Archive for November, 2009

Truth 27 November 2009 “Menghayati Kehadiran Tuhan”

Hari ini begitu mudahnya orang memalingkan fokusnya dari Tuhan. Saat kaki melangkah keluar dari pintu gereja, maka Tuhan juga menguap dari pikiran. Ini menjadi irama hidup yang berlangsung dari tahun ke tahun; dan orang tidak merasa bersalah. Mereka merasa telah membayar kewajibannya sebagai orang beragama dengan datang ke rumah ibadah. Menurut mereka, Tuhan cukup diperlakukan seperti itu, dan Ia telah menerima porsi yang cukup untuk dipedulikan. Mereka tidak sadar bahwa kita yang membutuhkan Tuhan, bukan sebaliknya. Mereka menganggap diri mereka sudah jauh lebih baik daripada orang yang sama sekali tidak ke gereja; jauh lebih baik daripada orang-orang yang ada di dalam penjara.

Bagaimana mungkin kita dapat sungguh-sungguh menghayati kehadiran Tuhan dalam kehidupan ini, bila memikirkan Tuhan hanya ketika kita ada dalam ruangan gereja? Kenyataan yang ada ialah banyak orang sebenarnya belum mampu menjangkau Tuhan. Mereka tidak merasakan dan tidak memahami kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Baginya, Tuhan bagai “makhluk asing” yang tidak dikenalinya dalam pengalaman konkret. Semua yang dipahami mengenai Tuhan hanya sebuah teori mengenai Tuhan. Sebenarnya mereka belum bisa merasakan kehadiran Tuhan yang hidup dan nyata dalam kehidupan ini.

Kalau seseorang yang mengingini sesuatu, ia akan memikirkannya senantiasa dan di mana pun ia berada. Mengapa untuk Tuhan kita tidak belajar memikirkannya senantiasa dan di mana saja? Pemazmur mengatakan, “… Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi” (Mzm. 73:25). Bila dengan disiplin kita berusaha memikirkan-Nya sampai Tuhan menjadi lebih dari sebuah kebutuhan—artinya menyatu dengan hidup kita—irama ini menjadi irama abadi yang tidak pernah hilang dari kehidupan kita. Sebagai akibatnya, kita akan berusaha hidup berkenan kepada-Nya. Setiap kali berbuat salah, jiwa kita akan sangat terganggu. Kita akan melayani Tuhan dengan mengasihi sesama, seperti yang Tuhan ajarkan dan memikirkan perkara-perkara yang di atas (Kol 3:1–3).

Marilah kita memikirkan Tuhan setiap saat dan di segala tempat, sampai hal menghayati kehadiran Tuhan merupakan irama yang otomatis berlangsung dalam kehidupan kita. Kita tidak perlu memaksa pikiran kita untuk diarahkan kepada Tuhan, sebab sudah terarah dengan sendirinya. Ini sebuah kehidupan yang benar-benar indah. Tuhan menyediakan segala berkat yang benar-benar luar biasa, melampaui pikiran kita di dalam kehidupan yang menghayati kehadiran Tuhan.

Mind Map Menghayati Kehadiran Tuhan

Mind Map Menghayati Kehadiran Tuhan

Kalau kita benar-benar mengingini Tuhan, pikiran kita akan tertuju pada-Nya

setiap saat dan di segala tempat.

Truth 26 November 2009 “Sikap Berjaga-jaga”

Hari demi hari berlalu. Hampir semua manusia menyelenggarakan hidupnya dengan mengerahkan perhatian dan waktunya untuk segala kesibukan yang tidak pernah ada habisnya. Kesibukan-kesibukan ini berakhir hanya ketika seseorang berbaring di kubur. Sementara itu banyak orang merasa nyaman menggulirkan hari hidup ini, tanpa merasa takut bahwa perjalanan hidup ini bisa berakhir setiap saat tanpa diketahui dan setelah itu mereka harus menghadap tahta pengadilan Kristus (Ibr 9:27). Mengapa mereka tidak takut? Jawabnya sederhana dan pasti, bahwa Iblis dengan segala tipu muslihatnya menutup kesadaran banyak orang terhadap realitas yang dahsyat tersebut dan menyembunyikan bahaya kekekalan.

Karena begitu lamanya hidup dengan pola hidup nyaman tanpa memikirkan “hari esok” di balik kubur tersebut, maka banyak orang sampai tidak sanggup lagi berbalik dan mencari perkara-perkara yang di atas. Tidak sedikit di antara mereka yang menganggap bahwa berbicara mengenai kematian, penghakiman dan pertobatan adalah sesuatu yang tidak up to date lagi, fanatik, ekstrem, bodoh dan tidak perlu. Telinga mereka kurang nyaman mendengar khotbah-khotbah mengenai hal ini; bahkan sampai menolaknya sama sekali.

Rasul Paulus dalam suratnya mengakui bahwa kemah tubuhnya akan dibongkar. Karena itu ia berusaha berkenan kepada-Nya (2Kor. 5:1–10). Kalau manusia sekaliber Paulus memiliki cara berpikir demikian dan di balik pernyataannya terdapat perasaan krisis untuk berkenan kepada-Nya, apalagi kita. Mestinya kita juga memiliki cara berpikir dan perasaan krisis seperti itu, yang di dunia hari ini memang tidak dipedulikan oleh kebanyakan orang. Inilah sebenarnya yang disebut sebagai sikap berjaga-jaga (Mat. 24:42–44).

