Archive for March, 2010
Truth 31 Maret 2010 “Persyaratan Mendapatkan Pekerjaan”
Baca: Matius 20:20-28
Alkitab dalam setahun: Imamat 11–13
Persyaratan yang ditampilkan oleh iklan lowongan kerja di surat kabar biasanya adalah berpendidikan tinggi, memiliki pengalaman kerja yang cukup, memiliki kemampuan di bidangnya, dan mampu berkomunikasi dalam berbagai bahasa. Bila kita memenuhi kriteria tersebut, besar kemungkinan kita akan dipanggil untuk proses seleksi, dan bila lolos, maka kita akan menjalankan proses selanjutnya sampai diterima bekerja. Bahkan jika kita menunjukkan prestasi kerja yang baik dan dapat menyenangkan hati pemimpin perusahaan, besar kemungkinan kita akan dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Bagaimana jadinya seandainya untuk masuk ke Surga, Tuhan menuliskan kriteria dan persyaratan seperti iklan lowongan kerja di koran? Apa syarat yang diajukan oleh Tuhan Yesus? Jelas syaratnya bukanlah tingkat pendidikan yang tinggi, gelar, pangkat, kemampuan, dan pengalaman kerja, melainkan kerendahan hati. “Siapa saja yang ingin menjadi besar, hendaklah menjadi pelayanmu” (ayat 26). Tuhan Yesus mengatakan hal ini lantaran ada seorang ibu yang meminta kepada Tuhan Yesus agar kedua anaknya yaitu Yakobus dan Yohanes mendapatkan posisi yang baik di kerajaan Surga kelak, yaitu duduk di sisi kanan dan kiri Tuhan Yesus. Lalu Tuhan Yesus menjawab bahwa untuk mencapai posisi itu, mereka harus menjadi pelayan.
Pelayan adalah lambang kerendahan hati sebab pelayan adalah pekerjaan yang dianggap rendahan saat itu. Tidak ada syarat lain untuk “berkarier” di kerajaan Surga selain rela menjadi seorang pelayan bagi sesama selagi kita hidup di dunia ini. Ini berarti bukan seberapa tinggi kita harus naik, tetapi sebaliknya seberapa rendah kita harus turun. Hanya orang-orang yang rendah hati yang bisa memiliki ketaatan yang penuh, penyerahan diri total, dan keinginan yang sungguh untuk memuaskan Tuhannya, bukan berfokus pada pemuasan dirinya sendiri.
Memuaskan Tuhan tidak hanya dengan rajin ke gereja, rajin berdoa, serta rajin membaca Firman Tuhan. Namun kita harus menjadikan Firman itu hidup dalam kehidupan kita sehari-hari. Menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan adalah salah satu contoh konkret dari apa yang dimaksud dengan menjadi pelayan bagi sesama. Sudahkah kita menjadi pelayan yang baik bagi orang-orang di sekitar kita? Jika belum, maukah kita mengisi hari ini dengan melayani sesama yang kita jumpai? Mari kita lewati hari ini dengan berbuat sesuatu kepada sesama yang membutuhkan pertolongan kita dengan sikap hati yang benar, yaitu melakukannya untuk Tuhan semata, bukan untuk manusia dan bukan untuk mendapatkan upah.
Hayati Firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari
dengan melayani sesama kita
Truth 30 Maret 2010 “Bekerja Untuk Siapa?”
Baca: 1 Korintus 9:16–23
Alkitab dalam setahun: Imamat 8–10
Setiap kali ada acara ibadah tertentu yang disertai dengan perjamuan kasih di sebuah gereja, seorang pemilik catering yang juga anggota gereja itu selalu menyajikan menu makanannya yang lezat, sehat, dan higenis kepada jemaat. Padahal gereja hanya memberikan dana yang minim. Ia selalu menombok demi menyajikan menu yang baik. Tak heran, menunya selalu lezat, nikmat, dan berselera tinggi. Dari sudut bisnis, ia rugi. Dengan dana minim, untuk apa bersusah payah menyajikan menu yang enak dan bermutu? Namun baginya ini merupakan pengabdian dan pelayanan, bukan pekerjaan dan bukan barang dagangan.
Dalam bekerja, umumnya orang lebih mementingkan hak. Kerja keras harus dibayar dengan upah pantas dan berbagai fasilitas. Bila upahnya terlambat diterima, orang memprotes dan tidak jarang dengan sikap yang kurang pantas menuntut pembayaran upahnya, bahkan sampai berunjuk rasa. Namun sebaliknya, pengabdian melibatkan loyalitas, pengorbanan, dan penyerahan total kepada Tuhan.
