Archive for August, 2010

Bukan Roh Ketakutan

31  Agustus 2010

Baca: 2 Timotius 1:7–8

Alkitab dalam setahun: 2 Raja-raja 18–19

Mind Map Bukan Roh Ketakutan

Mind Map Bukan Roh Ketakutan

Ketakutan adalah respons emosional manusia terhadap sesuatu yang mengancam atau membahayakan. Para pakar psikologi terkemuka dunia mengatakan bahwa ketakutan adalah emosi alami bawaan sejak lahir, dan sering merupakan reaksi segera terhadap suatu kejadian. Contohnya, jika kita mendadak bertemu seekor harimau yang berkeluyuran bebas di tengah jalan, tidakkah kita mencari tempat bersembunyi? Jadi jelas, Tuhan memberikan kemampuan kepada manusia dan hewan untuk merasa takut, agar dapat mempertahankan hidupnya dari bahaya.

Banyak pembicara menggunakan ay. 7 sebagai dasar untuk mengatakan bahwa orang Kristen tidak boleh takut atas masalah ekonomi, keluarga, ataupun kesehatan, sebab Tuhan pasti memberikan jalan keluar. Ini tidak tepat, karena itu sebetulnya bukan ketakutan yang dimaksud, melainkan kekhawatiran. Memang asalkan hidup bertanggung jawab, kita tidak perlu khawatir. Ada pula pembicara yang mengajarkan umat untuk berdoa, minta rasa takutnya diangkat-Nya. Misalnya, seseorang yang bermasalah kejiwaan akrofobia (takut ketinggian) disuruh berdoa agar roh ketakutannya pergi. Tetapi sering kali ketakutan tersebut tidak kunjung hilang. Mengapa?

Sejatinya, ayat ini tidak berbicara mengenai ketakutan yang wajar dan alami, melainkan sifat pengecut. Kata yang digunakan untuk “ketakutan” adalah δειλία (dīlia) yang menggambarkan ketakutan yang berlebihan dan selalu negatif. Jadi Tuhan tidak melarang kita untuk takut, tetapi Ia tak suka kita menjadi pengecut. Seorang pengecut dikalahkan oleh rasa takutnya, tetapi anak Tuhan harus hidup dalam roh yang membangkitkan kekuatan, kasih, dan ketertiban. “Ketertiban” aslinya ditulis σωφρονισμός (sōfronizmós) yang artinya “disiplin”, “pengendalian diri”. Roh ini membantu kita untuk dapat mengalahkan ketakutan yang negatif.

Contoh sederhana, katakan kita takut naik pesawat terbang, padahal pekerjaan Tuhan mengharuskan hal tersebut. Seharusnya walaupun sambil gemetar, kita tetap membeli tiket dan menaiki pesawat. Bila percaya terhadap kekuatan dari Tuhan, mengasihi Dia dan sesama, serta punya pengendalian diri, kita harus berani bertindak mengalahkan ketakutan, sekalipun itu berarti penderitaan bagi kita (ay. 8). Jadi sebagai anak Tuhan, untuk kepentingan-Nya kita harus mengalahkan perasaan takut. Bukan berarti kita tidak merasa takut lagi, melainkan tidak membiarkan perasaan takut itu mencegah kita melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Ketakutan itu mungkin akan hilang seiring waktu; tetapi sekalipun masih terasa, itu bukan alasan untuk menghindari pekerjaan Tuhan. Kita bukan umat pengecut.

Demi kepentingan Tuhan,

kita harus bertindak untuk mengalahkan perasaan takut kita.

Dongeng Nenek

30  Agustus 2010

Baca: 1 Timotius 4:1–8

Alkitab dalam setahun: 2 Raja-raja 15–17

Mind Map Dongeng Nenek

Mind Map Dongeng Nenek

“Jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua” (ay. 7). Ayat ini biasa dijadikan dasar bahwa kita harus menjauhi takhayul yang berasal dari cerita orang tua dan leluhur kita. Misalnya, tak perlu percaya larangan membeli jarum di malam hari; jangan menganggap angka 13 dan 4 (versi Tionghoa) adalah angka sial; tidak perlu takut membeli rumah tusuk sate; dan sebagainya. Tetapi mengapa ayat ini terselip di nasihat Paulus kepada Timotius? Adakah suatu maksud yang lain?

Kalau jeli membaca, sebetulnya yang disebut takhayul oleh Paulus di sini bukan hanya kepercayaan nenek moyang kita seperti contoh di atas—yang memang merupakan tipu daya Iblis— melainkan ajaran-ajaran palsu yang mengajarkan bahwa untuk menjadi suci, sebagai orang Kristen kita tidak cukup hanya melakukan apa yang ditulis Alkitab, tetapi harus juga melakukan “ibadah-ibadah tambahan”: tidak menikah, tidak makan daging, dan sebagainya (ay. 3). Di zaman sekarang kita bisa menambah daftar tersebut dengan tidak main Internet, tidak nonton sepak bola, dan sebagainya. Tetapi seperti kata Paulus, larangan itu bukan ajaran sehat (ay. 6).

