Archive for January, 2012
Mencari Dia Sementara Bisa Ditemui
31 Januari 2012
Baca: Yesaya 55: 6
Alkitab dalam setahun: Matius 11-12
Pagi hari menjadi saat dimana kita memulai menggelar sekolah kehidupan un¬tuk mengenal apa yang Dia ingini untuk dilakukan. Sebab inilah satu-satunya langkah kehidupan yang harus kita miliki seperti yang menjadi prinsip hidup Anak Tunggal Bapa, Tuhan kita Yesus Kristus: Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Itu berarti setiap pagi kita harus mulai ber¬tanya: Apa yang Engkau inginkan aku lakukan ya Bapa. Ini berarti kita sudah tidak mempersoalkan apa yang baik dan buruk di mata hukum dan manusia. Baginya Tuhan adalah hukumnya. Disini seseorang barulah dikatakan meletakkan Tuhan di tahta hatinya. Inilah orang yang ber-Tuhan dengan benar. Bukan menjadikan Tuhan sebagai hulubalang atau pengawal, tetapi sebagai “The Majesty”, yang Maha Mulia.
Banyak orang yang merasa sudah memuliakan Tuhan bila mengatakan kepada Tuhan sebagai yang Maha Mulia. Bibirnya mengatakan Tuhan Maha Mulia tetapi kelakuannya hanya menjadikan Tuhan sekedar sebagai hulubalangnya. Gerakan pu¬jian dan penyembahan kalau hanya berhenti sampai menyanyi sama seperti seorang anak TK yang tidak pernah naik pindah sekolah. Bodohnya tidak sedikit orang Kris¬ten yang merasa sudah hidup di hadirat Tuhan hanya karena cakap menaikkan pe¬nyembahan dan pujian dengan bibirnya. Mereka berpikir Tuhan sudah cukup puas dipuji sebagai yang Maha Mulia dan sederetan kata indah lainnya. Padahal yang penting dalam kehidupan ini adalah bagaimana menemukan apa yang Tuhan ingini untuk dilakukan dan melakukannya dengan hati yang menghormati dan mengasihi Dia.
Hidup seperti ini menjadi rumit, sebab memahami manusia lain saja sangatlah sulit apalagi memahami Tuhan yang tidak kelihatan. Tetapi tidak jika kita serius. Mengenal manusia lain bisa lebih rumit sebab manusia penuh dengan intrik mu¬nafik dan sering sangat terselubung. Berbeda dengan Tuhan yang berkenan di temui oleh orang yang sungguh-sungguh mencari Dia (Yes 55:6). Kita harus yakin bisa menemukanNya. Jangan punya mental block, sehingga kalah sebelum berperang. Jadi selagi masih berkesempatan untuk mencari dan menemukan Dia, kita harus berusaha sungguh-sungguh. Orang yang mengutamakan Tuhan adalah orang yang meletakkan hal mencari dan menemukan kehendak Tuhan adalah hal yang paling utama dalam kehidupan ini, lebih dari apapun dan siapapun. Ini salah satu ciri dari orang yang menghormati dan mengasihi Tuhan.
Carilah Tuhan selagi masih ada waktu, jadikan Dia sebagai Yang Maha Mulia.
Memenangkan Jiwa yang Sejati
30 Januari 2012
Baca: Roma 9:1-3
Alkitab dalam setahun: Matius 9-10
Melakukan apa yang diingini Tuhan tidak cukup dengan perilaku yang ti¬dak melanggar hukum, juga bukan saja baik di mata manusia tetapi juga ter¬hormat, agung di mata Allah dan pasti memberkati semua orang. Filosofinya bukan “yang penting tidak merugikan orang lain”, tetapi bagaimana memberkati sesama. Memberkati sesama artinya bukan sekedar memberi mereka pakaian, makan cukup dan terlindungi, tetapi bagaimana mereka bisa bersama-sama dengan kita masuk Kerajaan Bapa di Surga. Hal inilah yang diingini oleh Bapa, sebab satu jiwa manusia selamat malaikat di Surga bersukacita. Tentu malaikat tidak akan bersukacita ka¬lau Bapa tidak bersukacita. Betapa indahnya kalau kita memperjuangkan kepuasan hati Bapa ini. Rumusnya adalah orang yang mengasihi seseorang adalah orang yang menyediakan nyawanya bagi orang tersebut. Kalau kita mengasihi Tuhan kita akan mempertaruhkan apa yang kita miliki demi kepentinganNya.
Kepentingan Tuhan adalah keselamatan jiwa-jiwa. Keselamatan jiwa-jiwa ditentukan oleh pengertiannya terhadap kebenaran. Itulah sebabnya arah pelayanan kami sudah mulai berubah sejak kami mengenal kebenaran ini, bukan hanya sekedar membuat berbagai kegiatan untuk menambah jumlah jemaat atau menga¬dakan kegiatan penginjilan ke berbagai daerah serta membantu pendeta dan jemaat yang tidak mampu. Tetapi bagaimana meneruskan kebenaran yang memerdekakan ini kepada semua orang sampai ke ujung bumi.
