Archive for May, 2010
Bukan Kegiatan Sesaat
31 Mei 2010 – Baca: Yohanes 12:24–26 – Alkitab dalam setahun: 1 Korintus 9–11
Harus terus diingatkan bahwa pelayanan tidak hanya dalam bentuk pekerjaan gerejani. Itu barulah satu dari sekian banyak cara untuk mempresentasikan atau mewujudkan panggilan pelayanan. Pada dasarnya pelayanan berorientasi pada usaha untuk memberitakan kabar tentang keselamatan dalam Tuhan Yesus kepada orang yang belum mengenal Tuhan Yesus. Bagi orang yang sudah menerima Injil, mereka harus didewasakan melalui pelayanan penggembalaan. Untuk ini orang perlu berjemaat. Bagi orang yang sudah mendengar Injil, tetapi belum membuka hati menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, harus terus menerus diberi kesaksian yang baik melalui kehidupan orang percaya. Untuk menyelenggarakan pelayanan ini dibutuhkan perangkat dan berbagai fasilitas sebagai sarananya.
Tentu saja untuk membawa Injil ke tempat-tempat tertentu dibutuhkan dana. Di sini seorang pengusaha dapat mendukung dalam hal keuangan. Sedangkan pelaksanaan lapangan penginjilan dilakukan oleh seorang penginjil. Setelah orang-orang yang menerima berita Injil bertobat, maka dibutuhkan gereja, sarana tempat ibadah dan fasilitas penggembalaan. Tetapi pelayanan bukanlah kegiatan sesaat.
Pelayanan adalah irama kehidupan. Seorang yang meneladani kehidupan Tuhan Yesus, pasti memiliki hati seperti anggur yang tercurah (ay. 24). Pelayanan merupakan kebutuhan. Bila seseorang memiliki beban maka beban itu rasanya ingin dilepaskan, demikian pula dengan beban-beban terhadap keselamatan orang lain, maka ia akan berusaha untuk melepaskan beban itu dengan melayani mereka. Tuhan Yesus menyatakan itu sebagai rezeki atau makanan (Yoh. 4:34). Pelayanan merupakan pengabdian mutlak yang tidak bisa dihindari. Sebagai orang yang telah ditebus oleh darah Yesus, kita harus hidup untuk kepentingan-Nya.
Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (ay. 26) Pelayanan adalah gerak hidup manusia sampai maut menjemput kita. Kita tidak boleh berhenti melayani sampai jantung kita berhenti berdetak. Dengan memahami pelayanan seperti ini, maka setiap kita tidak boleh berpikir berhenti melayani. Hidup kita harus difokuskan kepada satu tujuan saja yaitu melayani Tuhan. Berhenti melayani berarti berhenti menyelenggarakan kehidupan. Kehidupan ini menjadi benar-benar bernilai kalau kita ada dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Sehingga prinsip hidup kita adalah “Pelayanan adalah hidupku”.
Temukan tempat kita dalam pelayanan
sesuai dengan talenta yang sudah Tuhan berikan.
Why Not the Best?
Baca: 2 Korintus 5:11–21
Alkitab dalam setahun: 1 Korintus 5–8
Karena Tuhan telah memberikan dirinya sendiri, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak memberi yang terbaik bagi Tuhan. Masalahnya adalah, apakah yang terbaik itu? Yang terbaik bukan diukur dari jumlah pemberian atau persembahan. Dalam ay. 14–15, dinyatakan bahwa tidak ada persembahan yang dikatakan terbaik, kecuali semuanya harus dipersembahkan, artinya kita sudah mati, tidak ada yang tersisa pada kita. Bukan diukur pada jumlah yang diberikan, tetapi sisa yang masih di simpan untuk diri kita sendiri. Yang terbaik menyangkut sikap hati, artinya yang kita persembahkan bagi Tuhan diukur dari hati. Hati ini diukur dari perkenanan Tuhan atas apa pun yang kita lakukan (harus ada dalam pemerintahan Tuhan). Hati juga diukur dari kecintaan kita kepada Tuhan.
Persembahan yang terbaik kepada Tuhan adalah sikap mengembalikan kepada-Nya, bukan memancing berkat Tuhan. Allah menghendaki kita memberi apa yang terbaik bagi-Nya. Hal ini jelas dapat kita mengerti, sebab seharusnya Dia yang Tertinggi layak menerima persembahan yang terbaik. Kesediaan kita memberi yang terbaik bagi Tuhan adalah ciri kedewasaan kita dan kecintaan kita kepada Tuhan. Pemberian tanpa kerelaan pastilah pemberian palsu.
