Pembaringan Terakhir
2 Desember 2011
Baca: 2 Timotius 4:6–8
Alkitab dalam setahun: Wahyu 20–22
Setiap kita akan tiba pada pembaringan terakhir. Pembaringan terakhir adalah tempat tubuh kita direbahkan sebelum maut menjemput. Sebenarnya kita tidak pernah tahu di mana dan bilamana pembaringan terakhir kita tiba, sebab ada orang yang berbaring pada sore hari, esoknya sudah terbujur kaku tak bernyawa. Ternyata tempat tidur di rumah itulah pembaringan terakhirnya. Tidak sedikit orang yang pembaringan terakhirnya adalah jalan aspal, yaitu saat ia tergeletak di jalan raya oleh karena suatu kecelakaan. Ada pula yang pembaringan terakhirnya adalah kursi pesawat, kursi bus atau kapal saat kecelakaan terjadi.
Pernah seorang teman merasa dadanya sakit sewaktu mengendara mobil. Ia menepi, memarkir mobilnya dan mematikan mesin mobilnya. Seiring dengan berhentinya mesin mobilnya, berhentilah pula nafasnya. Ia meninggal terkena serangan jantung. Seorang rekan pelayan Tuhan sesudah turun dari mimbar berdoa untuk persembahan, duduk dan mengatakan dadanya sakit. Pendeta di sebelahnya sempat bercanda, “Baru berdoa untuk kolekte saja, dadanya sakit.” Sesaat kemudian ia terkulai dan Tuhan menjemputnya, melalui serangan jantung juga.
Renungkan dengan serius; kita pasti akan memiliki pembaringan terakhir. Pembaringan terakhir itu tidak bisa kita perkirakan, sebab sangat jarang Tuhan menunjukkan di mana pembaringan terakhir kita itu. Namun patut diingatkan di sini bahwa tempat pembaringan terakhir bukanlah suatu masalah. Juga bukanlah suatu masalah di mana Anda akan dikuburkan; bukanlah suatu masalah macam apa peti mati untuk jasad Anda nanti. Yang menjadi masalah adalah di mana roh dan jiwa kita berada setelah tubuh kita dikubur. Ironis sekali, sebab banyak orang mempersiapkan peti mati dan tanah makam sebelum meninggal, tetapi tidak mempersiapkan kepastian untuk kediaman roh dan jiwa setelah tubuh dikubur dan hancur bersama dengan tanah.
Bukannya menakut-nakuti Anda, tetapi jangan-jangan tempat tidur yang Anda gunakan untuk tidur malam ini adalah pembaringan terakhir Anda. Supaya Anda mempersiapkan diri untuk pembaringan roh dan jiwa Anda, tuliskanlah di pembaringan saudara: “Inilah pembaringan terakhirku.” Ini mengingatkan Anda agar lebih berjaga-jaga untuk bertemu dengan Hakim yang Adil, yang menghakimi semua orang.
Pembaringan terakhir tak dapat dihindari; untuk itu kita harus lebih berjaga-jaga.


Membaca renungan ini,saya ingat kejadian itu.Beberapa tahun yang lalu,saya saksikan jasad kakak saya dimandikan.Ia baru saja meninggal karena sakit.Padahal,tak lama sebelumnya, ia masih bisa berbicara di bangsal rumah sakit itu.
Itulah pertama kali saya melihat bagaimana akhir dari kehidupan seorang manusia.Seseorang yang telah mati.Pucat.Kaku dan beku.
Di tempat itu,saya tercenung dan termenung.Suatu saat nanti saya pun akan mengalami hal yang sama:terbujur di pembaringan terakhir.
Lalu saya bayangkan,apa yang akan saya katakan ketika Tuhan bertanya apa saja yang saya telah lakukan selama hidup ini?
Entahlah.Mungkin saya hanya membisu, tak mampu berbcara.Terlalu banyak kesalahan dan kekeliruan yang saya buat.Yang membuat Allah berduka dan barangkali murka.
Di kamar mayat itu,saya berjanji akan menjadi manusia yang lebih baik.Berjanji untuk menjauhi segala dosa dan salah. Klise memang.
Lalu waktu berlalu.Rutinitas kehidupan kembali berjalan dan menelan semua kejadian .Lalu seperti yang banyak dikatakan orang, bahwa manusia mudah lupa.Yah saya pun lupa dan kembali kepada perilaku lama.Berbuat salah dan dosa yang sama.(Barangkali karena itulah Tuhan membawa umat Israel menuju tanah perjanjian begitu lama)
Ketika saya membaca renungan ini,saya diingatkan kembali untuk mempersiapkkan “pembaringan saya yang terakhir”.Agar saya sungguh-sungguh mempersiapkannya.Dan hal itu pasti terjadi.Saya harus serius merubah hidup saya!
Bagaimanapun renungan ini telah mengingatkan kembali komitmen saya di ruang jenazah itu:untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Terima kasih Pak Erastus!
syalomm..