Archive for April, 2010
Truth 27 April 2010 “Benih yg Jatuh di Tanah Berbatu”
Baca: Matius 13:5–6, 20–21
Alkitab dalam setahun: Bilangan 33–34
Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu ialah yang mendengar firman, menerima dengan gembira, namun kemudian murtad ketika ada penindasan dan penganiayaan karena firman itu. Di dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Firman Tuhan jatuh di tanah yang bercampur dengan batu. Masalahnya sebenarnya bukan pada batunya, melainkan karena tanahnya tidak banyak (ay. 5). Jadi benih bertunas, namun karena tidak cukup dalam masuk ke tanah, pada saat kena terik matahari, benihnya mati.
Ini merupakan fenomena orang Kristen baru, yang percaya Injil karena berbagai sebab, seperti perkawinan, mencari kesembuhan, penyelesaian masalah ekonomi, dan sebagainya. Ia menerima Injil sebagai kabar baik yang dapat menyelesaikan masalahnya. Namun ketika berusaha mendalaminya, ia baru menyadari bahwa Injil yang murni itu tidak seharusnya diterimanya dengan gembira, karena ternyata Injil mengharuskannya memikul salib dan menyangkal dirinya. Ketika ia menghadapi aniaya kecil seperti hinaan atau celaan, atau penindasan seperti kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan akibat status Kristennya, ia merasa Kekristenan ternyata terlalu berat untuk dijalaninya. Maka ia pun meninggalkan Kristus.
Berarti tanah yang berbatu ini merupakan orang yang menganggap Kekristenan sama seperti agama-agama lain, yaitu sarana penyelesaian kebutuhan jasmani. Ia tidak sanggup menerimanya sebagai jalan hidup. Ia tidak sanggup menerima Injil yang murni, yaitu Kabar Baik menurut Allah, bukan menurut manusia. Akibatnya Firman tidak bisa berakar dalam dirinya.
Untuk mencegah diri kita menjadi tanah yang berbatu, kita harus belajar beberapa hal. Pertama, menyadari bahwa Kekristenan bukan sekadar status di KTP, melainkan menjadi pengikut Kristus, apa pun risikonya. Kedua, menerima Kekristenan sebagai jalan hidup dan bukan agama semata. Kekristenan mengharuskan kita memikul salib dan menyangkal diri. Ketiga, memperbanyak penggalian Alkitab setiap hari agar Firman Tuhan itu dapat berakar dalam diri kita. Penggalian kebenaran Alkitab tidak bisa menjadi sambilan, sebab seperti akar tanaman yang tidak pernah absen menyuplai nutrisi, maka kebenaran itu menyita seluruh hidup kita. Dengan kebenaran yang berakar, ketika panas terik penindasan datang, kita tetap teguh berdiri di pihak Tuhan.
Jangan menjadi tanah yang berbatu,
yang tidak tahan memikul salib dan menyangkal diri
Truth 26 April 2010 “Benih yg Jatuh di Pinggir Jalan”
Baca: Matius 13:1–4, 18–19
Alkitab dalam setahun: Bilangan 31–32
Sering kita mendengar perumpamaan mengenai penabur, namun tetap baik bagi kita mendalami bagaimana Tuhan menginginkan kita berlaku sebagai umat-Nya, yang diumpamakan seperti tanah yang menerima benih yang ditabur.
Tuhan mengatakan bahwa benih yang jatuh di pinggir jalan melambangkan orang yang mendengar Firman Tuhan, namun tidak mengertinya. Kata Yunani yang digunakan untuk “mengerti” ialah συνίημι (sünyēmi), artinya “mengerti, dalam arti kegiatan merangkai fakta-fakta menjadi pengetahuan yang utuh”. Sehingga ayat ini bukan berarti bahwa Firman Tuhan yang ditaburkan terlalu sulit dipahami bagi si penerimanya, melainkan si penerima itu tidak mengerti, karena ia tidak sungguh-sungguh berusaha mau mengerti.
Mengapa kalau kita tidak mau mengerti maka firman itu dirampas oleh si jahat? Ini berbicara mengenai situasi dalam hati kita. Bila kita tidak sungguh-sungguh mau mengerti Firman, Iblis akan berusaha mengambil dengan paksa, agar kebenaran itu tidak perlu kita pahami sama sekali. Jadi Iblis tidak takut orang pergi ke gereja dan mengakui Yesus adalah Tuhan, sebab kalau orang itu tidak mengerti Firman dengan benar, kehadirannya di gereja sama dengan menghadiri pertemuan biasa, dan pengakuannya terhadap Yesus hanya di bibir saja, tidak sampai memengaruhi seluruh kehidupannya. Tidak heran banyak orang Kristen yang murtad.
