Archive for December, 2009
Truth 28 Desember 2009 “Kesepakatan dengan Tuhan”
Baca: Kejadian 12:1–3
Pernahkah Saudara membuat kesepakatan dengan Tuhan, bahwa Saudara menjadi umat-Nya dan Ia menjadi Allah Saudara? Kesepakatan ini sama dengan menjadikan kita sekutu Tuhan. Menjadi sekutu Tuhan artinya kita hidup untuk memenuhi rencana-Nya.
Abraham pernah bersepakat dengan Tuhan, bahwa Ia dipanggil untuk menjadi berkat semua umat manusia. Untuk rencana ini, ia harus keluar dari Ur-Kasdim. Ini sebuah kesepakatan, sebab Abraham memenuhi bagiannya dan Tuhan juga memenuhi bagian-Nya. Sebenarnya dalam hal ini yang diuntungkan adalah Abraham, bukan Tuhan, sebab pasti Tuhan tidak membutuhkan apa pun. Abraham hidup hanya untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya, karena itu ia disebut sekutu Tuhan atau sahabat-Nya (Yak. 2:23). Abraham tidak mempertahankan atau menyisakan apa pun bagi dirinya sendiri. Bahkan ketika Tuhan meminta anaknya, Ishak, untuk dipersembahkan sebagai korban bakaran, Abraham pun bersedia tanpa ada keberatan.
Kesepakatan kita menjadi sekutu Tuhan menuntut segenap hidup kita dipersembahkan bagi Tuhan. Tidak ada yang kita boleh sisakan untuk diri kita sendiri. Memang seharusnya kita sadari, bila kita menghayati betapa besar kasih yang telah diberikan-Nya kepada kita, dan betapa dahsyatnya Tuhan Semesta Alam yang berkenan menjadikan kita sekutu-Nya, maka betapa tidak berartinya segala sesuatu di hadapan-Nya (keluarga, harta, pangkat, kehormatan dan lain sebagainya).
Kita harus sadar bahwa kita tidak akan pernah bisa menguntungkan Tuhan, sebab kita tidak mempunyai apa-apa yang dapat diperhitungkan bisa berguna bagi Dia. Karena itu kita tidak boleh beranggapan bahwa kita berjasa bagi-Nya. Tetapi oleh anugerah-Nya Tuhan bisa melengkapi kita segala sesuatu yang berguna bagi kerajaan-Nya. Dalam hal ini, sikap hati kitalah yang berperan: apakah kita memiliki kesediaan untuk menjadi sekutu Tuhan? Tuhan tidak mencari keuntungan apa pun dari kita, tetapi Tuhan ingin menemukan hati yang mengasihi Dia dan rela berbuat apa pun demi kepentingan-Nya.
Betapa bersyukurnya Abraham menjadi manusia yang dipilih menjadi sekutu Tuhan. Lebih baik tidak pernah menjadi manusia, kalau tidak menjadi sekutu Tuhan. Sebab pilihannya hanya dua: menjadi sekutu atau seteru Tuhan. Patut kita pertanyakan, sekarang kita berdiri sebagai sekutu atau seteru Tuhan? Atau masih ada keragu-raguan? Di penghujung tahun ini, adalah saat yang tepat bagi kita untuk menentukan sikap.
Sudahkah kita membuat kesepakatan untuk menjadi sekutu Tuhan?
Truth 27 Desember 2009 “Unsustainable”
Baca: 1 Yohanes 2:15–17
Untuk dapat menghayati realitas bahwa segala keindahan dunia ini adalah fatamorgana, kita perlu merenungkan bahwa nikmatnya makanan yang paling enak hanya dapat kita nikmati pada waktu makan dan tidak nenetap lama (unsustainable). Ketika sudah berlalu beberapa jam atau bahkan beberapa menit, kenikmatan itu berlalu begitu saja. Kita tidak dapat mengulangi kenikmatannya selain mengulang kembali makan makanan tersebut, itu pun menunggu lapar terlebih dahulu.
Kepuasan dalam memiliki suatu benda apakah itu rumah, mobil, perhiasan dan lain sebagainya juga hanya sesaat. Kita tidak mampu membuat kenikmatan memiliki suatu benda menetap dalam waktu lama. Ada saatnya kita menjadi bosan, kemudian memburu benda yang lain. Pada umumnya manusia dewasa ini terjebak dalam perburuan kenikmatan dan keindahan harta duniawi, sehingga mudah terjangkit virus “affluenza”, yaitu konsumerisme tanpa batas. Alkitab mencatat bahwa dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (1Yoh. 2:17).
