Archive for May, 2010
Truth 28 Mei 2010 “Mencapai Tingkat yang Lebih Tinggi”
Baca: 1 Petrus 1:6–7
Alkitab dalam setahun: 2 Tesalonika 1–3
Kita perlu terus berusaha meraih kehidupan yang lebih tinggi. Ukuran tinggi di sini makudnya bukan lebih kaya, lebih berpendidikan, lebih terhormat, dan sebagainya. Di mata Tuhan yang dimaksud dengan “lebih tinggi” yang benar adalah lebih tinggi dalam pengenalan akan Tuhan, dan dalam persekutuan yang benar dengan-Nya.
Banyak orang merasa bahwa ia telah mengenal atau melihat kehidupan ini lebih lengkap, tetapi sebenarnya tidak. Masalahnya terletak pada pengertian bagaimana kehidupan yang lebih tinggi itu. Semakin mengenal kebenaran Tuhan, semakin tinggi tingkat kehidupan kita. Seseorang tidak mungkin memiliki kehidupan yang lebih tinggi tanpa mengenal kebenaran. Selanjutnya seseorang harus berani dengan tulus mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Jadi bagaimana mungkin seseorang dapat meningkatkan level rohaninya kalau tidak memiliki gairah mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu? Tanpa gairah mengasihi Tuhan, maka usahanya untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi tidak lain bertujuan untuk kesombongan diri semata.
Petrus berkata, kemurnian iman jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana (1Ptr. 1:7). Karena itu untuk meningkatkan level rohani kita, kita harus memiliki iman yang murni. Iman yang murni mempunyai ciri tidak terikat dengan segala ikatan dunia dan percintaannya (1Yoh. 2:15-17). Baginya, hidup ini hanya untuk menyembah dan berbakti kepada Tuhan.
Langkah-langkah untuk mencapai kehidupan dengan tingkat yang lebih tinggi ini antara lain: Pertama, Komitmen yang utuh untuk mengikut Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh (Rm. 6:4). Komitmen adalah pendorong yang harus dikobarkan dalam diri setiap individu. Ini tidak bisa dipaksakan, harus lahir dari diri sendiri. Selanjutnya, dari komitmen ini, kita akan terus berusaha menggali Alkitab sebagai sumber inspirasi (Mat. 4:4). Kita harus selalu membuka hati terhadap pengalaman yang dilaluinya, yaitu melalui apa yang ia dengar, ia lihat dan tertutama pengalaman hidup yang dialaminya sendiri. Kemudian, kita harus melalui penyangkalan diri terus-menerus. Dengan penyangkalan diri terus menerus ini, filosofi hidup kita semakin berubah, dan membuat kita semakin berpikir dan berperasaan Kristus. Jadi inilah yang perlu dilakukan untuk menuju tingkat yang lebih tinggi, tidak dapat ditawar.
Untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi
kita harus semakin berpikir dan perasaan Kristus.
Truth 27 Mei 2010 “Kebutuhan untuk Terus Belajar”
Baca: Kisah Para Rasul 6:1–7
Alkitab dalam setahun: 1 Tesalonika 1–5
Dengan semakin kompleks dan dinamisnya masalah-masalah kehidupan ini, maka eksplorasi terhadap kebenaran Firman Tuhan atau teologi juga harus makin giat dilakukan. Apabila seseorang berhenti belajar, sementara masalah-masalah hidup yang baru bermunculan, maka seseorang tidak akan menemukan solusi Alkitabiahnya. Sebagai akibatnya banyak tindakan dan keputusan yang salah yang
dilakukan orang percaya. Seorang gembala yang selalu menghadapi persoalan-persoalan jemaat akan selalu dipertemukan dengan pertanyaan-pertanyaan masalah kehidupan aktual yang sedang berlangsung. Gembala harus memberikan jawaban yang Alkitabiah dan akurat, tetapi kalau seorang gembala berhenti belajar maka jemaat akan menjadi korban pikiran impulsif yang spontan dan mendadak.
Oleh sebab itu sekalipun sudah menjadi gembala sidang pun seseorang tidak boleh berhenti belajar. Ia harus selalu menambah wawasan berpikirnya dari pembacaan Alkitab dan doa pribadi, mendengarkan rekan hamba Tuhan lain, membaca literatur yang bermutu, dan belajar sekolah teologi baik bergelar maupun non gelar. Sementara pelayanannya sebagai gembala bergulir, hendaknya seorang gembala terus belajar untuk meningkatkan kualitas pelayanannya secara profesional. Tidak ada waktu untuk berhenti belajar, kecuali setelah masuk ke liang kubur. Seumur hidup kita harus terus belajar teologi, yaitu pengenalan akan Tuhan.
