Momentum yang Dahsyat
5 Desember 2011
Baca: Matius 10:28
Alkitab dalam setahun: Daniel 7–9
Dalam kehidupan kita sesungguhnya tidak ada situasi yang lebih dahsyat daripada pembaringan terakhir sebelum kita menutup mata. Tidak ada pengalaman di bumi ini yang lebih menggetarkan daripada pengalaman manakala kita hendak melepaskan nyawa. Momentum transisi dari kefanaan menuju kekekalan itu amat dahsyat, sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ini bukan sesuatu yang hendak dilebih-lebihkan, tetapi memang karena begitu dahsyatnya momentum tersebut, kita tidak boleh main-main dalam hidup ini berkenaan dengan pertaruhan menentukan nasib kekal kita.
Kalau kita gagal dalam studi sehingga tinggal kelas, kita menyesal selama setahun. Kalau kita gagal dalam bisnis sehingga jatuh miskin, kita menyesal selama sepuluh tahun. Kalau kita gagal dalam rumah tangga, kita menyesal selama lima puluh tahun. Namun kalau kita gagal dalam persiapan nasib kekal kita, kita menyesal selama-lamanya. Jelaslah di perbatasan itu, manakala kita hendak bersentuhan dengan kekekalan, kita harus siap; bila tidak, kengerian dan ketakutanlah yang berkecamuk.
Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata agar kita tidak takut terhadap apa pun yang hanya bisa membunuh tubuh, tetapi tidak berkuasa membuang ke dalam api kekal. Yang harus kita takuti ialah Dia yang bukan hanya berkuasa membunuh tubuh, tetapi berkuasa membuang jiwa ke neraka. Itulah sebabnya kita harus mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Kalau tidak dicari dengan sungguh-sungguh, memang Kerajaan itu tidak kita temukan. Kerajaan kegelapanlah yang menanti.
Berbagai penyesalan akan timbul saat di pembaringan terakhir nanti: “Mengapa saya begitu workaholik, sehingga tidak ada waktu untuk belajar Firman Tuhan?”, “Mengapa saya beralasan ‘Jauh, macet, banjir, capek’ saat diajak datang ke Pendalaman Alkitab?”, “Mengapa saya lebih mementingkan hobi daripada mendengarkan khotbah?”, “Mengapa saya lebih memilih untuk tidak ketinggalan sinetron dibandingkan membaca tulisan-tulisan yang membangun iman saya?”, “Mengapa saya begitu perhitungan untuk berkorban harta bagi pekerjaan Tuhan?”, “Mengapa saya begitu sombong, rakus, egois, tidak menghargai sesama, tidak mengampuni?”
Sebelum terlambat, marilah kita bertobat sekarang juga. Jangan tunggu lagi, sebab momentum transisi yang dahsyat itu pasti kita alami. Sesal kemudian tiada berguna, apalagi penyesalan kekal akibat kesalahan dalam hidup kita, mendahulukan dunia dan mengabaikan keselamatan kita.
Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya harus dicari dengan sungguh-sungguh,
agar kita tidak menyesal kelak


Salah satu moment penting -bagi saya- dalam “misi penebusan” sang Anak Manusia adalah ketika Ia dicobai di padang gurun. Setelah berpuasa 40 hari.dalam keadaan lapar dan haus,Ia menghadapi si pencoba itu. (Saya bayangkan Ia berjalan gontai.Capek dan letih.)
Si iblis pun datang,berkata manis.Mencoba merayu.Dalam kondisi yang rapuh dan rentan itu (fisik dan jiwa),seorang manusia pasti akan mudah dipengaruhi.Mudah untuk dibujuk dan diperdayai.
Moment itu kian genting (dalam pandangan saya) ketika iblis melontarkan upayanya yang terakhir: mencoba “membeli” Yesus dengan barter seluruh isi dunia ini! Karena dalam ukuran kebanyakan manusia, hal itu adalah puncak prestasi – mampu meraih segala kenikmatan dunia.
Pada konteks zaman ini,isi dunia yang “ditawarkan” itu memang telah berubah “kemolekannya”.Di kala itu listrik belum ada.Namun kini,di malam hari lampu warna-warni menghiasai gedung-gedung tinggi.Gemerlap penuh
pesona. Mal-mal megah bermunculan dengan etalasenya yang “kinclong” dan ada tulisan “Sale” bergantungan di sana-sini.Tas-tas manis made in Italy menatap
“genit” untuk segera dibeli.Di sudut lain,jam tangan-jam tangan mewah bertahta intan berkilauan diterpa cahaya.
Di sebelah Mall besar ini,berdiri tegak apartemen-apartemen dengan fasilitsnya yang serba lux.Lalu tempat-tempat Spa yang nyaman dan memanjakan
tubuh.Atau ingin menikmati lezatnya sepotong steik seharga 200 ribuan?
Apakah salah bisa menikmati itu semua? Tentu saja tidak!
Namun moment yang paling menyedihkan saat seorang manusia menjual “iman” dan nuraninya untuk mendapatkan semua itu -sama seperti yang ditawarkan iblis dua ribu tahun lalu.
Dan di televisi siang itu,seorang artis cantik terkenal sedang menjawab pertanyaan-pertanyaan seorang wartawan entertainment.Wanita cantik itu bercerita dengan penuh antusias bahwa ia telah meninggalkan iman (Kristennya) yang dulu dan telah menemukan yang baru. Ringkasnya,pada “imannya” yang dulu ia merasa hampa dan yang baru itu luar biasa.
Saya merebahkan tubuh di kursi dengan banyak pertanyaan hinggap di kepala: Apakah artis cantik ini rajin berdoa? Rajin membaca Alkitab? Sesekali atau barangkali tak pernah? Atau ia lebih suka “nongkrong” di klub-klub malam sambil makan-makan.Ketawa-ketawa.Lalu hura-hura.
Atau barangkali ia butuh “sensasi baru” karena “ratingnya” sedang turun dan ia rindu sorot lampu,wawancara eksklusif dan muncul di halaman utama?
Atau mungkin “agamanya yang dulu” tak punya tempat di sinetron utama,apalagi dijadikan bahan cerita dan sebagai pemeran utama ia “rikuh” bila masih menyandang “agamanya yang dulu” -karena adegan-adegan cara berdoa di sinetron itu jauh berbeda.
Plak! Saya menepuk dahi sendiri.Saya tersadar.Saya tak pantas untuk menghakimi orang lain dan merasa diri paling suci.
Namun Moment penting dalam hidup saya ketika saya memiliki Kistus Yesus! Dia yang berdiri gagah dan tanpa ragu berkata: “Akulah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup itu!” Wow! Dahsyat!!!
Syalloomm