Archive for July, 2010
Episentrum
28 Juli 2010
Baca: Roma 10:17
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 16–18
Alkitab menulis bahwa iman datang dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus. Jadi seseorang memiliki iman bukan karena memuji-muji nama Tuhan dengan nyanyian, bukan pula karena melihat dan mengalami mukjizat, tetapi karena mendengar Firman Kristus.
Perhatikan, manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru yang terbaik menulis “Firman Kristus” (ῥήματος Χριστοῦ, rématos Khristú), bukan Firman Allah. Memang beberapa manuskrip Perjanjian Baru yang lain ada yang menulis “Firman Allah” (ῥήματος θεοῦ, rématos Theú). Apa bedanya? Tidak beda, karena Kristus adalah Allah.
Hanya kalau dikatakan Firman Kristus, maka kebenaran yang dipahami umat Perjanjian Baru haruslah bermuara pada Perjanjian Baru. Untuk memahami lebih lengkap Perjanjian Baru, memang harus membedah Perjanjian Lama. Tetapi laksana gempa bumi, Perjanjian Baru harus menjadi episentrumnya (pusat gempanya).
Landasan seseorang beriman kepada Tuhan adalah Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Untuk itu patut dipersoalkan, berapa ayat, berapa pasal yang harus dibaca dan berapa khotbah yang harus di dengar sampai seseorang memiliki pengertian yang cukup sehingga memiliki iman yang benar. Berkenaan dengan hal ini, tidak sedikit orang yang merasa sudah beriman padahal sebenarnya belum.
Paralel dengan hal ini, juga dikatakan, “Manusia hidup bukan dari roti saja,tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Setiap Firman yang keluar dari mulut Allah mengindikasikan kebenaran Firman Tuhan yang dipahami secara memadai sehingga kehidupan rohani seseorang mengalami pertumbuhan secara signifikan. “Dari mulut Allah” mengacu Firman Allah yang keluar dari mulut Tuhan Yesus Kristus, yaitu Injil yang nilainya tiada tara.
Berarti Alkitab benar-benar berharga sebagai panduan jalan hidup yang harus digali seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Jangan puas dengan mendengar khotbah di gereja pada hari Minggu yang hanya sesaat saja, dan lalu merasa bahwa telah dibekali dengan kebenaran Firman Tuhan yang memadai. Sebab kadang-kadang saat di gereja, konsentrasi kita terganggu; atau isi pemberitaan Firman Tuhannya memang tidak mudah ditangkap; atau memang khotbahnya tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Alkitab adalah makanan rohani yang harus dikonsumsi secara berkesinambungan setiap hari. Mari berkomitmen untuk bangkit, dan dengan dorongan diri sendiri kita mengambil keputusan untuk menghargai Alkitab sebagai Firman Tuhan dan berusaha terus menggali kekayaan yang ada di dalamnya.
Hargailah kebenaran Firman Tuhan yang bermuara pada Perjanjian Baru.
Menghadapi Tantangan
27 Juli 2010
Baca: 2 Timotius 3:13–17
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 13–15
Kekristenan memang sering menghadapi tantangan. Di negara seperti Indonesia, kita menghadapi kenyataan bahwa agama mayoritas diberi kesempatan lebih banyak menyiarkan ajarannya melalui berbagai media dan sarana. Patut disadari, kondisi ini tentu memiliki pengaruh terhadap pola berpikir orang Kristen, khususnya generasi muda.
Tantangan lain diberikan oleh media cetak, elektronik dan Internet yang sarat dengan konten yang tidak mendidik. Infiltrasi ajaran dan berbagai filosofi kehidupan manusia modern yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab dapat merusak konstruksi pola berpikir orang Kristen. Situasi ini sangat mencemaskan, sebab dapat mengganggu bahkan merusak proyek penyelamatan umat manusia melalui karya Kristus yaitu mengembalikan manusia khususnya orang percaya, kepada rancangan-Nya semula yaitu segambaran dengan Allah, Imago Dei.
Berikutnya, tak kalah mengerikan tantangan dari dalam kubu Kekristenan sendiri. Berbagai ajaran dari mimbar gereja ternyata harus dikoreksi, sebab ternyata tak sedikit yang tidak sesuai dengan kebenaran Alkitab. Kalau seseorang berdiri di mimbar dengan menggenggam Alkitab, tidak serta-merta berarti ia menyampaikan suara Tuhan. Interpretasi Alkitab yang tidak benar pada dasarnya bukan dari Tuhan. Ajaran-ajaran bidat yang besar di dunia ini juga memercayai dan mengakui Alkitab
sebagai Firman Tuhan, tetapi mereka menafsirkannya dengan cara yang berbeda.
