Archive for July, 2010
Ciri Penyesatan
31 Juli 2010
Baca: Matius 10:28
Alkitab dalam setahun: 1 Petrus 1–5
Dengan memandang hari esok, dan kenyataan bahwa neraka itu nyata, kita dibawa kepada kesadaran bahwa ada kebutuhan yang jauh lebih penting dan utama dari segala kebutuhan. Bahkan, karena ini segala sesuatu yang dapat membunuh tubuh pun menjadi tidak berbahaya lagi (Mat.10:28).
Tanpa disadari, banyak orang terjebak dalam pola kehidupan “jalan tiada ujung”. Mereka hidup dengan pola berpikir bahwa seolah-olah hidup ini akan berjalan dan berlangsung seperti yang dijalaninya ini tanpa ada akhirnya. Inilah yang mengikat kehidupan banyak orang, juga sebagian besar orang Kristen. Bila hal ini terjadi, berarti orang Kristen tersebut tidak mengerti kebenaran. Ini adalah sebuah penyesatan Iblis yang sukses.
Dalam hal ini kita harus senantiasa waspada atas penyesatan. Ada beberapa ciri penyesatan Iblis yang efektif untuk menjerat orang percaya dewasa ini. Pertama, menjebak orang dalam kegiatan agama yang rutin, sehingga tidak mengalami perubahan atau pembaruan. Mereka puas dengan kegiatan keagamaan yang ada. Inilah contoh orang yang seperti hamba yang tidak mau memperoleh keuntungan dalam usaha dalam perumpamaan mengenai talenta (Mat. 25:14–30).
Kedua, mengajarkan bahwa keselamatan itu mudah sehingga tidak perlu berjaga-jaga. Akibatnya orang berkelakuan ceroboh. Mereka tidak peduli terhadap kenyataan hidupnya yang dililit berbagai dosa seperti kebencian, dendam, penipuan, perzinaan, permusuhan dan lain-lain yang memadamkan rohnya, seperti lima gadis bodoh yang pelitanya tidak menyala (Mat. 25:1–13).
Ketiga, mengatakan bahwa melayani Tuhan hanyalah untuk para rohaniwan, sehingga banyak orang tidak berusaha untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan. Tidak sedikit dari mereka yang sama sekali tidak melayani Tuhan. Mereka tidak berprestasi atau tidak berbuah di hadapan Tuhan (Yoh. 15:1–6).
Keempat, membangkitkan hasrat untuk kaya, sehingga orang terikat oleh materi dan menjadikan harta sebagai tujuan hidup (Mat. 6:19–24). Mereka sibuk mengumpulkan harta di bumi, dan menjadikan Tuhan sebagai sarana untuk mencapai kekayaan duniawi; tetapi mereka lupa mengumpulkan harta di surga.
Kalau kita menolak kenyataan bahwa hidup ini akan berakhir, kita akan mudah disesatkan. Karena itu kita harus menerima kenyataan bahwa jalan hidup kita akan berakhir pada waktu yang tidak kita ketahui, sehingga di sepanjang sisa waktu kita di bumi ini, kita hidup dalam takut kepada Allah.
Hiduplah dalam takut kepada Allah, dan waspadalah terhadap penyesatan Iblis.
Kesudahannya
30 Juli 2010
Baca: Mazmur 73:3–19
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 22–24
Mazmur 73 ditulis oleh Asaf mengungkapkan pertanyaan yang kerap kita tanyakan: mengapa orang jahat berkeadaan baik dan hidup enak, sementara orang benar mengalami kesusahan? Namun ia memperoleh jawabannya setelah melihat kesudahannya. Maka tidak perlu kita cemburu terhadap orang jahat yang hidupnya tampak lebih beruntung. Allah adil dan memperhitungkan segala sesuatu.
Kata “kesudahan” di ayat 17 dalam bahasa aslinya ditulis אַחֲרִיתּ (akhărîth), yang juga bermakna “masa depan”, “saat terakhir”. Jadi kita belajar bahwa Iblis sangat cerdik dan licik, sebab ia menyembunyikan akhir dari suatu perjalanan. Ia menyembunyikan apa yang menanti, apabila manusia memilih untuk mengikutnya. Mungkin kita berpikir, tidak banyak manusia yang memilih untuk mengikut Iblis. Kenyataannya tidak demikian, sebab orang yang tidak mau mengikut Tuhan secara otomatis menjadi pengikut Iblis.
Apakah kesudahan perjalanan pengikut Iblis yang disembunyikan itu? Itulah neraka, yang juga di Perjanjian Baru digambarkan dengan istilah “ratap tangis dan kertak gigi”. Ini menunjuk keadaan seseorang yang terpisah dari hadirat Tuhan selamanya. Sayangnya akhir-akhir ini tidak sering terdengar lagi khotbah mengenai neraka. Membahas tentang neraka dianggap kuno, bukan zamannya lagi, dan tidak lagi menarik di telinga orang modern. Orang menganggap soal neraka tidak perlu dibicarakan, toh orang Kristen tidak akan masuk neraka.