Rasul Paulus contohnya; ketika memberitakan Injil, ia tidak mau bergantung kepada orang lain, meskipun biasanya jemaat memang mendukung penghidupan para rasul. Uang yang menjadi haknya tidak diambilnya sebab ia tidak mau membebani jemaat. Justru ia membuat tenda sebagai usaha sampingan, dan uang hasilnya justru dipakai untuk membiayai pekabaran Injil dengan sukacita. Paulus tidak hitung-hitungan, sebab ia memandang pekerjaannya sebagai pengabdian dan pelayanannya kepada Tuhan yang telah meluputkannya dari api kekal.
Dewasa ini kata “mengabdi” semakin terasa asing sebab orang akan secara otomatis menuntut haknya ketika ia telah melakukan kewajibannya. Para pelaku bisnis berusaha mendapatkan profit maksimal dengan upaya yang minimal. Para karyawan kerap menuntut kenaikan upah, namun tidak bekerja sekuat tenaga. Bahkan para pelayan di gereja, sampai dengan pendeta pun tidak jarang lebih suka menuntut haknya daripada memandang pekerjaan sebagai pengabdian dan pelayanan kepada Tuhan, sebagaimana Paulus memandang. Paulus sangat menyadari bahwa sebenarnya ia tidak layak hidup jika tidak oleh anugerah Tuhan. Maka ia memandang pekerjaannya sebagai pengabdian dan pelayanannya kepada Tuhan. Jika kita memandang pekerjaan kita di mana pun kita berada sebagai kesempatan bagi kita untuk mengabdi dan melayani Tuhan, pastilah cara kita bekerja akan berbeda. Kita akan bekerja dengan sepenuh hati sebab kita mengerti bahwa apapun yang kita lakukan adalah untuk Tuhan, bukan untuk manusia.
Di mana pun kita bekerja, kita harus sadar bahwa kita
mengabdi dan melayani Tuhan.
Truth 29 Maret 2010 “Penyesalan Tak Sama Dengan Pertobatan”
Baca: Roma 8:1–17
Alkitab dalam setahun: Imamat 5–7
Rasul Paulus mengatakan bahwa kita harus memilih apakah hidup di dalam pimpinan daging atau Roh. Apa pun juga segi dan aspek di dalam hidup kita, jika itu bersumber kepada daging, berarti kita belum hidup menurut Roh Allah dan berarti belum layak menyebut diri anak Allah.
Pengertian ini merupakan kunci untuk menjelaskan mengapa Tuhan Yesus mempunyai dua orang murid yang sama-sama diajar oleh Tuhan, memiliki dasardasar teologi dari sumber yang sama, dalam periode waktu yang sama dan kualitas ajaran yang sama, namun hasilnya berbeda. Petrus, murid yang menyangkal Yesus tiga kali belakangan menjadi seorang rasul yang luar biasa (Kis. 2–3). Sungguh tidak dapat kita duga, seorang yang nampak kurang “nyambung” dengan Tuhan Yesus, menjadi pribadi yang unggul di kemudian hari. Akhirnya, menurut sejarah gereja, Petrus meninggal disalib dengan kepala dibawah. Itulah permohonan yang diajukannya karena ia tidak merasa layak untuk mati dan disalib seperti Tuhan Yesus.
Bandingkan dengan Yudas Iskariot. Ia menjual Yesus dengan 30 keping perak (Mat. 26:15) dan kemudian menggantung dirinya (Mat. 27:5). Ia tidak mengerti bahwa sekalipun bersalah, Tuhan mau mengampuninya dan ia masih bisa dipakai Tuhan seperti Petrus dan murid-murid yang lain. Mungkin kita luput untuk menyimak kisah kecil di Yoh. 12:4–6, bahwa Yudas sering mencuri uang kas. Jadi memang Yudas tidak berjuang untuk hidup dipimpin oleh Roh, sebab kesehariannya dipenuhi oleh keinginan daging. Ini berbeda dengan proses perubahan di dalam diri Petrus ketika diterangi oleh kebenaran.
Jadi masalahnya bukan terletak kepada kesalahan yang dilakukan Petrus maupun Yudas, namun pada kerelaan untuk berubah, bertobat dan belajar dipimpin oleh Roh. Petrus telah berhasil untuk bertobat. Hasilnya luar biasa: “Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui, bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka; dan mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus.” (Kis. 4:13) Yudas menyesal, Petrus juga. Namun Yudas tidak bertobat dan berbalik, sementara Petrus berbalik dan berubah. Banyak orang menyesal karena berdosa, namun seharusnya melakukan langkah berikutnya yaitu berbalik dan bertobat, itulah esensi hidup dipimpin oleh Roh. Yaitu tidak menyisakan sedikit pun porsi hidup untuk dipimpin oleh daging.
Penyesalan semata tidak berarti,
tetapi pertobatan menuju kesempurnaan ialah hakikat menjadi pengikut Kristus.



