Bukan Sekadar Yakin tetapi Tahu
4 Desember 2011
Baca: Ibrani 6:11
Alkitab dalam setahun: Daniel 4–6
Seperti apakah perasaan kita nanti saat berada di pembaringan terakhir? Keadaan seperti itu sulitlah untuk bisa kita bayangkan sekarang, sebab haruslah dialami langsung baru kita mengerti. Pikiran dan perasaan kita belum mampu membayangkan situasi itu. Tetapi yang jelas, situasi tersebut benar-benar mengerikan bila kita tidak siap untuk melepaskan nyawa. Tidak siap melepaskan nyawa artinya tidak memiliki kepastian keselamatan.
Kepastian keselamatan bukan hanya keyakinan bahwa kita akan diterima di kemah abadi Tuhan, melainkan memiliki pengalaman hidup bersama dengan Tuhan, bahwa kita telah mempertaruhkan hidup ini untuk berusaha memperoleh perkenan-an Tuhan dan melayani-Nya tanpa batas. Jika demikian, tak diragukan bahwa kita akan diterima-Nya sebagai sahabat-Nya.
Maka janganlah kita tertipu oleh ajaran atau doktrin yang mengajarkan bahwa cukup dengan memeluk agama Kristen, meyakini keselamatan kita dan percaya sepenuhnya bahwa kalau mati akan masuk surga, otomatis kita pasti masuk surga. Sepintas sepertinya ini mulia, padahal tidak. Ini menunjukkan bahwa seakan-akan kekuatan pikiran, keyakinan pikiran atau pengaminan akali belaka dapat menyelamatkan seseorang. Tidak ada bedanya dengan ajaran New Age.
Begitu mudahkan keselamatan itu? Dalam berbagai bagian dalam Alkitab dinyatakan bahwa keselamatan itu harus diperjuangkan (Flp. 2:12; Luk. 13:24 dan sebagainya). Berarti percaya yang benar bukan hanya dengan pikiran atau akal manusia, melainkan harus dibuktikan dengan respons berupa tindakan konkret.
Kalau saya mengunjungi rumah seorang sahabat dan dihidangkan segelas air, maka saya akan meminumnya tanpa sangsi. Kalau saya ditanya, “Yakinkah Saudara bahwa air yang Saudara minum itu tidak mencelakai Saudara?” Saya akan menjawab, “Saya bukan sekadar yakin, tetapi saya tahu. Saya sudah mengenal sahabat saya ini lebih dari dua puluh tahun. Tidak mungkin ia meracuni saya. Lagipula saya sudah sering datang ke rumah ini dan minum airnya. Saya tidak pernah celaka.”
Jadi jelas bahwa keselamatan haruslah lebih dari sebuah keyakinan pikiran. Kepastian keselamatan diperoleh dari pengalaman hidup konkret, dengan mengisi hari-hari hidup kita untuk mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Melalui pengalaman yang nyata dengan Tuhan, sama sekali tidak ada keraguan akan kehadiran-Nya. Saat di pembaringan terakhir, kita tidak perlu berusaha untuk memercayai Tuhan, sebab kita sudah sangat percaya; kita tahu.
Kepastian keselamatan diperoleh dari pengalaman hidup konkret, dengan
mengisi hari-hari hidup kita untuk mengenal Tuhan dan melakukan kehendak-Nya.


Apa yang saya baca hari ini,edisi 04 Desember 2011,menyeruakkan kembali kegundahan hati.Kegundahan itu seperti mencoba menerobos dan menembus sebuah ruang sempit,sesak dan hiruk-pikuk.Rasanya,tak ada tempat lowong untuk keluar dan mencapai titik terang di ujung sana.
Dari sekian banyak khotbah yang saya dengar di radio,televisi atau di tempat lain,bagi saya pribadi, sangat sedikit yang “mengungkapkan” ajaran kebenaran itu. Dari yang sedikit itu,Pak Erastus adalah satu diantaranya. Maaf, ini bukan “gombal” atau ingin mencari Muka.Namun dari hati kecil,saya bisa merasakan ketulusan dan keberanian Beliau. Isi khotbah-khotbahnya seringkali menyakitkan untuk didengar,namun bukankah kebenaran itu seringkali pahit dan menyakitkan?
Memang,khotbah seorang Pendeta bisa diperdebatkan -dan bisa sangat subyektif -dan tergantung siapa yang mendengarkan. Namun yang pasti,dan ini membuat saya sedih,kini ada gereja yang memberikan hadiah doorprize untuk untuk mengundang umat datang.Lalu ada gereja-gereja yang dikomersilkan begitu rupa.Begitu nyata.Tanpa malu-malu.Inikah “cara baru” dalam Pengabaran Injil? Atau mengikuti “trend” yang sedang berkembang? Saya tidak tahu jawabnya.
Yang kemudian membuat saya terperangah,ketika seeorang bangga mengaku Kristen dan bangga pula dengan bisnisnya sebagai “Rentenir”.Meribakan uang dengan bunga sangat tinggi! (Ironisnya ia juga menjadi pengurus gereja.) Lalu ada peristiwa,saat aeeorang berdiri dan berdoa di depan saklar listrik yang rusak agar lampu bisa menyala.Atau seorang wanita begitu repot dan riuh berdoa karena temannya tertusuk jarum jahit.
Inikah hasil dari “pengajaran yang salah” itu?
Kegundahan itu kian merebak,saat saya bayangkan seorang wanita tua dengan rambutnya yang sebagian memutih,dengan pakaian sederhananya,duduk di pojok dengan doanya yang tulus.Lalu di luar,sekelompok anak-anak berlari riuh,bersemangat memasuki ruang untuk mengikuti sekolah Minggu. Adakah mereka mendapatkan “Pengajaran yang benar” di situ? Dan kian mendekatkan mereka dalam “Kebenaran” itu? Atau sebaliknya? Meskipun tempat itu diberi nama “Gereja”? Ah,kembali saya tak tahu jawabnya.
Salam kasih Kristus untuk semua.
kadang kala yg menjadi kendala bagi kita anak2 Tuhan adalah menjaga agar hati, pikiran dan kehendak kita agar tetap fokus terarah ke Bapa di Surga.