Archive for February, 2012
Prospheno
29 Februari 2012
Baca: Ibrani 5:7
Alkitab dalam setahun: Markus 14
Mengapa Tuhan Yesus bangkit? Apakah karena kuasa Allah yang luar biasa yang membangkitkan-Nya? Kalau karena kuasa Allah yang membangkitkan tanpa mempertimbangkan kelakuan dalam kehidupan Tuhan Yesus, maka berarti Allah tidak adil dan nepotisme. Sejatinya Tuhan Yesus bangkit karena Tuhan Yesus “saleh”. Dalam Ibrani 5:7 tersurat, “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Perhatikan kalimat “karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.” Kalau Tuhan Yesus tidak saleh Ia akan tetap ada dalam kubur. Jadi kebangkitan Tuhan Yesus adalah prestasi-Nya sendiri yang menyediakan diri untuk hidup dalam kesalehan. Kebangkitan-Nya bukti bahwa ia “lulus”, taat kepada Bapa, taat sampai mati bahkan mati di kayu salib. Itu adalah prestasi-Nya sendiri. Maksudnya bahwa Bapa tidak memberikan kemudahan-kemudahan agar Ia dapat menang atau bisa hidup saleh dengan mudah. Alkitab menegaskan bahwa “dalam segala hal Ia disamakan dengan saudara-saudaraNya,” Yang dimaksud dengan “saudara” disini adalah manusia (Ibr. 2:17). Ia juga walaupun Anak (Anak Tunggal Allah), Ia belajar taat dari apa yang diderita-Nya (Ibr. 5:8). Dalam hal ini kita bisa mengerti mengapa Ia sampai menaikkan doa dengan ratap tangis dan keluhan.
Kata saleh dalam teks aslinya adalah prosenengkas (προσενέγκας,) dari akar kata prospheno (προσφέρω) yang lebih bisa berarti menyerahkan diri atau mengarahkan diri (to bear towards; bring (to, unto), deal with, do, offer (unto, up), present unto, put to). Tentu maksud mengarahkan diri atau menyerahkan diri di sini adalah mengarahkan diri atau menyerahkan diri kepada kehendak Allah Bapa. Hal ini sebenarnya menunjuk pada pengakuan Tuhan Yesus di Taman Getsemani bahwa Ia menyerah kepada kehendak Bapa, bukan kehendak-Nya sendiri. Dalam hal ini kita menemukan kehidupan Tuhan Yesus yang diarahkan sepenuh kepada kehendak Bapa. Hal ini sesuai dengan pernyataan Tuhan Yesus sebelumnya, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” (Yoh. 4:34). Filosofi ini bertentangan atau kebalikan dari filosofinya Lusifer. Filosofi Lusifer adalah, “Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi,” (Yes. 14:14). Dua pribadi yang sangat kontras. Orang percaya ditantang hendak memilih yang mana? Mau ikut siapa? Setiap orang harus menentukan sikap, tidak bisa menghindarinya.
Kepada siapa Anda serahkan diri Anda?
Hanya ada dua pilihan, Tuhan Yesus atau Lusifer.
Semeron
28 Februari 2012
Baca: Ibrani 3:15
Alkitab dalam setahun: Markus 13
Dalam Ibrani 3:15 tertulis: “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman.” Kata hari ini, dalam teks Yunaninya adalah semeron (Σήμερον), yang menunjuk kepada hari yang tertentu. Tuhan bekerja pada hari tertentu bagi setiap individu. Ia ketat dengan jadwal yang ditentukan-Nya. Mengenai jadwal yang ketat ini dapat ditemukan dalam pernyataan Firman Tuhan bahwa kedatangan anak-Nya telah ditentukan kapan masanya (Gal. 4:2-4). Hal ini berbicara mengenai momentum atau dalam bahasa Yunaninya kairos (καιρὸς). Betapa mahal harga suatu kesempatan saat Tuhan menyediakan “berkat”-Nya bagi orang-orang yang dikasihi-Nya. Perlu ditambahkan di sini bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan menjadi orang yang menerima anugerah. Hal ini sangat tergantung pada hak “prerogative” (hak istimewa) Allah, siapa yang ditunjuk untuk menerima anugerah-Nya. Ditunjuk menerima anugerah-Nya tidak berarti otomatis pasti selamat, sebab respon seseorang terhadap anugerah Allah sangatlah menentukan selamat atau tidaknya orang tersebut.
