Archive for January, 2010
Truth 28 Januari 2010 “Tos Kitu”
Baca: Roma 8:18–30
Alkitab dalam setahun: Matius 5–6
Masuk ke Desa Cibeo di daerah Baduy dalam, Rani Adityasari, seorang wartawan sebuah harian nasional, menceritakan bahwa dia disambut oleh penduduk setempat di dalam teras rumah yang terbuat dari jalinan bambu dan kayu tanpa menggunakan paku satu pun. Rakitan rumah tradisional tanpa paku yang sudah turun temurun itu, menurut penduduk setempat, “Tos kitu—ya sudah begitu”. Tradisi yang kuat diwariskan dari generasi ke generasi, tanpa pedoman tertulis, namun dilakukan sangat disiplin. Seperti halnya tradisi saba desa (kunjungan ke desa lain). Praktiknya, mereka pergi ke Jakarta dalam rombongan tiga orang, di mana dua orang di antaranya sudah pernah pergi sebelumnya, kemudian pulang untuk menceritakan pengalamannya sewaktu menginap beberapa waktu di Jakarta. Uniknya, mereka berjalan ke Jakarta memakan waktu tiga hari, karena pergi tanpa beralas kaki dan tidak boleh naik kendaraan. Apabila ada anggota yang melanggar, entah bagaimana pasti akan ketahuan. Sekembalinya ke desa, dia akan segera diusir dari Baduy Dalam. Ketika ditanya mengapa tidak boleh pakai alas kaki dan kendaraan, maka dijawab dengan senyum dan suara halus, “Tos kitu.”
Jika kita membaca Alkitab, maka kita menemukan bahwa penulis Alkitab tidak berusaha untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada, sebab memang mereka mengalami sendiri bergaul dengan Tuhan sesuai dengan pola masing-masing yang khas. Jika bertemu orang atheis yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, daripada berdebat, kita lebih baik menjawab, ”Tos kitu”. Tuhan ada dan dapat dirasakan keberadaannya buat mereka yang serius ingin mengenal Dia. Para ateis tidak merasakan Tuhan ada bukan karena tidak ada bukti, melainkan karena mereka menindas bukti-bukti itu.
Namun perlu diingat bahwa menggunakan pikiran itu bukan duniawi, sebab pikiran itu diciptakan oleh Tuhan untuk memperlengkapi kita agar kita tidak bisa kita diperdaya dengan pengajaran yang mengatasnamakan Tuhan tapi menyelewengkan kebenaran Alkitab. Pengajaran yang keliru tidak boleh dibungkus dengan kalimat rohani yang mengisyaratkan kita untuk “Percaya saja”. Dalam Rm. 8:28 kita diajarkan bahwa Allah turut bekerja di dalam segala hal yang mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi kita kita harus terus menguji hati kita, apakah kita mengasihi Dia? Jika ditanya, kenapa harus begitu, ya kita jawab saja, ”Tos kitu”. Di mana kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
Iman kepada Tuhan tidak perlu bertanya mengapa harus demikian,
namun harus berjalan walaupun banyak ketidakpastian
Truth 27 Januari 2010 “Full Timer Bagi Tuhan”
Baca: Filipi 1:20–22
Alkitab dalam setahun: Yohanes 11–12
Ada beberapa alasan mengapa banyak orang tidak berani berkata bahwa dirinya adalah hamba Tuhan, yang statusnya full timer bagi Tuhan. Pertama, konsep yang salah mengenai pelayanan. Pelayanan selalu dikaitkan dengan kegiatan di lingkungan gereja. Padahal, tanpa dukungan kaum di luar gereja, gereja lumpuh tidak dapat berbuat apa-apa. Harus diingat bahwa banyak anggota tetapi satu tubuh (1Kor. 12:12). Masing-masing anggota memiliki panggilan khusus. Profesi yang disandang seseorang juga adalah jabatan rohani untuk mendukung rencana penye-lamatan dunia. Pemisahan pekerjaan rohani dan pekerjaan duniawi yang diukur dengan pekerjaan di lingkungan gereja dan di luar lingkungan gereja adalah pembodohan yang membuat anak-anak Tuhan tidak sungguh-sungguh mengembangkan diri di bidang yang digelutinya sebagai pelayanan. Kemudian terjadi kultus individu terhadap seorang pemimpin. Padahal semua anak Tuhan adalah imamat-imamat bagi Tuhan (1Ptr. 2:9).
