7 Agustus 2014: Kehausan Akan Allah Yang Semu

Tidak semua yang membutuhkan Tuhan berarti memiliki kehausan akan Allah. Terdapat banyak alasan untuk merasa membutuhkan Tuhan. Paling tidak semangat keberagamaan juga sudah cukup membuat seseorang merasa haus akan Tuhan. Semangat keberagamaan ini yang sering menyesatkan banyak orang baik, khususnya orang yang ada di ladang pelayanan pekerjaan Tuhan. Suasana kegiatan pelayanan akan mengkondisi seseorang seakan- Akan merasa haus akan Tuhan. Ini adalah kehausan akan Allah yang semu. Padahal kehausan seperti itu belumlah kehausan yang memenuhi kepuasan hati Allah. Hati manusia itu licik (Yer. 17:9). Banyak orang Kristen yang ditipu oleh kelicikan hatinya atau karena kebodohannya atau oleh kesombongan rohaninya, yaitu orang-orang yang merasa sudah rohani dan merasa puas dengan tingkat kerohanian yang telah dimilikinya. Mereka memang memiliki “semacam” kehausan akan Allah, tetapi kehausan yang terbatas. Padahal Untuk Tuhan kehausannya haruslah kehausan yang sangat mendalam, artinya Menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya kebutuhan dalam hidup ini yang tidak tergantikan dengan apapun dan siapapun selamanya. Tanpa disadari tidak sedikit gairah duniawi banyak orang Kristen Bersembunyi di balik perasaan “haus akan Allah” yang semu tersebut. Mereka bukan orang-orang yang jahat, tetapi orang-orang baik di gereja yang masih mau hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia. Dalam hal ini memang dibutuhkan pencerahan kebenaran Firman Tuhan yang benar-benar kuat untuk bisa mengenali kamuflase tersebut. Ciri dari orang-orang seperti ini adalah tidak berani mengasihi dan membela Tuhan tanpa batas. Mereka adalah orang-orang baik dalam gereja, tetapi tidak menjadikan Tuhan kekasih secara proporsional. Selama seseorang masih memiliki suatu kepentingan maka tidak Memiliki kehausan yang benar dan murni akan Allah. Ini berarti seharusnya semua kepentingan kita adalah kepentingan Tuhan atau kehendak-Nya untuk memenuhi rencana-Nya. Tuhan Yesus membahasakannya dengan kalimat makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan- Nya (Yoh. 4:34). Kalau orang berprinsip sama dengan Tuhan Yesus berarti mengerti apa artinya menjadi anak tebusan (2Kor. 5:14-15). Nafas hidupnya adalah perjuangan untuk mengabdi kepada Tuhan yaitu bagi kepentingan Kerajaan Allah.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.