Penduduk Asing
13 Januari 2012
Baca: 1 Petrus 1:17
Alkitab dalam setahun: Kejadian 12-15
Alkitab menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang menumpang di bumi ini (1Ptr. 1:17). Dalam teks aslinya kata menumpang disini adalah παροικία (parĪkÍa) yang artinya “penduduk asing” atau “orang yang singgah semen¬tara sebagai penduduk di tanah asing“; juga bisa berarti ”tinggal di negeri asing”. Sebagian besar atau hampir semua orang Kristen percaya mengenai hal ini. Tetapi masalahnya bukan sekadar percaya tetapi harus menyerahkan diri kepada yang dipercayainya tersebut. Ini paralel dengan hal iman. Kalau hanya percaya bahwa Allah itu ada, setan-setan pun percaya dan mereka gemetar; tetapi mereka tidak menyerahkan diri kepada Allah untuk tunduk dan melakukan kehendak-Nya. Se¬baliknya, mereka malahan memberontak melawan Allah.
Demikian pula dengan banyak orang, yang mempercayai bahwa di dunia ini hanya menumpang atau singgah sebentar, tetapi kehidupannya bertentangan den¬gan apa yang diyakininya tersebut. Mereka tidak menyerahkan diri kepada apa yang menurut mereka telah mereka percayai. Ini berarti mereka belum bisa dikatakan percaya. Kalau seseorang tidak belajar menerima realitas ini, suatu saat mere¬ka sampai pada satu level kehidupan dimana mereka tidak sanggup lagi untuk mengangkatnya. Di ujung maut mereka akan dipaksa pasrah menerima “nasib” yang sangat mengerikan, yaitu terpisah dari hadirat Allah selama-selamanya.
Irama hidup manusia pada umumnya menunjukkan seakan-akan perjalanan hidup ini tidak ada ujungnya. Hal ini nampak dari gejala-gejalanya. Pertama, mereka tidak bersungguh-sungguh menemukan tempatnya yang benar di hadapan Tuhan. Mereka tidak berusaha maksimal untuk mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya, sebab lebih banyak hal lain yang mereka anggap lebih penting untuk diusahakan lebih maksimal. Kedua, mereka berpikir bahwa untuk mengenal Tu¬han dan melakukan kehendak-Nya bukan hal yang sulit. Karenanya mereka merasa tidak perlu mengalokasikan waktu dan perhatian untuk itu. Banyak kegiatan lain yang dianggap penting dan mendesak. Sementara mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dijadikan sebagai kegiatan sambilan atau tambahan. Ketiga, mereka berpikir bahwa yang penting tidak bermaksud mengkhianati Tuhan. Padahal dengan gaya hidup tersebut mereka sedang mengembangkan hidup tidak setia kepada Tuhan.
Bagaimana dengan kita? Apakah hari ini kita juga memelihara gejala-gejala sep¬erti itu? Jika ya, segeralah berkomitmen untuk bertobat, sebab gejala tersebut bisa berujung pada pengkhianatan kepada Allah.
Hidup di dunia ini hanya menumpang sementara,
dan itu akan tercermin dalam kehidupan sehari-hari.


terima kasih u/ reminder nya,