu” (Luk 12:15). Perkataan Tuhan Yesus ini tidak mungkin meleset. Orang yang menggan¬tungkan kekuatannya pada uang pasti akan binasa, artinya terpisah dari Allah. Kalau Tuhan berkemurahan kepada orang-orang tertentu, maka Tuhan mene¬gor orang tersebut dengan berbagai tegoran atau pukulan yang membuat ia sadar dan bertobat, tetapi kalau Tuhan membiarkan orang tersebut tanpa pukulan yang menyadarkan dirinya berarti orang itu pasti binasa. Hal ini dikemukakan dalam Mazmur 73:1-20.
Kalau Tuhan menegor dengan atau melalui suatu keadaan dimana uang tidak bisa menyelesaikan masalah bahkan sering menjadi sumber masalah berarti Tuhan menghendaki kita pulang kembali dalam pelukan persekutuan dengan diri-Nya. Oleh sebab itu kita jangan menunggu ditegor Tuhan dengan tegoran yang berat ba¬rulah mau mengakui bahwa hidup manusia tergantung pada Tuhan. Walau hari ini kita merasa bisa hidup tanpa Tuhan, tetapi harus memandang Tuhan dan mengakui bahwa kita tidak bisa hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan. Kita harus selalu ber¬gantung kepada Tuhan dalam segala hal dan mengakui bahwa segala kekuatan yang dapat kita miliki tidak bisa menjadi tempat perlindungan.
Ketenangan sejati bukanlah pada harta dunia ini, tetapi hidup dengan Tuhan.

