23 Januari 2015: Berkelimpahan Yang Benar

Hidup berkualitas yang dijanjikan oleh Tuhan di dalam Firman-Nya yaitu dalam Yohanes 10:10 dan 14:6 hanya dialami dan dimiliki oleh orang yang mengikuti jalan-Nya dan yang memahami kebenaran. Kalau hari ini, faktanya sangat sedikit sekali orang yang mengalami hidup yang berkelimpahan tersebut, ini berarti lebih banyak orang yang tidak mengalami hidup berkelimpahan tersebut sebab tidak mengikuti jalan Tuhan dengan benar dan tidak memahami kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Keadaan inilah yang membuat banyak orang Kristen menganggap kekristenan sama dengan agama-agama lain. Mereka juga tidak berusaha mengadakan perburuan terhadap kebenaran dengan sungguh-sungguh. Biasanya mereka sudah merasa puas dengan pengetahuan Alkitab yang telah mereka miliki dan hidup kekristenan rutin yang mereka telah jalani. Pada dasarnya orang-orang ini belum mengerti dan belum pernah mengalami indahnya hidup dalam kelimpahan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Berbeda dengan orang-orang Kristen pada abad awal dimana kekristenan baru muncul. Mereka harus mempertaruhkan nyawa demi kekristenan yang mereka jalani. Karena mereka memahami hidup dalam kelimpahan yang diajarkan Tuhan Yesus sehingga mereka tidak mau menukarnya dengan apa pun juga. Sehingga, walaupun mereka harus kehilangan harta, keluarga dan segala kesenangan hidup bahkan nyawa mereka sekalipun, mereka tetap memilih untuk mengikut jalan Tuhan. Hal ini seharusnya menjadi kesaksian yang membuka mata pengertian kita terhadap keagungan Injil Tuhan Yesus Kristus yang memberi suatu “versi kehidupan” yang tidak dimiliki oleh filsafat dan agama mana pun.

Untuk memiliki kehidupan yang berkelimpahan tersebut, seseorang harus berkeputusan untuk memilih Tuhan Yesus, bukan dunia. Pada zamannya, murid-murid Tuhan Yesus dipandang sebagai orang-orang konyol yang tidak bisa dimengerti. Mereka meninggalkan pekerjaan, keluarga dan segala kesibukan hidup demi seorang anak murid-murid Tuhan Yesus mempertaruhkan hidup mereka demi sosok tersebut. Mereka sudah percaya walau tidak melihat atau belum mengalami bahwa tidak ada yang lebih menguntungkan, lebih membahagiakan dan lebih bernilai dari mengikut sosok Guru dari Nazareth ini. Pada akhirnya, terbukti bahwa keputusan mereka tidak salah. Mereka bertemu dengan Pribadi yang memberi hidup. Sekarang, mereka di Firdaus menikmati kebahagiaan bersama dengan Tuhan. Semua penderitaan yang mereka alami tidak lagi diingat. Semua lenyap sebab hadirat Tuhan dan kemuliaan surgawi melingkupi mereka.

Hal ini menjadi bahan pembelajaran untuk kita. Seperti jejak murid-murid Tuhan Yesus pada waktu itu, berani memercayai bahwa mengikut Tuhan Yesus adalah jalan terbaik dalam hidup ini. Walau harus menghadapi berbagai gaya hidup manusia di sekitarnya yang sangat bertentangan dengan gaya hidup yang Tuhan Yesus ajarkan. Kita harus berani belajar terus mengikut jejak Tuhan Yesus atau gaya hidup-Nya. Prinsip hidup Tuhan Yesus harus menjadi prinsip hidup kita. Kita harus berani meyakini bahwa tidak ada kebahagiaan di luar Tuhan Yesus. Dunia dengan segala keindahannya tidak akan dapat memuaskan jiwa kita. Kalau ada perasaan puas karena sesuatu misalnya fasilitas dunia ini, itu berarti perasaan yang sesat. Kebahagiaan kita adalah kalau bersekutu dengan Bapa sehingga mengerti dengan jelas apa yang dikehendaki oleh Bapa dan hidup hanya untuk melakukannya. Itulah satu-satunya kebahagiaan kita. Sehingga kita sendiri tidak memiliki kesenangan apa pun selain “tinggal dalam persekutuan dengan Bapa”. Inilah hidup yang berkelimpahan itu. Jika seseorang mengalami model hidup seperti ini maka ia akan selalu berusaha hidup dalam persekutuan dengan Bapa. Ia akan berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Demi kesukaan hati Bapa, apa pun ia akan lakukan. Hari demi hari akan semakin nampak kebangsawanannya dari setiap tingkah lakunya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.