28. Mempersiapkan Kematian

KARENA KEMATIAN ADALAH realitas yang tidak pernah bisa diprediksi kapan terjadi, maka persiapannya harus dilakukan sejak dini. Selalu sekarang. Untuk ini pertobatan harus dilakukan sekarang, setiap hari dan setiap saat ketika kita menyadari perbuatan salah. Sebenarnya inilah yang dimaksud dengan berjaga-jaga dan berdoa tiada berkeputusan. Suatu hubungan yang terus dibangun dengan Tuhan. Banyak hal yang bisa diabaikan dan dianggap tidak penting, ya apapun harus bisa disingkirkan, tetapi persiapan menyongsong kematian tidak boleh ditunda. Hal ini harus dianggap selalu paling penting dan darurat, sehingga kita selalu mengutamakan hal mempersiapkan diri menyongsong kematian kita. Berpikirlah bahwa hari ini adalah hari terakhir kita. Besok tidak ada kesempatan lagi. Jadi setiap kali disebut hari ini, berarti kesempatan yang sangat berharga untuk membenahi diri. Hendaknya kita tidak memberikan waktu berlalu tanpa ada pembenahan terus menerus. Hal ini dilakukan agar kita menjadi lebih berkenan di hadapan Tuhan.

Bila kita membiasakan diri memiliki sikap hidup seperti ini, maka barulah kita memahami dan dapat melakukan apa yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Allah dan kebenarannya.1 Matius 6:33 ini dikemukakan oleh Tuhan Yesus berkenaan dengan panggilan Tuhan atas orang percaydi bumi ini untuk hanya mengumpulkan harta di Surga.2 Mengumpulkan harta di Surga sama dengan usaha agar hati nurani kita menjadi hati nurani yang benar, yaitu memiliki pengertian-pengertian dari sudut pandang Tuhan.3 Hati nurani inilah harta yang tidak pernah bisa diambil oleh siapa pun. Harta dunia bisa dirusak oleh ngengat dan karat, pencuri bisa mencuri serta membongkarnya, tetapi harta berupa hati nurani yang sesuai dengan Allah inilah yang tidak bisa diambil oleh siapa pun. Dengan hati nurani inilah seseorang dapat mengabdi hanya kepada Tuhan. Dengan demikian kita hanya mengabdi kepada Tuhan saja.4 Banyak orang yang hati nuraninya tidak diasah oleh kebenaran sehingga ia tidak tahu bahwa sebenarnya masih mengabdi kepada dua tuan. Kita baru menyadari hal ini setelah kita lebih dahulu diasah oleh kebenaran Firman Tuhan. Sebelumnya kita merasa bahwa kita sudah benar-benar “full time” hidup buat Tuhan, ternyata belum. Nurani kitalah yang akan menerangi diri kita untuk melihat seberapa kita murni bagi Tuhan. Di level seperti Paulus, kita bisa berkata bahwa kita melayani Tuhan dengan hati nurani yang murni.5 Maksudnya bahwa dalam hidup ini, khususnya dalam pelayanan, kita tidak memiliki agenda sendiri. Yang bisa mengerti bahwa dirinya ada agenda sendiri atau tidak adalah seorang yang hati nuraninya telah diterangi oleh Tuhan. Banyak orang merasa bahwa ia telah hidup untuk Tuhan sepenuh hati dan sepenuh waktu, padahal belum. Ia tidak bisa melihat agenda sendiri yang bersembunyi di kedalaman hatinya.

Seharusnya orang yang sudah menjadi anak Tuhan hidup di dalam pemerintahan Kerajaan Allah, itulah sebabnya Doa Bapa Kami berbunyi: Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.6 Jadi, kalau seseorang tidak memiliki gaya hidup mendahulukan Kerajaan Surga berarti ia hidup dalam kerajaan kuasa kegelapan. Hendaknya kita tidak berpikir kalau hari ini kita tidak melakukan pelanggaran moral, telah mengambil bagian dalam pelayanan bahkan menjadi seorang pendeta berarti kita pasti sudah hidup dalam pemerintahan Allah. Belum tentu! Hidup dalam pemerintahan Allah terselenggara ketika seseorang memalingkan diri dari kepentingan diri dan segala hawa nafsu dan kesenangannya. Berjuang terus untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup ini dan melakukan dengan sungguh-sungguh serta melayani Tuhan tanpa batas. Inilah harga mahal hidup sebagai anak-anak Kerajaan yang harus sangat berbeda dengan dunia ini.

1)Matius 6:33; 2) Matius 6:19-20; 3) Matius 6:22-23; 4) Matius 6: 24; 5) Kisah 23:1; 24:16; 6) Matius 6:10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.