4. Menjadi Sama Dengan Kematian Tuhan

MENJADI SAMA DENGAN Tuhan dalam kematian-Nya berarti usaha untuk mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah dalam diri seseorang. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi dan ambisi pribadi, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini berarti rela kehilangan segala hak demi Tuhan. Semua ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup Kekristenan yang benar. Jadi sebelum kita mati secara fisik dan dikubur, maka kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama.

Proses kematian manusia lama mendahului kelahiran baru yang Tuhan berikan atau bisa berjalan secara bersamaan. Dalam Tuhan Yesus kita menjadi ciptaan yang baru (a new creature atau a new being). Alkitab sebutkan bahwa kita telah dilahirkan oleh Allah.1 Kita tidak boleh menganggap hal ini sebagai hal biasa sehingga kita mengabaikannya. Kita harus menganggap hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Oleh anugerah-Nya kita bisa dilahirkan oleh Allah dengan natur baru. Dilahirkan oleh Allah adalah anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Tentu hal ini terjadi oleh karena pengorbanan Tuhan Yesus Kristus. Sebab oleh penebusan-Nya-lah kita dijadikan sebagai anak-anak Allah. Pengangkatan sebagai anak disahkan dengan materai yaitu Allah menaruh Roh Kudus dalam diri kita.2 Menjadi anak-anak Allah yang penting bukan saja kita berstatus anak Allah dimana kita memiliki jaminan pemeliharaan, perlindungan dan berkat-berkat-Nya, tetapi kita juga memiliki kodrat baru atau natur baru. Roh Kudus selain berfungsi sebagai materai, juga sebagai pendamping yang membawa kita bertumbuh dalam natur baru, dimana kita sampai kepada kematian diri sendiri melalui proses panjang. Ini adalah proses mati sebelum mati.

Panggilan untuk mengalami kematian diri sendiri sama dengan apa yang dikemukakan Paulus: menjadi sama dengan kematian Tuhan Yesus. Hal ini berlaku bagi semua orang percaya.3 Serupa dengan Dia dalam kematian-Nya pada dasarnya adalah kehidupan yang ditujukan untuk kepentingan kerajaan Allah sepenuhnya. Kata mati dalam teks aslinya di sini adalah thanatos (θάνατος) kata yang sama digunakan dalam Kolose 3:3; bahwa kita telah mati. Thanatos hendak menunjukkan terpisahnya tubuh dari roh. Mengapa Alkitab memilih kata thanatos? Sebab kata ini hendak menunjukkan bahwa setelah menjadi anak Tuhan maka tujuan hidup kita dibedakan dari anak-anak dunia. Kalau dahulu tujuan hidup kita sama dengan anak dunia, maka sekarang harus berbeda. Memang pemisahan ini tidak terjadi dalam satu hari tetapi melalui proses panjang. Maka pembaharuan pikiran -dimana kita tidak sama dengan dunia ini- harus terjadi setiap hari.4 Dalam hal ini hanya Firman Tuhan yang dapat memisahkan.5

Pemisahan ini berlangsung secara bertahap, tetapi pasti. Dalam proses ini dibutuhkan keaktifan masing-masing individu. Ini bukan sesuatu yang dapat terjadi secara otomatis, tetapi harus sungguh-sungguh diusahakan dengan sangat serius. Seberapa jauh seseorang mengalami pemisahan dari dunia ini dan manjadi manusia baru, tergantung kepada usaha masing-masing individu. Dari hal ini akan nampak keseriusan seseorang berurusan dengan Tuhan dalam meresponi anugerah Allah. Menjadi kesalahan yang fatal kalau seseorang berpikir bahwa manusia tidak perlu berusaha memberi respon, sebab semua dikerjakan oleh Tuhan berdasarkan penentuan-Nya. Padahal Paulus jelas sekali mengatakan “yang kukehendaki… aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”.6 Pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa untuk menjadi serupa dengan Tuhan dalam kematian-Nya seseorang harus memiliki niat atau tekad dari diri sendiri dan mengusahakannya. Selanjutnya Paulus juga berkata “…tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.7

1) Yohanes 1:13 ; 2) Efesus 1:13; 3) Filipi 3:10; 4) Roma 12:2; 5) Ibrani 4:12 ; 6) Filipi 3:10 ; 7) Filipi 3:13-14

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.