4 Januari 2015: Lebih Dari Orang-Orang Yang Menang

Banyak orang Kristen diajar oleh pembicara-pembicara yang tidak mengenal kebenaran untuk meyakini keadaannya sebagai umat pemenang. Keyakinan tersebut dibangun bertahun-tahun sampai mereka merasa dengan sangat kuatnya bahwa mereka sungguh-sungguh adalah umat pemenang. Tentu saja mereka mendasarkan keyakinan tersebut pada ayat Alkitab, khususnya dalam Roma 8:37. Ini adalah sebuah kesalahan. Orang-orang Kristen tersebut tidak mengerti bagaimana memahami ayat Alkitab. Seharusnya untuk memahami makna orisinil suatu ayat, kita harus memperhatikan dengan teliti latar belakang konteks ayat tersebut. Roma 8:37 tersebut tidak ditujukan kepada semua orang Kristen secara sembarangan. Ayat tersebut hanya ditujukan untuk jemaat Roma atau orang-orang Kristen yang memiliki kesetiaan seperti jemaat Roma. Walaupun mereka kehilangan segala sesuatu tetapi demi iman kepada Tuhan Yesus mereka tetap setia.

Pada waktu itu orang-orang Kristen di Roma mengalami aniaya hebat dari berbagai pihak antara lain dari pihak orang Yahudi yang menganggap kekristenan adalah bidat atau ajaran sesat dan orang-orang non Yahudi yaitu penduduk Roma yang mendengar fitnah dari juru bicara kekaisaran Roma bahwa orang Kristen telah membakar kota Roma serta kekaisaran Roma yang memandang Kekristenan kelompok yang berbahaya sebab memiliki raja atau penguasa sendiri yaitu Kurios Yesus. Orang-orang mengalami keadaan yang sangat berat. Hak kewarganegaraan mereka dicabut, mereka ditangkap untuk dipenjara, dimasukkan ke dalam kandang binatang buas untuk menjadi umpan, dibakar hidup-hidup bahkan disalib. Di mata masyarakat, orang-orang Kristen pada waktu itu adalah orang-orang yang kalah, dibanding dengan penduduk Roma yang secara lahiriah, kekayaan materi dan kehormatannya lebih dari mereka.

Pada mulanya surat Paulus yang memuat ayat tersebut ditujukan hanya untuk orang-orang Roma yang menghadapi aniaya yang hebat dari kaisar Roma pada sekitar tahun 57. Besar kemungkinan surat ini ditulis Paulus di Korintus beberapa tahun sebelum Paulus mengalami hukuman pancung oleh kekaisaran Romawi. Paulus mengatakan bahwa “kita lebih dari pada orang-orang yang menang”. Kata “kita” dalam tulisannya adalah orang-orang Roma termasuk diri Paulus sendiri. Paulus menguatkan hati jemaat dengan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang. Sangat naif, kalau orang Kristen sekarang yang tidak memiliki kesetiaan seperti orang Kristen di Roma, menyamakan diri dengan mereka dengan mengaku sebagai pemenang. Banyak orang Kristen merasa bahwa dirinya sudah menjadi pemenang pada hal tidak pernah bergumul dengan benar untuk memiliki kemenangan seperti jemaat Roma.

Orang Kristen pada waktu itu menjadi warga masyarakat yang tertindas, rendah dan di ”persona non grata” kan (tidak disukai). Hidup mereka selalu terancam. Orang-orang yang memusuhi mereka seakan-akan tampil sebagai orang-orang yang menang. Tentu saja dengan kondisi ini orang Kristen merasa bahwa diri mereka sebagai orang-orang yang “kalah”. Tetapi Paulus menegaskan bahwa mereka, termasuk Paulus sendiri, adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang. Lebih dari orang-orang yang menang bukan menang secara politik, finansial, kekuasaan, penampilan lahiriah dan segala sesuatu secara duniawi dan materi, tetapi lebih dari orang-orang Roma dalam hal memiliki Tuhan Yesus yang akan memerintah sebagai Raja suatu hari, dikasihi oleh Tuhan sehingga tidak ada yang dapat memisahkan mereka dari kasih-Nya.1 Tuhan Yesus mengasihi mereka dengan mati di kayu salib. Selanjutnya perhatian Tuhan nyata dalam bentuk mengijinkan mereka dalam aniaya, supaya melalui keadaan itu dibentuk agar menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus. Pada akhirnya mereka diperkenan untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus.

1) Roma 8:33-39

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.