26. PENGALAMAN YANG BERKUALITAS TINGGI

PENGALAMAN DENGAN Tuhan dalam kualitas tinggi sulit dikemukakan kepada orang lain. Sebab kesaksian seperti ini hanya bisa dimengerti oleh orang Kristen yang dewasa. Kadang-kadang juga tidak bisa dikemukakan karena bersifat sangat pribadi. Orang yang tidak dewasa rohani dan tidak mengerti penggarapan Allah atas diri seseorang untuk membawanya kepada kesempurnaan, akan memandang aneh pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi atas orang-orang yang sedang digarap oleh Allah. Pengalaman-pengalaman itu seperti misalnya sudah bertindak jujur tetapi malah ditindas, diperlakukan tidak adil tetapi Tuhan seakan-akan tidak menolong dan lain sebagainya. Semua pengalaman tersebut merupakan cara Tuhan untuk mendewasakan atau menyempurnakan kehidupan orang percaya. Pengalaman yang berkualitas tinggi dengan Tuhan ini termasuk di dalamnya peristiwa-peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan seseorang, yang melaluinya Tuhan berbicara untuk menasihati dan menegor agar orang percaya bertumbuh dewasa guna memiliki nurahi Ilahi. Hal ini sering terjadi secara pribadi dan sering bersifat sangat rahasia dalam kehidupan seseeorang, sehingga tidak mudah bisa disaksikan atau diceritakan kepada orang lain. Adapun pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tidak tinggi mudah disaksikan kepada orang lain, sebab biasanya berkenaan dengan hal-hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani (mukjizat kesembuhan, jalan keluar dari persoalan ekonomi, terhindar dari malapetaka dan lain sebagainya). Para pendengarnya -yang sebagian besar juga memiliki kebutuhan yang sama- akan mudah mengerti dan senang mendengarnya. Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka akhirnya orang percaya tidak pernah mengerti harta yang sesungguhnya, yaitu keselamatan dimana manusia dikembalikan ke rancangan semula.

Dengan pengalaman yang berkualitas tinggi dengan Tuhan, orang percaya mengalami proses penyempurnaan menjadi “man of God” atau memiliki natur Ilahi, sesuai dengan rancangan semula Allah menciptakan manusia. Sebenarnya pengalaman ini sama dengan pengalaman menjadi murid Tuhan Yesus secara pribadi. Pengalaman tersebut harus secara pribadi, sebab setiap orang memiliki keberadaan yang berbeda-beda, sangat khusus dan unik. Dengan demikian cara Tuhan berurusan dengan masing-masing individu berbeda-beda. Tuhan Yesus memuridkan orang percaya untuk memiliki kehidupan seperti yang pernah Tuhan Yesus kenakan dan peragakan selama Ia menjadi manusia di bumi ini dua ribu tahun yang lalu. Hanya orang yang dimuridkan oleh Tuhan Yesus secara pribadi yang mengalami dan memiliki keselamatan. Dalam hal ini nyatalah bahwa tidak mudah untuk dapat mengalami dan memiliki keselamatan.1 Jadi, betapa bodohnya orang Kristen yang tanpa pergumulan dimuridkan Tuhan Yesus secara pribadi, sudah merasa memiliki keselamatan. Banyak orang merasa sudah menjadi murid Tuhan dan memiliki keselamatan hanya dengan menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja. Keselamatan terjadi atas kehidupan seseorang melalui pengalaman hidup yang dialami seseorang dari waktu ke waktu dimana Allah turut bekerja bersama. Betapa jahatnya kalau ada gereja yang dengan mudah menyatakan bahwa seseorang sudah selamat, padahal mereka tidak memiliki pengalaman dengan Tuhan setiap hari dalam proses menjadi manusia seperti rancangan Allah semula. Gereja harus menyampaikan Firman yang benar dan mendorong dengan keras agar setiap orang percaya memiliki pengalaman dengan Tuhan setiap hari.

Sebenarnya memiliki pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi dengan Tuhan tidak mudah terjadi atas semua orang. Hal ini juga tidak dimengerti oleh orang Kristen yang tidak dewasa. Hal ini sama dengan anak-anak yang masih di bawah umur memiliki pengalaman dengan orang tua dalam pengalaman yang tidak berkualitas tinggi. Pengalaman anak-anak yang belum dewasa dengan orang tuanya adalah pengalaman bermain-main, jalan-jalan, wisata dan sejenisnya, yang tidak membuat anak-anak menjadi dewasa. Anak-anak hanya senang-senang saja. Tetapi ketika anak menjadi dewasa orang tua mendidik anak-anak harus pergi kuliah, mencari nafkah dengan orang tua melalui berdagang dan lain sebagainya. Anak-anak sudah dapat diajak memikul beban bersama-sama dengan orang tua. Hal ini membuat anak-anak menjadi dewasa. Demikian pula pengalaman dengan Tuhan dalam kualitas tinggi membuat orang percaya menjadi sempurna dan tergiring ke dalam Kerajaan Surga. Tuhan mendidik kita dengan pengalaman-pengalaman yang berat.

1) Lukas 13-23-24

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.