Demikian pula dengan kehormatan, sesuatu yang benar-benar abstrak. Kehormatan hanyalah sebuah pengakuan yang tidak memiliki dampak apapun dalam diri seseorang, kecuali rasa puas sesaat yang bersifat fantasi. Oleh sebab itu sesungguhnya betapa bodohnya orang yang gila hormat itu (Gal. 5:26). Tetapi inilah yang menjadi trend manusia dewasa ini, juga masyarakat sekitar kita. Banyak orang yang ingin menjadi anggota legislatif, yudikatif dan eksekutif hanya untuk meraih kehormatan dan kekayaan, bukan karena mau mengabdi kepada bangsa dan negara. Tentu tidak semua demikian, tetapi secara kasat mata bisa kita lihat banyak yang demikian. Buktinya, pada waktu mereka sudah menduduki jabatan tersebut, mereka rela mengorbankan kepentingan rakyat demi mengumpulkan kekayaan bagi kepentingan pribadi.
Sebagai anak-anak Tuhan yang dirancang-Nya untuk mewarisi Kerajaan Surga, kita harus menjauhi pola kehidupan manusia yang akan binasa tersebut. Kenyataan yang ada hari ini, banyak orang Kristen telah terjebak dalam belenggu yang sama seperti anak-anak dunia. Kalau hidup manusia hanya dihabiskan untuk hal-hal tersebut, maka waktu, niat dan potensi akan makin lenyap seiring dengan perjalanan waktu, sehingga tidak ada bagian untuk Tuhan, yang sesungguhnya harta abadi manusia. Akhirnya yang bersisa hanyalah penyesalan, ratap tangis dan kertak gigi.
Sebagai ahli waris Kerajaan Surga,
kita harus menjauhi pola kehidupan yang bertujuan memburu kepuasaan sesaat.
Truth 26 Desember 2009 “Fatamorgana”
Baca: Lukas 16:9–12
Bayangkan, ketika kita menutup mata, ternyata semua keindahan hidup di dunia ini adalah fatamorgana. Fatamorgana artinya hal yang bersifat khayal dan ternyata tidak ada, atau lenyap sama sekali untuk selamanya. Pada waktu itu barulah orang akan menyadari betapa dahsyatnya tipuan dari kuasa kegelapan. Barulah kita dapat menghayati dengan sempurna maksud perkataan Tuhan bahwa keindahan fisik saat ini di dunia ini adalah Mamon yang tidak jujur (ay. 9). “Tidak jujur” artinya menipu. Dalam teks aslinya, kata “tidak jujur” di sini adalah ἀδικία (adikia) yang sebenarnya lebih sering berarti injustice (ketidakadilan) atau iniquity (perilaku yang amoral, keji, bengis, tidak adil). Oleh karena licikinya Iblis dan kebodohan banyak orang, maka banyak orang tidak menyadari bengisnya Mamon tersebut bila disikapi salah atau diperlakukan secara keliru.
Setelah kematian orang yang tidak menjadi sahabat dan kekasih Tuhan, ia akan mengalami kesepian hebat yang tidak terkatakan, kemudian mengalami ketakutan hebat karena Iblis yang menjemputnya masuk ke dalam kerajaan kegelapan abadinya. Ternyata selama di dunia, tanpa mereka sadari, mereka telah membangun persahabatan sebagai mempelai setan yang tidak kelihatan atau tidak nyata-nyata menyatakan diri sebagai oknum yang jahat.
Kuasa kegelapan telah menipu banyak orang hari ini, yaitu dengan memandang Mamon sebagai sahabat abadi. Padahal Mamon yang dijadikan sahabat tersebut ternyata perwakilan setan. Seharusnya Mamon hanya menjadi teman sementara atau alat untuk mengikat persahabatan abadi dengan Tuhan—seluruh kegiatan gereja harus mengarah kepada hal ini.
Menjadikan Mamon sebagai sahabat sejati terbukti dengan ketidaksediaan melepaskan keterikatan jiwanya dengan Mamon. Mereka menganggap hal itu halal, tidak menyalahi norma kehidupan, sebab manusia pada umumnya berbuat demikian. Inilah yang membuat orang kaya yang dikisahkan dalam Mat. 19, tidak memperoleh kehidupan sempurna yang Tuhan sediakan bagi umat pilihan-Nya.
Bagi anak-anak Tuhan yang dirancang untuk sempurna, keterikatan dengan Mamon merupakan kesalahan fatal, bahkan berkategori sebagai pemberontakan. Tuhan menghendaki agar orang-orang percaya bertunangan dengan Tuhan sebagai kekasih dan sahabat abadi. Inilah standar yang Tuhan kehendaki untuk dikenakan dalam kehidupan orang percaya. Kehidupan abadi yang disediakan Tuhan adalah kehidupan yang sesungguhnya; Mamon yang tidak jujur hanyalah fatamorgana.
Sudahkah kita melepaskan jiwa kita dari keterikatan dengan Mamon yang tidak jujur?