Sayang sekali, banyak orang berpikir bahwa memenangkan jiwa sama den¬gan menjadikan seseorang sebagai anggota salah satu gereja. Hal ini dikesankan demikian oleh sebagian pemimpin gereja dan persekutuan, sebab jumlah jemaat yang besar mendatangkan keuntungan materi atau paling tidak kesenangan hati. Itulah sebabnya mereka puas dengan jumlah jemaat tetapi tidak mengupayakan mengajar mereka kebenaran guna melayakkan menjadi anak-anak Allah. Yang di¬lakukan adalah bagaimana anggota gerejanya bertambah banyak, karena itu meru¬pakan baju kehormatan seorang pendeta atau pemimpin agama. Hal ini sebenarnya juga telah menyesatkan kami dulu, sebelum kami mengenal kebenaran yang murni. Tetapi sekarang setelah Tuhan membuka banyak kebenaran, menyadarkan kami un¬tuk memindahkan fokus hidup dan pelayanan. Apapun harus dipertaruhkan supaya satu demi satu mereka menjadi layak disebut sebagai anak-anak Allah, yaitu dengan cara mengajarkan kebenaran agar mereka menuju kesempurnaan Kristus. Inilah pelayanan yang benar.
Jadilah pelaku dan penyambung lidah kebenaran dimanapun anda berada,
itulah pelayanan yang benar.
Memperkuda Tuhan
29 Januari 2012
Baca: Mazmur 73:12-20
Alkitab dalam setahun: Matius 7-8
Mudah untuk mengatakan bahwa ketenangan hanya diperoleh dalam Tuhan. Tetapi tahukah kita: bagaimana memperoleh ketenangan dalam Tuhan itu. Jangan membayangkan ketenangan dalam Tuhan adalah ketika memperoleh per¬tolongan dari Tuhan atas segala masalah yang terjadi dalam hidup kita. Kita me¬nyatakan memiliki ketenangan dalam Tuhan, karena Tuhan dijadikan andalan untuk bisa lolos dari segala masalah dan memperoleh pemenuhan dari segala kebutuhan. Ini sikap yang salah terhadap Tuhan. Bahkan ini sikap yang tidak menghormati Tu¬han. Sebab sikap ini berarti sikap memanfaatkan Tuhan atau “memperkuda” Tuhan.
Memperoleh ketenangan dalam Tuhan bukan karena Tuhan berkuasa meng¬hindarkan kita dari masalah dan dengan kekuatan-Nya dapat memenuhi segala kebutuhan kita. Memperoleh ketenangan dalam Tuhan artinya bisa menikmati Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Masalahnya sekarang adalah bagaimana menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan? Pertama, sadari betapa rentannya hidup kita ini. Hari ini kita sehat, besok belum tentu ke¬adaan kita seperti sekarang. Hari ini masih hidup, kita tidak berani memastikan apakah besok masih hidup. Hari ini kita memiliki segala sesuatu, besok kita tidak memiliki segala sesuatu. Hari ini menghirup udara kebebasan, besok sudah di terali besi. Kita hidup di dunia yang serba tidak menentu. Adalah bodoh kalau kita ber¬harap bisa tidak mengalami kesulitan atau sedikit mengalami masalah dalam hidup ini. Segala kesulitan pasti ada, tetapi semua itu diubah Tuhan menjadi sarana untuk membentuk dan mendewasakan kita. Kedua, sadari bahwa manusia hidup berkisar hanya tujuh puluh tahun. Setelah itu, semua yang dimiliki harus ditanggalkan. Bu¬kan hanya itu saja, tetapi setelah itu harus menghadapi tahta pengadilan Allah. Ke¬tiga, sejatinya sukacita di dalam Tuhan adalah sesuatu yang riil, bukan sekedar di-percakapkan dan dirasakan sesaat dengan perasaan dalam liturgi gereja.
Tentu hal ini bukan sesuatu yang otomatis bisa terjadi atau berlangsung mudah dalam hidup kita.
Orang yang tidak mengerti kebenaran diatas ini akan semakin jauh dari Kera¬jaan Allah. Iblis dalam kelicikannya membuat mereka merasa sudah ada di dalam kehidupan Kristen yang benar. Mereka merasa sudah menjadi orang Kristen yang wajar dan normal di mata Allah. Padahal sebenarnya mereka tergiring ke dalam pembuangan abadi, sebab mereka tidak dikenal oleh Tuhan.
Ketenangan sejati bukan karena Tuhan selalu menolong kita ketika dalam kesulitan,
tetapi ketika kita hidup bersama Tuhan dalam segala keadaan.



