3. Kematian Jalan Kemenangan

DALAM ALKITAB KITA menemukan usaha Iblis menghindarkan dan mencegah Tuhan Yesus dari kematian di kayu salib. Tetapi Tuhan Yesus dalam integritas-Nya yang tinggi tetap taat dan setia pada tugas yang Allah Bapa percayakan sampai mati di kayu salib. Pada akhirnya, Iblis pun tidak bisa menghindarkan Tuhan Yesus dari kematian. Sebagaimana Iblis melukai Ayub dengan sakit penyakit, ia juga melukai Tuhan Yesus dengan siksaan sampai kematian Tuhan Yesus. Kematian di kayu salib berarti sebagai “yang terkutuk” tergantung antara langit dan bumi.1 Dengan kematian-Nya sebagai “yang terkutuk”, maka semua kutuk bisa dicabut atau dipatahkan. Kematian Tuhan Yesus dapat mematahkan segala kutuk (hukuman), sehingga manusia dibebaskan dari segala kutuk.

Kematian Tuhan Yesus di kayu salib dalam ketaatan kepada Bapa adalah kematian yang sangat mengerikan bagi Lusifer. Dengan ketaatan-Nya sampai kematian dapat membuktikan Iblis bersalah dan hukuman atas Iblis dapat dijatuhkan. Ada semacam “rule of the game” dalam pergulatan antara Kerajaan Terang dan kerajaan kegelapan. Kalau ada yang bisa melakukan kehendak Bapa dengan sempurna berarti kesalahan Lusifer dapat dibuktikan. Tetapi kalau tidak ada yang bisa membuktikan, maka Lusifer tidak terbukti berbuat kesalahan. Ini berarti kemenangannya. Dengan demikian Iblis bisa menguasai sebagian atau seluruh jagad raya, manusia dan Tuhan Yesus Kristus sendiri.

Manusia yang juga disebut sebagai Adam terakhir yang menjadi “jago” Allah Bapa yang sesungguhnya adalah Tuhan Yesus. Ia menjadi pertaruhan untuk bertarung melawan Lusifer. Kalau Tuhan Yesus gagal, maka tidak bisa dibayangkan betapa rusaknya jagad raya ini. Bisa-bisa surga dan bumi dalam kekuasaan Lusifer. Ini berarti Iblis bisa menjadi “Bintang Timur:” artinya akan memiliki kekuasaan baik di surga maupun di bumi. Tetapi ternyata, Tuhan Yesus lah yang memenangkannya sehingga segala kuasa diberikan ke dalam tangan-Nya.2

Kemenangan Tuhan Yesus membuahkan hak untuk memproklamirkan suatu fakta bahwa segala kuasa di surga dan di bumi ada dalam tangan-Nya. Sejak itu Iblis tidak bisa bertahan di surga seperti zaman Ayub.3 Kekuasaan suatu pemerintahan kekal telah berdiri, Tuhan Yesuslah Penguasanya. Dengan demikian, sejatinya, sebutan Kristus (Yang Diurapi) menjadi sah bagi Tuhan Yesus setelah kematian-Nya. Jadi, tidak ada pengurapan sebagai Kristus bagi Yesus tanpa kematian-Nya. Dalam hal ini betapa berartinya kematian Tuhan Yesus Kristus bagi surga dan bumi; bagi penduduk surga, para malaikat yang kudus dan manusia di bumi. Dalam hal ini kematian adalah jalan menuju pengurapan sebagai Tuan (Yun. Kurios).

Kalau seandainya Tuhan Yesus kalah, berarti tidak ada keselamatan atas umat ciptaan-Nya. Kalah di sini maksudnya bahwa Tuhan Yesus gagal hidup dalam ketaatan yang sempurna kepada Bapa di surga.4 Kalau Tuhan Yesus tidak taat kepada Bapa sampai mati, berarti Ia kalah atau gagal. Sebagai akibatnya, cita-cita Lusifer untuk bisa berkuasa menyamai Allah dapat tercapai. Inilah yang memang diingini dan terus diupayakan oleh oknum jahat tersebut. Dalam hal ini betapa berat beban yang dipikul oleh Tuhan Yesus. Ia harus menang untuk menjadi Tuhan “bagi kemuliaan Allah Bapa”.5 Untuk ini maka Tuhan Yesus harus menang untuk merebut hak dan gelar “Bintang Timur”.

Nyatalah bahwa fakta kematian haruslah dialami oleh Tuhan Yesus, sebab kematian-Nya adalah jalan menuju kemenangan. Kematian Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang mengurangi supremasi-Nya sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Seperti pertanyaan yang bernada sindirian: Kalau Dia adalah Allah sendiri mengapa bisa mati? Justru di sinilah letak keunggulan-Nya. Allah menjadi manusia seratus persen yang bisa mati. Tanpa kematian-Nya, tidak akan pernah ada keselamatan. Hal ini tidak bisa dimengerti oleh mereka yang tidak memahami seluk beluk karya penyelamatan versi Alkitab; versi Allah yang benar.

1) Galatia 3:13 ; 2) Wahyu 22:16 ; 3) Wahyu 12:10-11; 4) Ibrani 2:9 ; 5) Filipi 2:11

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.