Archive for December, 2009
Truth 31 Desember 2009 “Refleksi Kehidupan”
Baca: Filipi 1:21–22, 3:7–14
Pagi ini mentari kembali menampakkan wajah hangatnya, tetapi mungkin kita tak pernah sempat menikmatinya. Saat kita membuka mata, yang ada di benak kita hanyalah “kerja hari ini”, “karir masa depan”, atau “Aduh… mengapa malam begitu cepat berlalu”. Lalu, dengan harapan semoga tidak terlambat, kita pun bergegas memulai hari kita. Begitu tergesa, begitu sibuk…. Di siang hari, matahari memberikan sinarnya yang paling terik untuk kita. Tapi mungkin kita tidak terlalu menggubrisnya karena terlindung oleh atap gedung. Saat senja tiba, sang surya kembali ke peraduannya, membiarkan rekan penerangnya menemani kerlip bintang. Namun amat disayangkan, kita pun menganggapnya dekorasi semata. Kalau ada ya baik, kalau tak ada ya tak apa-apa. Suatu kerutinan yang kita anggap memang harus ada. Seandainya esok pagi saat membuka mata—jika kita masih diberi hidup— akankah kita rindukan sinar terang sang raja siang atau redupnya sang ratu malam?
Hari ini, genap sudah satu tahun kita diberi kesempatan mengarungi hidup sekejap di dunia ini. Pernahkah kita sadari bahwa detik demi detik hidup kita adalah rahasia Allah? Pernahkah kita renungkan bahwa keberadaan kita hari ini bukan kuasa kita?
Kita hanya menjalani apa yang diberikan untuk kita, dengan satu tujuan: hidup lebih berarti lagi. Di hadapan kita, terbentanglah satu tahun yang baru, satu hari yang baru, dan satu detik yang baru. Dengan apakah akan kita isi?
Sepercik renungan ini mengingatkan kita akan anugerah Allah atas hidup ini. Apakah kita sungguh-sungguh mengakui hal tersebut? Mungkin sebagian besar kita akan menjawab “Amin”. Lalu yang menjadi persoalan adalah, bagaimana kita mengisi hari-hari hidup kita? Sepantasnya kalau kita meresponinya dengan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan dalam hidup ini. Apakah “yang terbaik di mata Tuhan” itu? Tidak ada kata lain selain segenap hidup kita bagi Sang Pemberi Hidup—Tuhan Yesus sendiri. Itulah standar harga untuk membalas kebaikan Tuhan. Kesaksian itulah yang dinyatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi (Flp. 1 : 21).
Jadikanlah momentum di akhir tahun ini untuk berkomitmen meninggalkan cara hidup yang lama, dan menyongsong hari yang baru untuk mempersembahkan segenap hidup kita bagi pekerjaan-Nya di sisa umur hidup kita yang masih diberikanNya kepada kita.
Selamat menyongsong Tahun Baru.
Persembahkanlah yang terbaik bagi Tuhan,
karena kita ada hanya karena anugerah-Nya.
Truth 30 Desember 2009 “Terobsesi Kebersihan”
Baca: Mazmur 24:1–6
Charlize Teron, peraih penghargaan Oscar sebagai aktris terbaik lewat film Monster (2003), yang juga membintangi film Sweet November dan Head in the Clouds mengatakan bahwa dirinya begitu terobsesi pada kebersihan. Akibatnya dia selalu merasa cemas kalau-kalau rumah dan berbagai benda yang disentuhnya tidak cukup bersih. “Bagaimana Anda bisa tidur kalau pikiran terus terusik apakah di dalam lemari yang tertutup pintunya itu semuanya sudah bersih dan rapi? Saya tidak kunjung tidur karena merasa ada sesuatu yang kurang bersih di dalam lemari,” tutur Theron yang dikutip Kompas, Sabtu, 19 September 2009.
Jika ada seseorang yang begitu khawatir akan kebersihan, apakah kita pernah khawatir akan kebersihan hati nurani kita? Apakah pernah kita merasa cemas, kalau-kalau kita masih belum berkenan kepada Tuhan? Dalam Mzm. 24:3–4, Daud mengatakan bahwa yang boleh datang ke gunung Tuhan adalah orang-orang yang bersih tangannya dan murni hatinya.
Di penghujung tahun ini, marilah kita melakukan introspeksi, sudahkah hati nurani kita bersih dan murni. Hati nurani yang bersih pasti mencari wajah-Nya (ay. 6), mengasihi Tuhan dan sesama (Mat. 22:37, 39). Sudahkah kita mengasihi Tuhan? Benarkah kita mengabdi hanya kepada-Nya? Mat. 6:24 mengatakan bahwa manusia tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, artinya mengutamakan dunia dan Tuhan secara bersama-sama. Kita harus memilihnya, kepada siapa kita mengabdi. Hati nurani yang bersih akan menegur apabila ternyata kita belum mengutamakan-Nya.