Yang terbaik juga menyangkut waktu yang tepat untuk berbuat bagi Tuhan. Persembahan yang bukan pada waktunya bisa tidak berarti. Pada waktu kita diberi kesempatan untuk mencari Tuhan dan bertobat, maka haruslah kita gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Tuhan Yesus mengatakan, “Bekerjalah selagi hari siang” (Yoh. 9:4). Kita harus mulai saat ini, sebab kesempatan yang diberikan Tuhan bisa berlalu dan kita kehilangan kesempatan selama-lamanya. Jangan berpikir bahwa kesempatan bisa diatur dan ditentukan oleh diri sendiri, sebab kesempatan hari ini tidak bisa ditukar dengan kesempatan hari esok. Kesempatan hari ini adalah untuk hari ini, besok ada kesempatan lain. Tetapi harus dicatat kalau kita mengabaikan kesempatan hari ini, mungkin esok tidak ada kesempatan lagi, sebab kesempatan esok ditentukan oleh sikap kita atau respons kita terhadap kesempatan hari ini. Maka apakah kesempatan tersebut menjadi berkat ataupun kutuk, tergantung keputusan dan pilihan kita.
Maka sebagai orang-orang yang sudah ditebus oleh-Nya, mengapa kita masih tidak mau memberikan yang terbaik? Dengan menghargai anugerah keselamatan-Nya, tidak mungkin kita tidak memberikan yang terbaik. Sekarang saatnya kita berkata dengan tulus kepada Tuhan, “Berbicaralah Tuhan, hamba-Mu mendengar”.
Berikan yang terbaik untuk yang Tertinggi, yaitu Tuhan kita.
Panggilan Memperoleh Kemuliaan
Truth 29 Mei 2010
Baca: Filipi 2:10
Alkitab dalam setahun: 1 Korintus 1–4
Tanpa disadari kita sering berpikir bahwa perintah-perintah Tuhan dalam Alkitab tidak masuk akal. Kita menganggap berlebihan, keterlaluan, atau hanya kata-kata puitis yang sekadar menghiasi halaman Alkitab. Kita tidak merasa terpanggil untuk melakukannya, bahkan kadang kita berpikir hanya orang-orang tertentu yang memiliki bagian menjadi pelaku Firman Tuhan itu secara penuh. Namun harus dicamkan bahwa Allah tidak pernah memberi perintah yang tidak dapat kita lakukan. Jangan mencurigai Allah.
Dalam ay. 5 ini, melalui Rasul Paulus, Tuhan menghendaki agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus dalam hidup bersama, berjemaat, berkeluarga. Kata “pikiran dan perasaan” ini dalam teks aslinya φρονέω (fronéō), yang dalam terjemahan New International Version diterjemahkan attitude ‘sikap’. Dalam hidup bersama, yang menjadi pola tindak kita dalam hidup bersekutu dengan manusia lain adalah sikap Kristus. Pikiran dan perasaan Kristus itu diterjemahkan dalam hidup secara konkret dalam bentuk ketaatan kepada Bapa dan kesetiaan-Nya merendahkan diri untuk kepentingan orang lain. Ini sangat berbeda dengan kebiasaan hidup manusia pada umumnya. Manusia memiliki kecenderungan memerintah, berkuasa, dihormati, disanjung, dipuji. Dari pagi sampai malam, di sepanjang umur hidupnya pada umumnya manusia hidup hanya untuk itu.
Namun sebagai anak Tuhan, yang penting adalah bagaimana hidup kita diserahkan kepada Tuhan untuk menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah bagi kepentinganNya yaitu berkat bagi orang lain. Kehidupan Tuhan Yesus yang sedemikian indah, dipecahkan dihancurkan untuk kepentingan kita bukan hanya untuk dikagumi tetapi diteladani.
Sebaiknya kita tidak memandang ini sebagai beban, tetapi kita harus memandang sebagai suatu anugerah yang luar biasa. Ini sesungguhnya adalah panggilan untuk memperoleh kemuliaan abadi yang melebihi dari segala kemuliaan yang dapat kita peroleh dalam dunia ini. Yesus merendahkan diri karenanya Ia dimuliakan (ay. 9–10). Demikian pula dengan kita. Merendahkan diri dan memiliki pikiran dan perasaan Kristus akan mendatangkan kemuliaan bersama dengan Kristus (Mat. 23:12, Kol. 3:4). Dengan panggilan ini, Tuhan mempersiapkan kita memerintah bersama Dia dalam kehidupan yang akan datang nanti.
Merendahkan diri dan memiliki pikiran dan perasaan Kristus
akan mendatangkan kemuliaan bersama dengan Kristus.