Yang paling Iblis takuti ialah pengertian kita terhadap Firman Tuhan. Sebab dengan mengerti Firman, proses selanjutnya akan terjadi terhadap manusia itu, yaitu melakukan Firman tersebut. Orang yang tidak mengerti pasti tidak dapat menjadi pelaku Firman. Betapa luar biasanya orang Kristen yang mengerti Firman Tuhan dan kemudian melakukannya. Itu sebabnya Iblis sangat berkepentingan untuk membuat orang tidak mengerti, yaitu dengan cepat-cepat merampasnya.
Cara Iblis merampas Firman ialah bekerja sama dengan pikiran manusia yang tidak mau mengerti itu. Orang yang tidak mau mengerti akan mempertahankan cara berpikir manusia duniawi yang tidak mau percaya dengan Injil yang murni. Ini mengakibatkan Firman yang diterimanya dilupakannya begitu saja. Orang-orang ini, seperti orang Farisi di zaman Yesus, sengaja menjadi tanah pinggir jalan.
Jadi janganlah ada pelayanan yang hanya didasarkan pada sugesti bahwa orang harus percaya saja tanpa mengerti. Pelayanan di gereja Tuhan harus berusaha keras untuk membuat jemaat mengerti kebenaran Firman Tuhan.
Jangan menjadi tanah pinggir jalan,
yang tidak mau berusaha mengerti Firman Tuhan
Truth 25 April 2010 “Moral Agama dan Kekristenan”
Baca: Yeremia 31:31–34
Alkitab dalam setahun: Bilangan 28–30
Sesungguhnya Allah memberi kesanggupan kepada kita untuk hidup menurut kehendak-Nya. Ia memberi potensi pada manusia batiniah kita agar berkenan kepada-Nya (ay. 33). Karena batin ini yang menjadi sumbernya, maka Allah memberikan atau meletakkan potensi di dalam batin manusia. Potensi inilah yang memberi peluang kepada seseorang yang telah lahir baru untuk mengembangkan benih ilahi yang telah ditaruh Allah dalam diri manusia. Potensi ini jugalah yang akan membawa seseorang kepada kehidupan sebagai putra-putra Allah yang Mahatinggi. Pertumbuhan benih ilahi ini tergantung respons kita setiap hari terhadap anugerah Allah, yaitu Firman-Nya dan pembentukan-Nya.
Sistem-sistem moral agama, yaitu pola kelakuan orang beragama pada umumnya, justru dapat membutakan mata pengertian kita terhadap kebenaran Injil. Sistem moral agama ini misalnya: menganggap kelakuan baik merupakan ukuran seseorang untuk berkenan kepada Tuhan; menganggap amal dan ibadah kepada Tuhan sebagai jasa; menggunakan ritual sebagai sarana untuk menjangkau Tuhan; berusaha menyenangkan hati Tuhan agar keamanan dirinya dijaga-Nya; menganggap pemimpin agama sebagai perantara untuk menjangkau Tuhan; dan lain sebagainya. Karena itu, Tuhan tidak menyukai sistem moral agama tersebut. Tidak boleh hal-hal tersebut mewarnai iman Kristiani kita.
Perjanjian Baru adalah soal batin, bukan soal ritual lahiriah. Hukum Tuhan telah ditaruh-Nya dalam batin kita, dan ditulis-Nya dalam hati kita. Karena itu kebaktian di gereja pun harus merupakan balas kasih kita kepada Tuhan. Kebaktian di gereja bukan untuk sarana menyenangkan hati Tuhan guna mencari berkat jasmani. Untuk ini perlu dipertanyakan, apa motif kita selama ini dalam bergereja?
Bagi para rohaniwan, jangan sampai juga merasa bangga dianggap sebagai orang baik dari penampilan lahiriahnya. Itu adalah kesombongan rohani khas orang Farisi. Bagaimana mungkin gereja yang dipimpin seorang yang memancarkan roh Farisiisme diberkati Tuhan secara benar?
Untuk itu dituntut hati yang tulus dan jujur. Allahlah yang mengenal kita secara lengkap dan sempurna lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Ia akan membuka mata rohani kita untuk mengenal diri kita sendiri, seperti cara-Nya memandang kita. Tuhan pun tiada henti-hentinya menyelidiki diri kita untuk membawa kita kepada kesempurnaan-Nya.
Sistem-sistem moral agama tidak boleh mewarnai iman Kristiani kita



