30 Desember 2014: Keteladanan Yang Luar Biasa

Tuhan Yesus adalah Allah yang memiliki segala kemuliaan, kekuasaan dan kehormatan sebagai Allah Yang Mahatinggi. Dia yang menciptakan bumi ini dengan segala isinya (Yoh. 1:1-3). Kesediaan meninggalkan takhta kemuliaan-Nya adalah kerelaan kehilangan hak-hak-Nya. Dalam sejarah kehidupan Tuhan Yesus selama dalam dunia ini dengan memakai tubuh daging seperti manusia, Ia menampilkan kehidupan yang diwarnai dengan penderitaan baik secara fisik maupun psikis, yang semua itu merupakan ekspresi dari kerelaan kehilangan hak-hak-Nya. Tuhan Yesus terhina di antara manusia, hal ini menunjukkan kerelaan-Nya kehilangan kehormatan. Ketika Maria mulai mengandung, Yusuf tunangan Maria sudah berprasangka bahwa kehamilan Maria adalah aib. Itulah sebabnya Yusuf dengan diam-diam hendak meninggalkan Maria (Mat. 1:18-19). Ini berarti tuduhan yang ditujukan kepada bayi Yesus adalah “anak haram”. Dari hal ini, Anak Allah yang akan lahir, bagian dari proses inkarnasi-Nya sudah tidak memiliki kehormatan, padahal Ia adalah pribadi yang paling terhormat. Tentu proses ini sudah ada dalam pengetahuan Tuhan sebelum berinkarnasi. Dalam perjalanan hidup-Nya selama tiga setengah tahun, Ia juga telah kehilangan kehormatan-Nya di mata sebagaian besar orang-orang Yahudi. Dalam suatu kesempatan Ia dituduh sebagai orang gila (Mrk. 3:21), juga dituduh menggunakan kuasa Beelzebul dalam mengusir setan (Luk. 11:15). Dengan tuduhan tersebut, maka Yesus telah didakwa sebagai kerasukan setan. Kehormatan-Nya di mata manusia menjadi hancur sama sekali ketika Ia harus menghadapi pengadilan Pilatus, Imam Besar dan Herodes (Mat. 26:48-75). Penduduk Yerusalem meneriakkan seruan yang sangat menyakitkan, agar Yesus disalibkan. Akhirnya Ia disalib dengan tuduhan sebagai penghujat Allah dan penyesat rakyat agar melawan Kaisar. Ia disalib dengan penilaian publik sebagai penjahat besar dan dipandang sebagai terkutuk (Gal. 3:13). Dalam hal ini jelas bahwa Ia merelakan kemuliaan-Nya hilang untuk sementara waktu. Yesus benar-benar rela kehilangan reputasi, harga diri dan prestise. Dalam suatu percakapan Yesus berkata: ”Sebab siapakah yang lebih besar: yang duduk makan, atau yang melayani? Bukankah dia yang duduk makan? Tetapi Aku ada di tengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Luk.22:27). Dari pernyataan Tuhan Yesus ini jelas sekali menunjukkan bahwa Ia rela kehilangan hak kehormatan yang dimiliki-Nya sebagai Tuhan yang datang dari tempat Yang Mahatinggi. Ekspresi kerelaan kehilangan hak dihormati manusia juga ditunjukkan dengan tindakan-Nya mencuci kaki murid-murid-Nya dalam suatu perjamuan terakhir sebelum Yesus menghadapi penderitaan-Nya (Yoh. 13). Tindakan pembasuhan kaki sungguh mengejutkan. Sikap Tuhan Yesus yang merendahkan diri sedemikian rupa itu, menunjukkan bahwa Dia adalah hamba yang sempurna. Paulus sebagai model seorang pelayan Tuhan juga telah menunjukkan kerendahan hatinya sebagai pemimpin yang melayani, mengemukakan kesaksian hidupnya bahwa ia rela menjadi hamba bagi semua orang karena Kristus (1Kor. 9:19). Seseorang yang mau melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain harus rela menjadi hamba yang direndahkan dan kehilangan kehormatan. Sikap hati seperti Tuhan Yesus adalah sikap hidup yang harus diteladani oleh setiap pengikut-Nya. Mereka harus rela kehilangan kehormatan di mata manusia demi tugas yang harus diemban. Tidak ada sesuatu yang boleh dijadikan nilai lebih dalam kehidupan seorang pemimpin yang melayani yang oleh karenanya ia merasa memiliki hak untuk menjadi terhormat.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.