Berjaga-berjaga adalah sikap memeriksa diri seolah-olah akan segera memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan. Memang selain Tuhan akan segera datang, kematian pun bisa menjemput kita setiap saat. Orang yang berjaga-jaga akan berusaha hidup kudus, tak bercacat, tak bercela di hadapan-Nya. Orang seperti ini tidak akan bisa menyembuntikan dosa. Berjaga-jaga juga berarti tindakan melayani Tuhan, seolah-olah akan segera memberi pertanggungjawaban atas tugas yang harus kita selesaikan selama hidup dalam dunia ini (Mat. 24:45–51). Oleh sebab itu kalau kita belum menemukan tugas kita dari Tuhan, kita harus merasa cemas dan berusaha agar segera menemukannya. Bagaimana kita bisa mati dengan tersenyum, kalau belum menyelesaikan tugas yang dipercayakan Tuhan kepada masing-masing kita?

Mind Map Sikap Berjaga-jaga

Mind Map Sikap Berjaga-jaga

Berjaga-jaga adalah sikap yang selalu siap memberi pertanggungjawaban

kepada Tuhan setiap saat.

Truth 25 November 2009 “Perasaan Krisis”

Berusaha hidup sesuai standar warga Kerajaan Surga tidak akan dilakukan oleh orang yang memang tidak berhasrat menjadi warga Surga tersebut. Dengan demikian, untuk mengerti apakah seseorang sungguh-sungguh berminat ke Surga atau tidak, cukup terlihat dari berapa besar usaha yang telah dilakukannya untuk menjadi warga Kerajaan Surga yang baik. Barangkali ada orang berkilah dengan berkata: “Kami bukannya tidak berminat ke Surga, tetapi kami tidak merasa perlu untuk ekstrem atau berlebihan guna masuk Surga. Kami tidak melihat Tuhan memerintahkan demikian”. Kalau muncul pernyataan ini, pasti mereka belum belajar Firman Tuhan secara orisinal dan jujur. Mereka telah menjalani tahun-tahun panjang dalam asuhan yang salah. Mereka telah diracuni pengajaran yang tidak murni Alkitabiah. Tentu saja standar hidup kekristenan mereka menjadi begitu miskin. Bila diukur dan dibandingkan dengan standar yang seharusnya dicapai, maka tampak masih sangat jauh. Parahnya lagi, mereka tidak memiliki “sense of crisis” (perasaan krisis). Mereka lebih memiliki perasaan krisis berkenaan dengan hal-hal fana di dunia—yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani—daripada perasaan krisis terhadap keadaannya yang belum menjadi seperti yang dikehendaki Tuhan.

Mengapa begitu rendahnya hasrat atau minat seseorang untuk berusaha menjadi warga Kerajaan Surga yang baik? Sebab hasrat atau minat mereka telah diarahkan dalam petualangan panjang mengingini perkara-perkara di bumi, bukan perkara-perkara yang di atas (Kol 3:1-3). Kalau kita masih tidak dapat mengikut Tuhan Yesus dengan benar, mari kita periksa diri kita dengan jujur, masihkah kita dibelenggu oleh hasrat atau minat kepada hal-hal duniawi? Sudahkah kita memikirkan perkara-perkara yang di atas? Bila belum, seharusnya kita merasa krisis sebab hidup kita di dunia ini sesungguhnya amat singkat.

Kemerdekaan dari belenggu hasrat atau minat duniawi tersebut membutuhkan kerja sama dua pihak. Tidak hanya dari kuasa Tuhan yang menjamah kita, tetapi juga dari tekad atau komitmen masing-masing kita untuk mengalami pemulihan kehidupan yang benar di hadapan-Nya. Dengan kerelaan, kita harus membuang segala hasrat atau minat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan tersebut. Caranya dengan memenuhi pikiran kita dengan kebenaran-kebenaran Firman Tuhan yang sejati. Dengan melakukannya, hasrat atau minat yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan akan tersingkir dengan sendirinya. Terang akan mengatasi kegelapan, dan kehendak Tuhan akan makin nyata dalam hidup kita (Yoh. 1:5).

Mind Map Perasaan Krisis

Mind Map Perasaan Krisis

Bila kita masih terbelenggu oleh hastrat dan minat pada hal-hal yang duniawi,

seharusnya sekarang kita merasa krisis.

Redaksi dan Distribusi

Dapatkan Majalah dan Renungan Harian TRUTH di:

Rehobot Literature
Gedung Roxy Square Lt. 3, Jl. Kyai Tapa No. 1
Jakarta 11450
Indonesia

Telepon: +62-21-5695 4546 ext. 30, +62-21-33 6666 70, 08 7878 70 7000
Email: info@truth-media.com

Agen: lihat di Alamat Agen

Visitor
Visits today: 25
Who's Online

15 visitors online now
7 guests, 8 bots, 0 members
Map of Visitors
Powered by Visitor Maps

Truth Media Fans
Facebook Truth Media
Twitter Truth Relite


Kalender
November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
Langganan dg eMail

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Content Protected Using Dynamic Blog Protector By: How To Make Money.

Switch to our mobile site