Selain itu waktunya ditentukan, durasi atau kesempatannya pun juga terbatas. Penghargaan seseorang terhadap momentum dan kesempatan yang terbatas tersebut sama dengan penghargaan kepada Tuhan yang menyediakan momentum dan kesempatan tersebut. Apabila seseorang menyia-nyiakan momentum tersebut dan kesempatannya, maka ia tidak akan memperoleh belas kasihan sama sekali. Ini sama artinya dengan tidak mengindahkan Allah sendiri. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan agar kita tidak menyia-nyiakan keselamatan (Ibr. 2:3).
Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah mereka tidak merasa tidak menghargai Tuhan hanya dengan menunda apa yang seharusnya dilakukan bagi Tuhan. Tindakan menunda terhadap apa yang seharusnya dilakukan bagi Tuhan “pada waktunya” merupakan tindakan “mengeraskan hati”, sampai seseorang tidak pernah bisa mendengar peringatan Tuhan. Pada dasarnya orang yang murtad adalah orang yang hatinya keras sampai tidak bisa menerima tegoran lagi. Inilah stadium atau level saat seseorang dikategorikan menghujat roh. Sampai level ini seseorang tidak perlu lagi didoakan, sebab percuma. Ini sama dengan penduduk Yehuda pada jaman Yeremia yang tidak perlu didoakan sebab Tuhan sudah pasti akan menghukum mereka karena kejahatan mereka.
Segala sesuatu ada urutan waktunya, ada momentumnya, dan ada durasinya.
Hitunglah hari-hari Anda.
Pelipatgandaan Yang Benar
27 Februari 2012
Baca: Matius 13:20-23
Alkitab dalam setahun: Markus 12–13
Dalam Injil Matius 13:1-23 Tuhan Yesus menjelaskan mengenai pelipatgandaan. Konteks pelipat gandaan itu adalah mengenai benih Firman (Injil) yang ditabur dan berbuah dalam kehidupan pendengarnya yang “mengerti” Firman-Nya. Buah di sini bukan uang atau harta benda atau materi lainnya, tetapi karakter Kristus yang diperagakan oleh orang percaya. Allah Bapa menghendaki agar suatu hari nanti (di penghakiman terakhir), Bapa menemukan pribadi anak-Nya dalam hidup orang percaya. Inilah prestasi yang harus kita capai selama hidup di dunia ini. Jadi, kalau selama ini dikesankan bahwa pelipatgandaan itu adalah obyeknya uang, maka itu adalah penyesatan yang merusak bangunan iman yang murni. Sebagai akibatnya fokus orang percaya diselewengkan, sehingga hal utama yang harus digumuli yaitu pembaharuan pikiran melalui Firman Tuhan diabaikan. Oleh sebab itu segala usaha untuk meraih berkat jasmani dengan menggunakan kuasa Tuhan adalah penyimpangan, sebab Allah sebagai Bapa pasti memenuhi kebutuhan kita. Tuhan Yesus menyatakan, “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Kuasa Tuhan disediakan agar orang percaya “menjadi anak-anak” Alah (Yoh. 1:11-13). Kuasa Allah bukan dimanipulasi untuk kepentingan pribadi yang bersangkut paut dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Sebagai perbandingan, orang-orang kafir tanpa kuasa Allah juga dapat melimpahi dirinya dengan berkat.
Ini berarti orang percaya di bumi ini hanyalah fokus bagaimana menjadi warga Kerajaan Sorga yang baik (model atau prototipenya adalah Tuhan Yesus). Hidup di dunia hanyalah “masa persemaian.” Dunia bukan rumah kita, kita bukan berasal dari dunia ini (Tuhan Yesus sendiri yang menyatakan). Untuk ini butuh pergumulan proses pendewasaan yang tidak mudah. Tuhan menyatakan bahwa kita tidak mungkin bebas dari kesulitan. Setiap hari ada kesusahannya sendiri. Oleh sebab itu jangan membangun Firdaus di bumi. Inilah saatnya kita kembali kepada ajaran Kristus yang murni. Hati-hati dengan penyesatan yang sangat cerdas dan licik yang dilakukan iblis. Ingat, ajaran yang benar adalah ajaran yang mengarahkan umat kepada dua hal yaitu karakter yang disempurnakan dan Langit Baru dan Bumi yang Baru.
Berhati-hatilah dengan ajaran palsu,
yang membelokkan fokus orang percaya ke berkat-berkat fisik atau duniawi.