Harus diakui bahwa pemberitaan kebenaran bagi jemaat Tuhan merupakan hal yang utama dan penting dalam pelayanan gereja Tuhan. Hal ini diteguhkan oleh berita dalam Kis. 6, bahwa para rasul Tuhan perlu mengutamakan pelayanan pemberitaan Firman. Tidak dapat dimungkiri pula, ada gembala sidang yang mengalami stagnasi dalam pertumbuhan pengenalan akan Tuhan. Ini tampak jelas atau terbukti dari kualitas isi khotbahnya. Di mata orang yang tidak mengerti mungkin kedengaran bagus, namun bagi orang yang kuat pengenalan akan Tuhannya, akan terdengar ringan tak berisi, kosong tak bermutu.
Maka siapa pun kita, baik jemaat, aktivis, pengkhotbah hingga gembala sidang, janganlah kita biarkan pengenalan akan Tuhan dalam diri kita tidak bertumbuh. Kita tidak ingin tetap kerdil dan tidak menjadi dewasa. Membiarkan stagnasi semacam ini adalah sikap yang tidak bertanggung jawab. Tuhan ingin kita semakin mengenal Dia; Tuhan ingin teologi kita semakin baik dan semakin kuat. Manusia adalah makhluk yang terus belajar.
Teruslah belajar teologi agar kita tidak berhenti bertumbuh.
Truth 26 Mei 2010 “Belajar Teologi Itu Membahayakan?”
Baca: Matius 28:16-20
Alkitab dalam setahun: Ulangan 32–34
Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa belajar teologi itu hanya menggunakan pikiran atau logika saja, sehingga hatinya tidak tergarap. Mereka berpikir belajar teologi itu membahayakan bagi pembentukan sikap hati. Bahkan ada sementara orang yang memberikan konotasi negatif terhadap teologi itu sendiri, dengan mengkaitkan teologi sebagai ajaran yang “sedikit menyimpang dari kebenaran Alkitab”, “hanya menggunakan otak saja”, dan lain-lain. Mereka juga lantas berucap bahwa belajar teologi membuat seseorang menjadi sombong rohani seperti orang Farisi. Tentu saja semua itu pandangan yang picik dan salah. Mereka yang memberikan tuduhan itu sendiri tanpa sadar juga sedang berteologi. Bukankah kalau seseorang berkata “Allah itu begini”, “Allah itu begitu”, ia telah berteologi? Semua orang bisa berteologi, dan memang berhak untuk itu, tetapi jika tidak memiliki dasar berteologi yang sehat, kuat dan murni, maka itu bisa sangat berbahaya.
Banyak orang yang melontarkan kritikan terhadap orang-orang yang belajar di seminari atau sekolah tinggi teologia tidak sadar bahwa mereka sendiri berteologi dan beroperasi di lingkungan pelayanan dan mengajar jemaat dengan teologinya sendiri. Beberapa dari mereka menjadi pengkhotbah kaum awam yang tidak dibekali dengan dasar teologi yang memadai. Namun jemaat menganggap mereka imam dan guru, menghormati dan memercayai mereka. Sekalipun ajarannya tidak berdasarkan penafsiran yang semestinya atas Alkitab, jemaat mudah menerimanya.
Janganlah kita berprasangka buruk kepada para pendeta dan teolog yang memang menekuni bidangnya. Kritikan yang menghancurkan kepercayaan dan penghormatan jemaat kepada pendeta khususnya dan jabatan-jabatan gereja pada umumnya berbahaya untuk perkembangan gereja pada masa yang akan datang. Tanpa disadari, jemaat bisa kehilangan kepercayaan terhadap hamba-hamba Tuhan yang memang berhak dan mampu mengajar dengan benar, termasuk mengajar di sekolah-sekolah teologi, juga terhadap orang-orang yang bergumul di dalamnya yang memang diberi talenta oleh Tuhan untuk menjadi pemandu jemaat mengenal Alkitab dan kebenaran-Nya.
Oleh sebab itu kita semua harus belajar teologi. Meskipun demikian, untuk itu seseorang tidak harus masuk sekolah tinggi teologi, tetapi tekun giat menggali kebenaran Firman Tuhan melalui berbagai sarana. Rajinlah menggali Alkitab, membaca buku-buku rohani yang bermutu, dan mendengarkan khotbah-khotbah yang menyampaikan Firman yang murni, maka teologi kita akan sehat dan murni.
Kita wajib berteologi dengan giat menggali kebenaran Firman Tuhan.



