Memenangkan Jiwa yang Sejati
30 Januari 2012
Baca: Roma 9:1-3
Alkitab dalam setahun: Matius 9-10
Melakukan apa yang diingini Tuhan tidak cukup dengan perilaku yang ti¬dak melanggar hukum, juga bukan saja baik di mata manusia tetapi juga ter¬hormat, agung di mata Allah dan pasti memberkati semua orang. Filosofinya bukan “yang penting tidak merugikan orang lain”, tetapi bagaimana memberkati sesama. Memberkati sesama artinya bukan sekedar memberi mereka pakaian, makan cukup dan terlindungi, tetapi bagaimana mereka bisa bersama-sama dengan kita masuk Kerajaan Bapa di Surga. Hal inilah yang diingini oleh Bapa, sebab satu jiwa manusia selamat malaikat di Surga bersukacita. Tentu malaikat tidak akan bersukacita ka¬lau Bapa tidak bersukacita. Betapa indahnya kalau kita memperjuangkan kepuasan hati Bapa ini. Rumusnya adalah orang yang mengasihi seseorang adalah orang yang menyediakan nyawanya bagi orang tersebut. Kalau kita mengasihi Tuhan kita akan mempertaruhkan apa yang kita miliki demi kepentinganNya.
Kepentingan Tuhan adalah keselamatan jiwa-jiwa. Keselamatan jiwa-jiwa ditentukan oleh pengertiannya terhadap kebenaran. Itulah sebabnya arah pelayanan kami sudah mulai berubah sejak kami mengenal kebenaran ini, bukan hanya sekedar membuat berbagai kegiatan untuk menambah jumlah jemaat atau menga¬dakan kegiatan penginjilan ke berbagai daerah serta membantu pendeta dan jemaat yang tidak mampu. Tetapi bagaimana meneruskan kebenaran yang memerdekakan ini kepada semua orang sampai ke ujung bumi.
Sayang sekali, banyak orang berpikir bahwa memenangkan jiwa sama den¬gan menjadikan seseorang sebagai anggota salah satu gereja. Hal ini dikesankan demikian oleh sebagian pemimpin gereja dan persekutuan, sebab jumlah jemaat yang besar mendatangkan keuntungan materi atau paling tidak kesenangan hati. Itulah sebabnya mereka puas dengan jumlah jemaat tetapi tidak mengupayakan mengajar mereka kebenaran guna melayakkan menjadi anak-anak Allah. Yang di¬lakukan adalah bagaimana anggota gerejanya bertambah banyak, karena itu meru¬pakan baju kehormatan seorang pendeta atau pemimpin agama. Hal ini sebenarnya juga telah menyesatkan kami dulu, sebelum kami mengenal kebenaran yang murni. Tetapi sekarang setelah Tuhan membuka banyak kebenaran, menyadarkan kami un¬tuk memindahkan fokus hidup dan pelayanan. Apapun harus dipertaruhkan supaya satu demi satu mereka menjadi layak disebut sebagai anak-anak Allah, yaitu dengan cara mengajarkan kebenaran agar mereka menuju kesempurnaan Kristus. Inilah pelayanan yang benar.
Jadilah pelaku dan penyambung lidah kebenaran dimanapun anda berada,
itulah pelayanan yang benar.


Betu-Betu-Betul Seharusnya kita semua segera sadar diri.