5 Agustus 2014: Berlabuh Pada Tuhan

Banyak orang Kristen merasa sudah berlabuh di dalam Tuhan, padahal mereka belum berlabuh sama sekali. Mereka hanya berlabuh di gereja tetapi tidak berlabuh di dalam Tuhan. Berlabuh di dalam Tuhan pada dasarnya adalah berlabuh di hati Tuhan. Inilah persoalan terbesar dalam kehidupan kekristenan kita: Apakah kita sudah mendapatkan tempat di hati Tuhan atau sudahkah kita menempatkan hati kita pada Tuhan? Harus dipahami bahwa tidak semua orang Kristen telah mendapat tempat di hati Tuhan sebagai kekasih- Nya atau mempelai- Nya. Memang semua orang bisa mempunyai tempat di hati Tuhan sebagai anak-anak-Nya. Tetapi tidak banyak orang Kristen yang sungguh- sungguh berjuang guna menempatkan dirinya di hati Tuhan. Mereka tidak sungguh-sungguh menempatkan Tuhan di hatinya, sebab hatinya sudah dipenuhi dengan berbagai keinginan-keinginan duniawi untuk memiliki dan menikmati keindahan dunia ini. Pada dasarnya orang-orang ini tidak berlabuh pada Tuhan. Hanya orang yang berlabuh pada Tuhan yang memiliki tempat di hati Tuhan. Sesungguhnya tidak banyak orang yang memiliki kesempatan mengenal Allah Bapa dan masuk persekutuan dengan diri-Nya. Orang-orang yang memiliki kesempatan untuk mengenal Bapanya ini adalah orang Kristen yang berani melabuhkan hidupnya pada Tuhan dengan suatu keyakinan bahwa hanya Tuhan perhentian kita (Mat. 11:28-29). Berlabuh pada Tuhan bukan masalah menjadi Kristen yang harus ke gereja semata-mata atau menjadi aktivis. Berlabuh pada Tuhan juga tidak cukup hanya menjadi seorang pendeta. Ini masalah hati atau bathin. Berlabuh pada Tuhan adalah kesediaan tidak memiliki apapun dan siapa pun kecuali Tuhan sendiri. Berlabuh pada Tuhan adalah kesediaan untuk tidak memiliki kesukaan atau kesenangan apapun kecuali bersama dengan Tuhan. Orang yang berlabuh kepada Tuhan adalah orang yang selalu berusaha melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Semua yang diusahakan adalah untuk kepentingan Tuhan. Tuhan pasti menuntun bagaimana menikmati semua yang kita peroleh tanpa melukai perasaan Tuhan. Orang yang berlabuh pada Tuhan akan terus mendesak untuk bisa mengalami secara riil Tuhan yang Tidak kelihatan, agar menjaid nyata dalam hidup. Orang yang berlabuh pada Tuhan pasti sangat merindukan bertemu dengan Tuhan. Baginya dunia ini benar-benar hanya tempat persinggahan sementara. Ia bisa menghayati jiwa kemusafiran dengan benar.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.