27 Desember 2014: Berkeadaan Sebagai Anak-Anak Allah

Keselamatan dari pihak Tuhan berarti tindakan Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan semula atau tujuan awal. Untuk mewujudkan keselamatan atas manusia, Allah memberikan kuasa kepada mereka yang menerima-Nya, supaya menjadi anak-anak Allah (Yoh. 1:12). Kata “kuasa” dalam teks ini adalah exousia (ἐξουσία) yang lebih tepat atau lebih dekat artinya bila diterjemahkan “hak” (Ing. right) atau sebuah hak istimewa (Ing. privilege). Berbeda dengan kuasa dalam Kisah Rasul 1:8 kata kuasa dalam teks tersebut adalah dunamis (δύναμις). Kata dunamis ini merupakan asal kata dinamit. Kata ini lebih tepat atau lebih dekat bila diterjemahkan “sesuatu yang menggerakkan” (Ing. power). Kuasa yang diberikan kepada orang yang menerima-Nya, yaitu menerima Tuhan Yesus sebagai Pemilik Kehidupan (Yoh. 1:10). Isi kuasa itu antara lain: Pertama adalah penebusan. Dengan penebusan tersebut seseorang dapat menjadi milik Tuhan (1Kor. 6:19-20). Tuhan Yesus berhak memuridkan orang percaya (Mat. 28:18-20). Setelah segala kuasa ada di tangan Tuhan Yesus, maka Tuhan memberikan Amanat Agung-Nya. Kuasa kegelapan tidak berhak lagi membelenggu orang yang ditebus, sehingga mereka memiliki kemungkinan untuk mencapai kesempurnaan seperti Bapa. Dengan demikian Bapa bisa membentuk dan memuridkannya dengan memberikan meterai Roh Kudus. Kedua adalah Roh Kudus. Pada dasarnya keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula. Untuk dapat kembali kepada rancangan-Nya semula orang percaya harus mengalami pencerahan pikiran sehingga seseorang dapat mengerti kehendak Allah secara sempurna. Roh Kudus adalah satu-satunya Pribadi utusan Bapa yang dapat memberikan kemampuan orang percaya untuk mengerti kehendak Allah, apa yang baik, yang berkenan dan yang sempurna (Yoh. 16:13; Rm. 12:2 dan lain-lain). Dengan demikian manusia dapat melakukan segala sesuatu tepat seperti yang dikehendaki oleh Bapa. Inilah maksud penciptaan manusia sejak semula. Roh Kudus sebagai pendamping (Yun. Parakletos; παράκλητος) menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran Allah. Tanpa Roh Kudus keselamatan tidak akan terwujud dalam kehidupan manusia. Ketiga adalah Injil. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Iman yang merupakan landasan keselamatan timbul dari mendengar Firman Kristus. Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Yun. rematos Christou; ῥήματος Χριστου) (Rm. 10:17) dan Firman Kristus itulah Injil. Jadi sangat jelas dan harus ditegaskan bahwa Injil adalah sarana keselamatan (Rm. 1:16-17). Kelahiran Baru pada dasarnya sama dengan pencerahan pikiran, hal ini bisa terjadi bila ada sarana untuk mencerahinya. Dalam hal ini Injil adalah satu-satunya sarananya. Injil memuat pengenalan akan Allah atau kebenaran-Nya. Orang yang memiliki Injil pasti memiliki Tuhan Yesus dan keselamatan-Nya. Jadi, kalau seseorang tidak memahami Injil, berarti ia tidak akan memiliki Tuhan Yesus dan tidak akan pernah mengalami keselamatan-Nya. Keempat adalah penggarapan Allah. Penggarapan ini suatu anugerah yang luar biasa. Sarana penebusan yaitu Roh Kudus dan Injil tidak matang atau kurang berdaya guna tanpa penggarapan Allah. Alkitab menyatakan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Rm. 8:28). Pengalaman hidup adalah sekolah kehidupan yang memproses seseorang untuk menjalani keselamatannya. Perlu ditambahkan di sini bahwa dalam teks aslinya tidak ada kata “turut” seperti yang terdapat dalam teks bahasa Indonesia.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.