Kedua, ketidakbersediaan orang mempersembahkan segenap hidupnya bagi Tuhan. Ini terjadi sebab ia berkeberatan menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Pribadinya masih egois. Ia hanya melihat kepentingan dirinya, keluarga, dan orang-orang yang dianggap sebagai “sesamanya”. Orang-orang seperti ini akan merasa tidak aman kalau masuk dalam pelayanan. Ia merasa hidupnya akan terganggu. Ia merasa perjuangannya mencapai semua keberhasilan itu hanya pantas untuk dirinya sendiri. Kalaupun ia membagi miliknya bagi orang lain, ia pasti memberi dalam kelebihan atau kemewahannya, bukan seperti janda dalam Luk. 21:1–4 yang memberi segenap hidupnya dalam kekurangannya.
Ketiga, keengganan orang meninggalkan kesenangan dunia—termasuk praktik dosa—dalam kehidupannya setiap hari. Menunggu tercapainya hidup suci, atau tidak berdosa lagi, baru setelah itu mau melayani Tuhan hampir pasti tidak pernah terjadi. Mestinya, saat ini juga kita bertobat dan mengambil keputusan untuk sepenuh hati melayani Dia. Kalau tidak, maka kesempatan ini akan hilang sama sekali. Biasanya orang yang menolak mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan bukan menolak mengabdikan hidupnya bagi Tuhan sama sekali, tetapi hanya menundanya, berhubung ia merasa bahwa hidupnya belum bersih, banyak dosa dan kelemahan. Ia merasa tidak layak mengambil bagian dalam pelayanan, kemudian menunda apa yang seharusnya tidak ditunda.
Tinggalkan cara berpikir yang salah,
dan sadarilah bahwa kita semua seharusnya menjadi full timer bagi Tuhan.
Truth 26 Januari 2010 “Berikanlah Kepada Allah”
Baca: Lukas 20:21–26
Alkitab dalam setahun: Kejadian 48–50
Tuhan Yesus memberikan beberapa pernyataan yang tidak dapat kita hindari: bahwa hidup kita harus dipersembahkan sepenuhnya bagi Tuhan. Pernyataan yang jelas dan tegas mengenai hal ini terdapat dalam Mat. 22:37, yaitu bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa, akal budi dan kekuatan kita. Perintah ini sudah jelas menunjukkan bahwa segenap hidup kita harus dipersembahkan bagi Tuhan. Ditambah lagi dengan pernyataan Tuhan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24), maka lengkaplah perintah ini, bahwa orang percaya harus sepenuhnya hidup dalam pengabdian kepada Tuhan.
Dewasa ini, kita mendengar istilah “pelayan Tuhan sepenuh waktu” (full timer) dikenakan bagi orang yang meninggalkan pekerjaan umum atau pekerjaan sekuler, kemudian mengkhususkan dirinya bekerja di gereja. Kalau pekerjaan itu menyangkut pelayanan mimbar, konseling, pelayanan liturgi atau keseketariatan, maka sebuatan yang otomatis disandangnya adalah “hamba Tuhan”. Bagaimana dengan yang tidak bekerja di gereja? Apakah bukan “full timer-nya Tuhan”? Padahal Tuhan Yesus berkata: “Kalau begitu berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!” (Luk. 20:25). Tidak membayar pajak berarti memberontak kepada Kaisar; demikian pula orang yang tidak menyerahkan diri bagi Tuhan juga adalah seorang pemberontak di hadapan-Nya. Maka setiap orang percaya harus menyerahkan diri untuk melayani Tuhan, harus menjadi full timer-nya Tuhan.
Sebagai full timer-nya Tuhan, kita juga diangkat sebagai anak-anak-Nya. Tetapi ini bukan berarti kita dapat memanfaatkan atau menggunakan Tuhan. Justru kita harus memberikan kepada Allah apa yang wajib kita berikan kepada Allah, bukan menuntut berkat jasmani kita dari-Nya. Menuntut atau mengklaim berkat-berkat sangat merusak panggilan untuk melayani Tuhan, sebab pengajaran seperti ini menghanyutkan banyak orang Kristen dalam kebodohan dan sikap tidak bertanggung jawab. Dalam berurusan dengan Tuhan, seolah-olah mereka merasa berhak meminta apapun yang menurut mereka merupakan kebutuhan.
Kalau kita dinyatakan sebagai anak-anak Allah, yang penting bukan pemenuhan berkat jasmani, melainkan memberikan apa yang menjadi kewajiban kita: hidup berkelakuan seperti Bapa (1Ptr. 1:17–18) dan menderita bersama-sama dengan Dia (Rm. 8:17). Mengajarkan Injil sebagai jalan mudah untuk menerima pemenuhan berkat jasmani adalah sesat.
Yang penting bukan pemenuhan berkat jasmani, melainkan memberikan apa yang
menjadi kewajiban kita.