Paulus menegaskan bahwa yang terpenting adalah melatih diri beribadah (ay. 7). Kata “ibadah” di sini aslinya tertulis εὐσέβεια (evsébīa) yang artinya “kesalehan terhadap Allah”, atau “kekudusan”. Ini bukan ibadah formal seperti kebaktian di gereja, bukan pula ritual-ritual. Bagi orang percaya, evsébīa mengacu kepada kehidupan Kristen yang benar di hadapan Tuhan, yaitu sikap dan cara hidup yang menempatkan Yesus Kristus sebagaimana mestinya sebagai Tuhan, dengan memuliakan Dia dan bukan sebaliknya malah berusaha mengatur dia. Untuk hidup dalam evsébīa, kita harus melatih diri dengan serius (γυμνάζω, yimnázo), sebab itu tidak otomatis.

Sudah terlalu banyak pengkhotbah yang mengajar agar orang Kristen tidak boleh ini dan itu, dan banyak yang sudah memasukkan juga kategori “takhayul dan dongeng nenek-nenek tua” dalam ajarannya. Tetapi sejatinya yang terpenting adalah berusaha serius untuk hidup dalam kesalehan. Tidak makan daging, tidak menikah, tidak nonton film, tidak main game dan sebagainya tidak meningkatkan kesalehan kita di hadapan Tuhan. Kesalehan atau ibadah yang benar juga bukan dengan melakukan ritual-ritual lahiriah, sebab itu bisa dipalsukan (2Tim. 3:5).

Satu-satunya cara untuk hidup saleh adalah mengetahui kebenaran (Tit. 1:1), dan itu akan tercermin dalam ibadah kita. Karena itu berusahalah terus untuk mengejar pengetahuan akan kebenaran melalui Firman-Nya yang murni, agar kita dapat beribadah dengan benar di hadapan Tuhan dan hidup bertanggung jawab.

Untuk hidup saleh, kita harus mengetahui kebenaran,

dan itu akan tercermin dalam ibadah kita.

Personalitas Totalitas

29 Agustus 2010

Baca: Matius 13:1–23

Alkitab dalam setahun: 2 Raja-raja 12–14

Mind Map Personalitas Totalitas

Mind Map Personalitas Totalitas

Mungkin agak jarang kita membaca perikop mengenai perumpamaan seorang penabur dari kacamata yang berbeda, yaitu personalitas totalitas. Di ay. 13 ada kata “melihat, mendengar dan mengerti”. Di ay. 19, ada kata “hati orang; mengertinya”. Di ay. 23 ada kata “mendengar, mengerti, berbuah”.

Seperti kita ketahui tentang adanya roh, jiwa dan tubuh (1Tes. 5:23) dan terdapatnya pikiran, perasaan dan kehendak dalam jiwa kita, itulah yang disebut dengan personalitas totalitas. Sebenarnya seseorang mengenal Tuhan melalui pikirannya dahulu, atau hatinya yang dijamah oleh Tuhan baru kemudian dia berpikir dan bertindak? Lalu di mana peran Roh Kudus jika demikian?

Otak manusia memiliki dua bagian besar. Di bagian kanan, ada 2 bagian yaitu original brain yang menangkap kesan visual dan limbic system yang merupakan kendali emosi dan perasaan. Sementara otak kiri atau neocortex berfungsi mengartikan suatu stimulasi. Berarti sebenarnya perasaan dan segala hal yang berkaitan dengan emosi letaknya juga di otak kita—bukan di hati, jadi bagaimana bisa nyambung dengan hati kita? Hati, pikiran, nyawa, roh—semua itu seakan-akan rancu.

Kesimpulannya adalah, jangan kita pisahkan unsur jiwa secara telak, sebab manusia adalah personalitas totalitas. Sejak lahir, kita sudah mempunyai jiwa dengan perasaan kemampuan berpikir dan bertindak, dan kehendak, tetapi belum lengkap. Kita sudah mempunyai roh yang merupakan milik-Nya. Kita harus mendengar Firman Tuhan dengan telinga kita, mencernanya di dalam pikiran kita, dengan rendah hati dan tulus memasukkan ke dalam hati untuk menjadi milik yang kekal dalam hidup kita. Kebenaran Firman akan merubah pola pikir kita, mempengaruhi tindakan kita dan menentukan kemana perasaan kita berpihak. Dan untuk mengenal dan mengerti Firman, di situlah Roh Kudus berperan memimpin dan menuntun kita.

Adalah bijaksana bila kita menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang paling kompleks yang telah Tuhan ciptakan. Yang diinginkan Tuhan pada akhirnya cuma satu, yaitu agar kita bisa hidup kekal bersama-sama dengan Dia. Jadi perhatikanlah penghujung hidup kita, jangan terlalu dalam memusingkan dari mana kita akan mengenal Tuhan, sebab kita ini personalitas totalitas. Mata, telinga, pikiran, perasaan, hati dan seluruh unsur hidup kitalah yang memengaruhi penghujung akhir hidup kita, bertemu Tuhan di surga, atau tidak. Bertindaklah bijaksana mulai dari sekarang.

Sebagai makhluk personalitas totalitas yang kompleks,

hiduplah dengan bijaksana agar kelak kita bertemu dengan-Nya.

Redaksi dan Distribusi

Dapatkan Majalah dan Renungan Harian TRUTH di:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-33 6666 70, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Agen: lihat di Alamat Agen

Visitor
Visits today: 45
Who's Online

14 visitors online now
2 guests, 12 bots, 0 members
Map of Visitors
Powered by Visitor Maps

Truth Media Fans
Facebook Truth Media
Twitter Truth Relite


Kalender
Langganan dg eMail

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Content Protected Using Dynamic Blog Protector By: How To Make Money.

Switch to our mobile site