Segala Sesuatu adalah Sia-sia

11 April 2011

Baca: Pengkhotbah 3:1–15

Alkitab dalam setahun: Kisah Para Rasul 12–14

Mind Map Segala Sesuatu Adalah Sia-sia

Mind Map Segala Sesuatu Adalah Sia-sia

Pengkhotbah menggambarkan tragisnya hidup ini dengan kalimat, “Segala sesuatu adalah sia-sia” (Pkh. 1:22). Pengkhotbah, seorang raja keturunan Daud, yang juga seorang terhormat dan kaya-raya, mengakui bahwa kehidupan manusia yang telah jatuh dalam dosa ini tidak bernilai. Mengapa demikian? Sebab segala sesuatu ada waktunya; semua yang kita miliki akan berakhir. Kecantikan akan berakhir; kegagahan akan berakhir; kekayaan dan kemewahan akan berkahir; kebanggaan dan hormat akan berakhir; segala sesuatu akan berakhir. Itu pun kalau manusia beruntung dalam hidup ini, sebab kenyataannya lebih banyak orang yang tidak beruntung.

Kalau harus jujur, siapa pun kita pasti ada duri dalam dagingnya. Pasti ada cacat, persoalan atau apa pun yang membuat kita tidak memiliki kebahagiaan yang maksimal. Persoalan dapat berupa masalah ekonomi, kesehatan, keluarga, keamanan dan sebagainya. Setelah satu masalah berlalu, muncul masalah yang lain lagi. Namun masalah bisa mengingatkan kepada kita bahwa segala bumi yang penuh kesiasiaan ini bukan rumah kita. Masalah bisa menggiring kita untuk mencari Tuhan. Sampai suatu hari, walau tanpa masalah pun kita tetap mendahulukan Tuhan dalam segala hal dan melayani Dia.

Maka kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan anak-anak Tuhan, Ia tidak membuat semuanya serba mulus, sebab kemulusan hidup bisa membuat seseorang berbalik dari-Nya dan tidak mencari kerajaan-Nya. Kenyamanan bisa menjadi alat ampuh Iblis membunuh jiwa manusia.

Ini bukan berarti kita perlu mencari masalah; tetapi kalau Tuhan mengizinkan kita mengalami suatu masalah, kita harus menerimanya dengan tidak bersungutsungut, sebab di dalamnya ada sesuatu yang dikerjakan-Nya (Rm. 8:28). Ia ingin menanggulangi kekurangan atau cacat daam karakter kita.

Mulai sekarang, kalau kita menghadapi masalah, jangan lagi memohon agar masalah tersebut diangkat atau disingkirkan oleh Tuhan. Sebaliknya tanyakan kepada Tuhan, dalam masalah tersebut, apa yang dikehendaki Tuhan dalam hidup kita untuk diubah, dan mohon kekuatan agar kita dapat menghadapinya dengan bertanggung jawab. Saat kita menyelesaikan masalah tersebut, sebenarnya kita sedang dibentuk Tuhan. Ini bagian dari proses pengembalian kita kepada rancangan-Nya yang semula. Manfaatkan dunia yang tragis dan penuh kesia-siaan ini sebagai sekolah kehidupan yang mengajar kita menjadi pribadi yang dikenan Bapa.

Dalam setiap masalah yang diizinkan Tuhan terjadi atas diri kita,

Ia ingin menanggulangi kekurangan dalam karakter kita.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

3 Responses to Segala Sesuatu adalah Sia-sia

  1. Bintang says:

    Amin!!!! Briku Kuat-MU ya Tuhan agar ku mengerti rencana-Mu dalam hidup ku.

  2. rachel fnu says:

    AMIN

  3. DAVE says:

    Semoga Tuhan memberikan HikmatNya untuk memberikan kepada kita melakukan kehendakNya di bumi ini memberitakan Injil keselamatan ke seluruh dunia sampai hari kedatanganNYA tiba dan kita semua diangkat ke awan2 yg permai berjumpa dengan Tuhan Yesus Kristus dalam kemuliaanNya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>