3 Agustus 2014: Mengalami Tuhan Secara Riil

Tidak mungkin Abraham tidak mengalami Tuhan secara riil sampai ia berani melangkah menuruti kehendak Tuhan dengan setia. Tindakan secara iman yang Abraham lakukan harus diakui sebagai tindakan nekad yang luar biasa dalam ukuran umum. Memang ada orang-orang yang dapat melakukan tindakan nekad demi apa yang dipercayainya, seperti tindakan teroris yang melakukan bom bunuh diri. Bedanya dengan Abraham, para teroris ini mendapatkan “penyucian otak” atau diindoktrinasi sedemikian rupa sampai berani melakukan tindakan yang begitu nekad. Selain hal itu, bukan tidak mungkin tindakannya tersebut juga didasarkan pada berbagai faktor, seperti kebanggaan, sebab orang yang berani melakukan hal itu dijuluki sebagai “pengantin”. Faktor lain, misalnya karena kebencian, sebab obyek yang dilukai dipandang sebagai melawan allah yang dipercayainya dan membunuh mereka dianggap pengabdian kepada allah yang dipercayainya dan akan mendatangkan pahala. Tindakan bom bunuh diri juga mungkin didorong oleh nafsu dendam dan sakit hati atau kecemburuan terhadap obyek yang dilukai dan dibunuh. Mereka juga terpengaruhi oleh contoh dari banyak teroris lain yang telah melakukannya. Sedangkan Abraham tidak pernah menerima indoktrinasi atau ajaran yang menuntunnya kepada pengenalan akan Allah seperti kita, malahan lingkungan Abraham saat itu adalah lingkungan kafir yang menyembah berbagai berhala. Ia meninggalkan Ur-kasdim tanpa dendam, sakit hati, kecemburuan atau motif lain kecuali taat kepada Elohim Yahwe. Lagi pula tidak ada contoh yang pernah dilihat Abraham yang melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Salah satu alasan yang bisa dikemukakan mengapa ia begitu nekat melakukan tindakan tesebut sebab ia mengenal dan mengalami Allahnya. Pengenalan dan pengalaman tersebut diteguhkan oleh keyakinannya kepada apa yang dikatakan oleh Tuhan bahwa ada sesuatu yang diharapkan oleh Abraham (Ibr. 11:1). Sesuatu itu adalah negeri yang memiliki dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Walau pun sampai mati Abraham tidak melihat dan masuk ke negeri itu, tetapi ia percaya kepada pribadi Allah, sehingga ia tidak meragukan sama sekali akan kebenaran-Nya. Ia tetap setia sampai mati dan tidak pernah kembali ke Ur- kasdim. Orang seperti ini dalam sepanjang perjalanannya mengalami Tuhan secara riil.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.