Archive for January, 2010
Truth 31 Januari 2010 “Mengubah Diri Kita Sendiri”
Baca: Ibrani 3:7–14
Alkitab dalam setahun: Matius 11–12
Pada musim hujan, sering banjir melanda kota-kota di Indonesia, termasuk ibukota Jakarta. Sebetulnya sejak zaman penjajahan Belanda dulu banjir sudah lama terjadi di Jakarta, yang saat itu bernama Batavia. Memang banjir terjadi karena curah hujan yang tinggi, tetapi juga terjadi akibat sampah. Sudah menjadi kebiasaan buruk orang Jakarta, miskin maupun kaya, untuk membuang sampah sembarangan. Akibatnya sampah menumpuk dan menyumbat aliran air yang seharusnya menuju ke laut. Tidak heran, baru hujan sebentar saja Jakarta sudah banjir.
Bila banjir, kita lantas menyalahkan Pemerintah. Kita menyalahkan pengembang yang baru membangun mal atau gedung. Tetapi kita tetap saja membuang sampah sembarangan. Leo Tolstoy, penulis Rusia yang terkenal dengan bukunya War and Peace dan Anna Karenina, pernah mengatakan, “Semua orang ingin mengubah dunia, tetapi tidak ada orang yang berpikir untuk mengubah dirinya sendiri.”
Demikian pula saat perasaan kita dilukai oleh orang lain, termasuk suami atau istri kita, mungkin dengan marah kita katakan kepadanya, “Sejak dulu kamu begitu, tidak mau berubah.” Ketika seseorang melakukan hal yang tidak kita sukai, kita berdoa, “Tuhan, ubahlah dia.” Tapi kita tidak ingat untuk berdoa, “Tuhan, ubahlah aku.”
Kita tidak bisa mengubah orang lain. Yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri. Tidak mudah, tetapi dengan pembaruan pikiran, kita akan dimampukan-Nya. Pikiran kita akan diperbarui terus-menerus jika kita mendengar kebenaran yang murni. Itulah sebabnya Alkitab mengatakan, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.” (ay. 7-8) Suara Tuhan berbicara kepada kita hari ini. Jangan seperti bangsa Israel yang mengeraskan hatinya. Akibatnya Tuhan menghukum mereka empat puluh tahun di padang gurun.
Hati yang keras dan tidak mau diajar adalah hati yang sesat (ay. 10). Jadi jangan katakan, “Memang saya sudah seperti ini dari sononya. Orang lainlah yang harus menyesuaikan dirinya dengan saya.” Belajarlah melembutkan hati kita, sehingga dengan tindakan konkret kita dapat mengubah cara pandang kita terhadap dunia sekitar. Kitalah yang akan menyesuaikan diri dengan orang lain. Jika orang menyakiti kita, kitalah yang harus mengampuninya terlebih dahulu. Kita juga harus menunjukkan kasih kita kepadanya. Kita juga harus meninggalkan kebiasaan buruk yang dapat menyusahkan kita sendiri dan banyak orang, seperti membuang sampah sembarangan atau melanggar peraturan lalu lintas. Berubah untuk semakin memperagakan pribadi Kristus dimulai dengan satu per satu perubahan kecil.
Belajar untuk memperagakan pribadi Kristus dimulai dari mengubah diri kita.
Truth 30 Januari 2010 “Kepada Siapa Kita Mengabdi?”
Baca: Yosua 24:14–21
Alkitab dalam setahun: Matius 9–10
Hari ini hidup kita dihadapkan dengan banyak pilihan. Bahkan jauh lebih banyak daripada beberapa tahun yang lalu. Masuklah ke pasar swalayan atau hipermarket, dan kita akan melihat betapa banyaknya merek dan jenis mi instan, minyak goreng, atau susu bubuk. Atau masuklah ke Internet dan lihatlah betapa banyak situs yang bisa kita gunakan untuk membaca berita. Dalam hidup ini kita juga sering harus menentukan pilihan yang penting, seperti jodoh maupun pekerjaan.
Alkitab juga menceritakan para tokoh Alkitab dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang penting, dan salah memilih bisa berakibat fatal. Sebagai contoh, Adam dan Hawa memilih untuk mendengarkan dan memercayai perkataan ular, dan akibatnya mereka jatuh ke dalam dosa (Kej. 3:6–7). Yudas Iskariot memilih untuk menyerahkan Tuhan Yesus kepada orang-orang Yahudi yang memusuhi-Nya (Mat. 26:14–15) dan ia kehilangan keselamatannya (Mat. 27:4–5).
