3 Januari 2015: Tidak Untuk Semua Orang

Dewasa ini begitu mudah banyak orang Kristen mengklaim dirinya sebagai umat pemenang. Hal ini disebabkan oleh karena banyak pembicara-pembicara Kristen dan para pemimpin puji-pujian dalam kebaktian yang mengajarkan bahwa semua orang yang mengaku percaya berarti sudah menjadi umat pemenang. Seakan-akan menjadi umat pemenang adalah sesuatu yang otomatis melekat pada diri mereka setelah mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka juga diajar untuk menunjuk orang lain sesama orang Kristen di dalam gereja sebagai umat pemenang. Ironisnya, mereka tidak memahami apa yang dimaksud oleh Alkitab dengan “lebih dari orang-orang yang menang”. Tentu saja keadaan ini membuat orang-orang Kristen terbiasa mengucapkan kalimat tersebut sebagai pengakuan atas hal-hal yang mereka sendiri tidak memahaminya secara jelas. Masing-masing orang Kristen bisa memiliki pengertiannya sendiri-sendiri, sehingga sebenarnya terjadi kekacauan pengertian atau konsep tanpa disadari oleh banyak orang. Seharusnya keadaan ini disadari oleh gereja sehingga jemaat disadarkan terhadap kebodohan mereka. Tetapi kalau pemimpin gereja sendiri tidak mengerti kebenaran, maka semua menjadi sesat.

Kalau hal tersebut di atas terus berlangsung maka akan menciptakan orang-orang Kristen yang bodoh, tetapi tidak menyadari kebodohonnya; orang-orang yang tidak mengerti kalau mereka sebenarnya tidak mengerti. Mereka merasa mengerti apa yang sebenarnya mereka tidak mengerti. Hal ini membangun pemikiran bahwa seakan-akan setiap orang berhak memiliki pengertiannya sendiri dan sejahtera atau nyaman dengan apa yang dianggap sebagai kebenaran dalam dirinya. Harus diingat bahwa kebenaran-lah yang memerdekakan.1 Kalau sesuatu yang bukan kebenaran diakui sebagai kebenaran dan mereka merasa sejahtera dalam ketidakbenaran tersebut, itu berarti mereka memarkir diri mereka di penjara atau belenggu. Hal ini sama dengan memarkir diri di neraka. Sejatinya,  keadaan ini adalah sebuah penyesatan yang sangat membahayakan yang harus disadari oleh pemimpin-pemimpin gereja, supaya mereka berantisipatif terhadap keadaan tersebut. Menyedihkan, banyak pemimpin-pemimpin gereja yang merasa bahwa dirinya sudah tahu kebenaran, bahkan merasa sudah hidup di dalamnya sebagai hamba-hamba Tuhan yang berkenan di hadapan Tuhan, padahal belum. Betapa sulitnya menyadarkan mereka.

Jadi, banyak orang Kristen sudah merasa sebagai umat yang lebih dari orang-orang yang menang dengan dasar bahwa mereka sudah percaya kepada Tuhan Yesus. Sementara itu mereka tidak mengerti arti percaya yang benar itu. Pada umumnya percaya mereka baru sampai level percaya kepada “sejarah kehidupan Tuhan Yesus”. Betapa mudahnya untuk memercayai sesuatu secara akali dalam aktivitas pikiran. Percaya berarti menyerahkan diri sepenuh kepada kehendak obyek yang dipercayainya, dalam hal ini Tuhan Yesus. Sejatinya percaya yang benar berarti mengikuti jejak kehidupan Tuhan Yesus, artinya hidup sama seperti Dia hidup. Jika tidak, berarti belum dikategorikan percaya. Kalau ada gereja mensahkan seakan-akan orang Kristen yang hanya percaya secara akali berarti sudah memiliki percaya yang benar, gereja tersebut menyesatkan. Hal ini sama dengan memarkir jemaat di neraka. Justru sebutan Kristen kepada orang percaya dimaksudkan bahwa orang percaya harus memiliki kelakuan seperti Tuhan Yesus. Pada akhirnya, orang yang mengikuti jejak Tuhan Yesus atau hidup seperti Tuhan Yesuslah yang pantas disebut sebagai umat yang lebih dari orang-orang yang menang; Tuhan Yesus yang taat sampai mati bahkan mati di kayu disalib. Kesetiaan kepada Bapa menuntut pertaruhan segenap hidup. Oleh sebab itu hendaknya tidak dengan mudah orang percaya mengklaim dirinya sebagai pemenang dan menunjuk orang lain juga sebagai pemenang. Kemenangan seseorang sangat ditentukan oleh kualitas hidupnya dalam menuruti kehendak Bapa.

1) Yohanes 8:31-32

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.