Setelah Memanggil Allah Sebagai Bapa

ENGLISH VERSION

18 Januari 2013

Alkitab dalam setahun: Kejadian 27-29

Mind Map Setelah Memanggil Allah Sebagai Bapa

Mind Map Setelah Memanggil Allah Sebagai Bapa

Satu pertanyaan penting yang harus dipersoalkan adalah mengapa setelah memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1 Ptr. 1:17)? Pertama, harus diingatkan bahwa setelah menjadi orang percaya, maka kita menjadi anggota keluarga Allah. Dunia ini bukan lagi menjadi rumah kita. Tuhan Yesus menyatakan beberapa kali bahwa kita bukan berasal dari dunia ini. Dunia hanyalah tempat menumpang. Orang percaya adalah musafir. Seorang bijaksana yang menyadari betapa singkatnya hidup ini pada suatu hari kedatangan tamu orang kaya. Betapa tekejutnya tamu itu ketika melihat ruang tamu rumah tersebut, hanya berisi tikar. Ketika tamu bertanya dimana perabotnya, ia malah menjawab dengan pertanyaan dimana perabot tamunya. Tentu saja tamunya mengatakan bahwa ia datang sebagai tamu, pendatang yang hanya mampir di rumahnya. Tuan rumah itu juga berkata, bahwa dirinya juga hanya mampir di rumah itu. Sebagai orang yang menumpang, kita harus fokus pada tujuan perjalanan. Tujuan perjalanan adalah Rumah Bapa. Sementara ada di dunia ini belajar memiliki gaya hidup anak-anak Allah. Agar kita layak masuk rumah Bapa. Usaha untuk memiliki gaya hidup anak Allah ini harus dimulai sekarang.

Kedua, setelah memanggil Allah sebagai Bapa, maka harus menjadi keluarga Allah yang bergaya hidup sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak Allah bukan sekedar status, tetapi sebuah keberadaan. Jangan berpikir bahwa setelah menjadi orang Kristen anda otomatis menjadi anak Allah yang terhisap sebagai anggota keluarga Allah.Kita harus berjuang untuk memiliki gaya hidup sebagai anak-anak Allah. Tuhan Yesus mengatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa di Sorga. Seperti Bapa artinya memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah Bapa (1 Ptr. 1:16). Petrus dalam suratnya menyatakan bahwa kita harus hidup dalam ketakutan artinya kita menjunjung tinggi panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Allah. Pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib dimaksudkan agar kita dapat ditebus dari cara hidup yang sia-sia (1 Ptr. 1:18). Kekristenan yang kita miliki tidak secara otomatis dan mistis mengubah hidup kita. Perubahan itu harus dilakukan dengan sengaja dan giat oleh setiap individu (1 Ptr. 1:13-16). Tentu saja Roh Kudus akan menolong kita berubah seperti yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Dalam hal ini gereja bertanggung jawab mengajarkan cara hidup yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Di sini seorang pelayan Tuhan, aktivis gereja dan setiap orang yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan harus menunjukkan teladan atau contoh kehidupan seorang yang bergaya hidup Kristus. Jika tidak, maka berarti gereja melakukan penipuan dan penyesatan.

Setelah memanggil Allah Bapa, kita harus berusaha memiliki  gaya hidup anak Allah

dan menyadari bahwa dunia bukan rumah kita.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

2 Responses to Setelah Memanggil Allah Sebagai Bapa

  1. alphonse says:

    Saya agak bingung dgn renungan hari ini, se olah2 masuk surga krn gaya hidup, padahal dibagian lain Alkitab mengatakan itu bukan hsl usaha kita tp anugerah. Bagaimana korelasinya ? Thanks

  2. admin says:

    Pak Alphonse,
    Bapak benar, bahwa keselamatan adalah karena anugerah. Setiap orang yang telah menerima keselamatan itu KEMUDIAN harus memiliki gaya hidup yang sesuai dengan gaya hidup Tuhan Yesus (tidak mengutamakan diri / dunia tetapi mendahulukan melakukan kehendak Bapa). Setiap orang yang mengaku percaya dan bertobat bersedia kembali ke rancangan awal pastilah memiliki gaya hidup yang benar.

    Jadi setelah menerima keselamatan seseorang harus mengerjakan keselamatan itu dengan takut dan gentar sepanjang sisa hidupnya,

    Semoga menjawab.

    Yesaya Christian Oenas (admin)