Kita semua dihadapkan pada pilihan yang terpenting, yaitu memilih kepada siapa kita akan mengabdi. Kata “ibadah” yang digunakan dalam Yos. 24:15 ialah עבד (`âbad) yang bermakna “mengabdi”, “menjadi hamba”, “bekerja bagi…” Tantangan kepada bangsa Israel ini diberikan oleh Yosua, yang sangat mengerti apa artinya mengabdi. Ia memulai kiprahnya sebagai abdi Musa (Kel. 24:13) dan setelah Musa meninggal, barulah ia menggantikan Musa sebagai pemimpin bangsa Israel. Bahkan sebagai pemimpin Israel, Yosua pun masih disebut abdi Musa (Yos. 1:1) dan Tuhan masih menyebut Musa hamba-Nya (Yos. 1:2). Jadi Yosua memang mulai memimpin Israel sebagai bayang-bayang Musa. Tetapi Tuhan tidak salah memilih Yosua. Yosua seorang yang berprinsip, dan sepenuhnya mengabdikan hidupnya kepada Tuhan. Karena itu setelah Yosua meninggal, barulah ia disebut “hamba Tuhan” (Yos. 24:29).
Mengabdi kepada Tuhan kedengarannya sederhana, tetapi kenyataannya tidak. Nenek moyang bangsa Israel menyembah allah lain, dan berkali-kali bangsa Israel meninggalkan Tuhan dan menyembah allah-allah lain. Dan terbukti, setelah Yosua meninggal pun mereka kembali menyembah allah-allah lain (Hak. 2:10-13).
Kini tantangan Yosua kembali bergema di telinga kita. Kepada siapa kita mau mengabdi? Kalau kita tidak mengabdi kepada Tuhan Yesus, berarti kita mengabdi kepada diri kita sendiri, kepada dunia, atau harta, yang pada hakikatnya adalah mengabdi kepada Iblis. Kalau kita tidak mau memilih, itu juga sebuah pilihan, tetapi sayangnya sama juga dengan memilih Iblis. Memilih Tuhan Yesus berarti rela mempersembahkan segenap hidup kita kepada-Nya. Sudah kita menentukan pilihan?
Jangan salah menentukan pilihan. Pilihlah untuk mengabdi Yesus.
Truth 29 Januari 2010 “Farisiisme”
Baca: Lukas 18:9–14
Alkitab dalam setahun: Matius 7–8
Banyak orang yang beranggapan bahwa orang yang hidup kudus adalah orang-orang yang baik, menjaga etika, dan menjalankan ritual agama dengan sempurna. Bahkan ini terlihat juga pada orang-orang Non-Kristen, sehingga tidak jarang kita mendengar, “Orang itu bukan Kristen tapi lebih baik daripada orang Kristen.” Apabila kebaikan dan kesalehan seperti itu—yang merupakan hasil dari usaha manusia—adalah sesuatu yang dapat dibanggakan, maka seharusnya orang-orang itu mendapatkan pembenaran dan pujian dari Tuhan. Tetapi Alkitab mengatakan hal yang berbeda. Orang Farisi yang diceritakan oleh Yesus adalah orang yang saleh. Ia hidup jujur dan tidak menyusahkan orang lain. Yang pasti, ia bukan seorang koruptor. Ia juga menjalankan kehidupan keberagamaannya dengan baik. Puasa Senin-Kamis dijalankannya, dan ia juga rajin memberikan persepuluhan.
Sementara si pemungut cukai, seorang yang dianggap paling jahat di mata orang Yahudi pada saat itu, datang dengan rasa penyesalan yang dalam, dan ia meminta belas kasihan dari Tuhan. Tuhan Yesus mengatakan bahwa pemungut cukai itu dibenarkan Allah, karena ia merendahkan dirinya. Tuhan Yesus telah menjadi pendamaian untuk dosa-dosanya (1Yoh. 2:2). Tetapi si Farisi tidak dibenarkan Allah karena ia meninggikan dirinya.
Perbuatan baik yang hanya dari usaha manusia akan dianggap sebagai prestasi oleh orang yang melakukannya. Ini masih terjadi sampai hari ini. Mereka terjerumus dalam dosa Farisiisme. Mereka berkata, “Lihat tuh, katanya pendeta tapi kelakuannya lebih buruk daripada saya”, “Banyak orang Kristen lebih jahat daripada saya.” Merasa diri bisa menjadi baik dengan usaha sendiri adalah dosa, sebab mereka merasa tidak membutuhkan Allah, dan menganggap rendah keselamatan. Tuhan melihat hal ini sebagai kesombongan, sesuatu yang sangat dibenci-Nya.
Pengikut Kristus harus hidup baik, bahkan lebih baik daripada orang Farisi (Mat. 5:20). Tetapi dari usaha manusia, jelas itu tidak mungkin. Itu hanya mungkin apabila perbuatan baik yang kita lakukan merupakan buah anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus. Jika kita memiliki keselamatan, maka kita pasti berbuat baik, tetapi bukan karena kita sendiri, tetapi karena Allah; bukan supaya kita dipuji, tetapi supaya Allah dipermuliakan; bukan karena hukum agama, tetapi karena prinsip-prinsip kasih Kristus yang melebihi segala hukum; bukan karena usaha kita sendiri, tetapi karena anugerah Allah. Bila adakah kesombongan Farisiisme dalam diri kita, segeralah minta ampun kepada Tuhan.
Perbuatan baik yang kita lakukan merupakan
anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus Kristus.