Apabila kita berkata mengasihi Tuhan, apakah yang kita lakukan di sepanjang tahun ini berkenan di mata-Nya? Atau dalam mencapai tujuan kita—terutama dalam bisnis—ada yang melalui “penipuan dan sumpah palsu” (ay. 4)? Hati nurani yang bersih pasti terusik dengan hal-hal seperti ini, misalnya korupsi atau suap.
Sudahkah kita mengasihi sesama kita, atau apakah yang kita lakukan hanya untuk kepentingan diri kita sendiri? Mudah untuk mengatakan mengasihi sesama, dan mudah menunjukkannya secara lahiriah; tetapi Tuhan melihat hati kita. Misalnya, dalam menolong korban bencana alam, apakah itu kita lakukan karena kita sungguh-sungguh mengasihi mereka, atau supaya orang lain memandang kita seorang yang dermawan dan pemurah, dan meningkatkan citra kita di mata umum? Hati nurani yang bersih akan terganggu bila ada motivasi yang tidak murni.
Apabila selama ini kita masih belum memelihara kebersihan hati nurani kita, segeralah kita bertobat. Berkat dan keadilan dari Allah dalam Juruselamat kita Tuhan Yesus Kristus tersedia bagi orang yang bersih dan murni hatinya (ay. 6).
Bersihkan hati kita dari pengaruh dunia, dan serahkan sepenuhnya kepada Kristus.
Truth 29 Desember 2009 “Skenario Besar”
Baca: Yohanes 17:18–23, 20:21
Apabila Tuhan Semesta Alam Yang Mahatinggi berkenan menjadikan kita sekutu-Nya, pasti sebenarnya ada sebuah skenario besar yang dirancang-Nya. Yang dibidik-Nya bukan hanya pekerjaan-Nya di bumi ini, tetapi pekerjaan-Nya di kekekalan. Mengapa Tuhan sedemikian mempercayai kita? Sebab kita juga berasal dari Tuhan. Ia menghembuskan Roh-Nya sendiri kepada manusia (Kej. 2:7). Jadi tidak heran jika manusia memiliki kemampuan yang tiada tara yang diberikan oleh Tuhan Sang pencipta. Otak manusia yang baru dipakai tiga persen saja sudah sedemikian menakjubkan; apalagi kalau dipakai seratus persen. Tuhan merancang suatu keindahan di kekekalan bersama dengan kita, makhluk dahsyat yang telah diciptakannya.
Sebagai gambaran, pada waktu negara menghadapi musuh, sering dibuka pendaftaran sukarelawan untuk menjadi pejuang atau tentara membela negara. Pada waktu itu seseorang dapat menghayati kehidupan sebagai sekutu dan bagian dari suatu bangsa. Presiden Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy mengatakan, “And so, my fellow Americans: Ask not what your country can do for you—ask what you can do for your country”. “Jangan bertanya apa yang dapat dilakukan negara bagimu, tetapi tanyakan apa yang dapat kamu lakukan bagi negaramu”. Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang telah aku lakukan bagi Tuhan yang telah memberi keselamatan bagiku?” Pertanyaan ini harus terus digemakan dalam hati kita. Untuk mempersiapkan kita masuk ke dalam pekerjaan-Nya di kekekalan, Ia juga memberi kita bagian dalam pekerjaan-Nya di bumi ini. Ia menginginkan kita berperan dalam rencana penyelamatan umat manusia sesuai kehendak Allah Bapa.
Tuhan Yesus berkata: “Seperti Bapa mengutus Aku, sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Menjadi sekutu Tuhan berarti kita harus melanjutkan karya yang telah dikerjakan Tuhan Yesus. Ini berarti seluruh kegiatan hidup kita hanya diarahkan kepada hal ini. Untuk ini hal pertama yang harus kita lakukan adalah mengerti apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam kehidupan pelayanannya. Contoh paling konkret dalam kehidupan pengikut-Nya adalah kehidupan Rasul Paulus.
Dalam proyek penyelamatan umat manusia, Tuhan mempunyai banyak pekerjaan yang harus ditangani. Ia mencari orang-orang yang memiliki hati seperti Daud: mengasihi Tuhan dan rela berbuat segala sesuatu demi kepentingan-Nya. Ketika kita masuk dalam proyek pelayanan yang benar, maka tidak ada hal besar dalam hidup kita, kecuali pelayanan itu. Keindahan dunia pasti tidak akan dapat menjatuhkan kita lagi.
Menjadi sekutu Tuhan berarti kita harus melanjutkan
karya yang telah dikerjakan Tuhan Yesus.