Untuk menghadapi tantangan-tantangan ini, tidak bisa tidak, kita harus dengan tegas berdiri di jalur kebenaran Alkitab yang murni. Kita harus bersedia belajar kebenaran Alkitab yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran (ay. 16). Kita harus minta pimpinan Roh Kudus, agar hikmat-Nya terus dinyatakan-Nya kepada kita melalui Firman Tuhan (ay. 15). Agar pemahaman kita lebih dalam, kita perlu membaca majalah dan buku yang bermutu serta mendengar khotbah-khotbah yang menyampaikan kebenaran yang murni.
Dengan hikmat Allah yang mengalir setelah kita belajar membedah Alkitab dengan benar dan jujur, kita harus berani berkata “tidak” kepada ajaran-ajaran yang tidak Alkitabiah. Dan tentunya kita harus mengajarkan kebenaran Firman Tuhan yang murni itu kepada anak-anak kita, sehingga sejak dini pun mereka sudah diperlengkapi dengan pertahanan yang kuat untuk menghadapi tantangan terhadap iman dan keselamatan kita, baik dari luar maupun dari dalam Kekristenan.
Belajar membedah Alkitab dengan benar penting agar kita dapat bertahan
menghadapi tantangan di zaman ini.
Alkitab Harus Menjadi Primadona
26 Juli 2010
Baca: 2 Timotius 3:1–9
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 8–12
Kehidupan iman orang percaya menghadapi tantangan yang semakin berat pada abad ini. Tantangan itu adalah kehidupan dunia yang semakin fasik, filosofi yang memancarkan spirit tidak takut Tuhan dan tidak memedulikan hukum-Nya. Filosofi itu antara lain materialisme (materi sebagai nilai tertinggi kehidupan), humanisme (menganggap manusia lebih penting daripada segalanya), antroposentrisme (kehidupan yang berpusat kepada diri sendiri), serta berbagai pemikiran modern lainnya yang menggiring orang Kristen semakin jauh dari pola berpikir yang Alkitabiah.
Dunia seperti ini telah menenggelamkan kehidupan iman banyak orang percaya. Banyak perilaku pasangan hidup yang merusak hakikat perkawinan, sehingga angka perceraian dan ketidaksetiaan semakin meningkat tajam. Kondisi ini membuat keluarga-keluarga Kristen tidak memberi perhatian kepada pendidikan rohani. Nilai-nilai spiritual menjadi terabaikan. Jikalau nilai-nilai spiritual tidak dihargai lagi maka praktik hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Tuhan mewarnai kehidupan.
Tidak bisa dibantah, dewasa ini banyak orang lebih tertarik kepada layar lebar, tayangan olah raga, sinetron, gaya hidup konsumtif, chatting, hiburan di Internet dan sebagainya, daripada memburu pengenalan akan Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Orang yang giat menggali kebenaran Firman Tuhan dianggap aneh, ekstrem, kuno, korban indoktrinasi dan sebagainya. Ini terjadi sebab banyak orang Kristen akhir-akhir ini tidak memperlakukan Firman Tuhan secara proporsional. Mereka tidak mengasihi Tuhan, terbukti dengan tidak mengasihi Firman-Nya.
Jadi sekalipun kita anggota jemaat biasa, kita tidak boleh mengabaikan pelajaran Alkitab. Alkitab harus menjadi primadona bacaan bagi kita. Dengan pemahaman mengenai kebenaran Tuhan yang mendalam, kita akan senantiasa waspada sehingga tidak akan menjadi mangsa empuk bagi para pengajar palsu yang sebenarnya sedang menipu jemaat dengan mengatasnamakan “Firman Tuhan” atau “suara Tuhan”. Sebagai orang Kristen, kita harus terus mempelajari kebenaran yang murni dan bertumbuh dewasa di dalam Tuhan. Intelektualitas bukan hanya dikembangkan dalam ilmu-ilmu sekuler, tetapi juga dalam kerohanian kita. Belajar Firman Tuhan harus dilakukan terus-menerus sampai kita menutup mata. Untuk itu kita tidak boleh berpuas diri dengan pemahaman kita saat ini, tetapi kita harus berkembang terus dalam kebenaran.
Jadikan Alkitab primadona bacaan bagi kita agar kita menjadi cerdas.