Kalau soal neraka tidak perlu dibicarakan, tidakkah itu berarti orang Kristen terjerat tipuan Iblis yang menyembunyikan kesudahannya? Itu bentuk penyesatan yang sangat kuat memengaruhi banyak orang sehingga mereka menjadi tidak waspada lagi terhadap bahaya yang sangat besar dalam kehidupan ini yaitu api kekal. Banyak orang Kristen dibutakan sehingga masa bodoh dengan akhir kehidupannya nanti. Ia menjalani roda hidupnya seolah-olah tidak ada masalah, dan merasakan segala sesuatu berjalan dengan baik, aman dan tidak ada bahaya. Ia lupa bahwa suatu hari kelak ia harus bertanggung jawab atas seluruh kehidupannya, yaitu keputusan-keputusan dan pilihan-pilihannya.
Bagaimana mata hati kita bisa dicelikkan? Saat kita mengerti kebenaran-kebenaran inti dari Firman Tuhan, kita menjadi semakin bijaksana untuk memandang hari esok. Kita semakin berhati-hati dan tidak ceroboh dalam kehidupan ini, agar di saat terakhir nanti kita bertemu Allah yang berkata, “Baik sekali hamba-Ku yang baik dan setia; Masuklah dalam kebahagiaan Tuhanmu.”
Waspadalah dengan Iblis yang menyembunyikan kesudahannya,
dan bijaksanalah untuk memandang hari esok.
Dengan Akal Budi
29 Juli 2010
Baca: Matius 22:37–40
Alkitab dalam setahun: 2 Samuel 19–21
Semua gereja pasti menganjurkan anggotanya untuk intensif membaca Alkitab. Tapi apakah gereja telah membekali orang percaya dengan rambu-rambu yang jelas dalam menggali Alkitab? Sebab Alkitab seperti hutan belantara yang harus dikuasai jalan setapaknya; kalau tidak, si penjelajah akan tersesat di jalan dan tidak bisa pulang.
Memahami isi Alkitab memang tidak mudah, tetapi dapat dilakukan. Untuk memahaminya kita sama sekali tidak membutuhkan wahyu yang bersifat mistis. Yang penting adalah untuk menggali Alkitab kita harus menggunakan akal budi kita, yaitu rasio yang maksimal melalui kerja keras. Itulah sebabnya Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengasihi Dia dengan segenap akal budi juga (ay. 37). Akal budi adalah pikiran, yang haruslah selalu mengalami pembaruan (Rm. 12:2).
Berkenaan dengan ini, kita harus terlebih dahulu memahami apa maksudnya “Alkitab adalah Firman Tuhan”. Apa sebenarnya yang Firman Tuhan: bukunya secara fisik, atau huruf-huruf yang menyusun kata-kata, atau bagian lain? Ataukah hanya sebagian saja dari Alkitab yang merupakan Firman Tuhan, yaitu yang mengutip kata-kata Tuhan? Sebenarnya maksud “Alkitab adalah Firman Tuhan” ialah, Alkitab ditulis berdasarkan inspirasi dari Roh Kudus, serta sudah lengkap dan memadai untuk mengajar dan memandu kita untuk beriman dan hidup dalam kebenaran menuju kesempurnaan, kembali kepada rencana Allah yang mula-mula.
Kemudian perlu pula kita pahami, bagaimana kita dapat menemukan kebenaran dari dalam Alkitab? Sebab ternyata dari dalam Alkitab orang bisa menarik kesimpulan dari apa yang dimengertinya sebagai kebenaran, padahal ternyata bukan. Kita tahu, ajaran-ajaran sesat yang merusak iman jemaat yang murni juga melandaskan doktrinnya kepada Alkitab.
Untuk menemukan kebenaran dari dalam Alkitab yang benar-benar benar, sekali lagi kita harus melibatkan akal budi kita dalam memilih dua hal. Pertama, kita harus berani memilih, siapa yang layak didengar ajarannya. Kita harus memperhatikan apa yang disampaikan setiap pemberita Firman. Kalau pembicara menyampaikan Firman Tuhan yang murni, maka paradigma atau cara berpikirnya menjadi benar. Kedua, kita harus memilih berbagai buku dan majalah rohani yang bermutu untuk dipelajari, yang dapat meletakkan fondasi iman yang benar. Untuk itu kalau kita tidak tahu, kita perlu bertanya dan berdiskusi dengan saudarasaudara seiman yang mengerti mengenai hal ini.
Untuk menggali Alkitab kita harus menggunakan akal budi kita,
bukan dengan pengalaman mistis.



