Archive for November, 2009
Truth 30 November 2009 “Pilihan Untuk Menderita”
Kalau untuk menjadi sahabat Allah tokoh-tokoh Perjanjian Lama harus membayar harga begitu mahalnya, apalagi untuk menjadi sahabat Tuhan Yesus, yang juga sebagai “saudara” dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:29), yang akan mewarisi janji Bapa bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Setiap kita mendapat kesempatan yang sama untuk mengarungi hidup ini dengan petualangan yang luar biasa bersama dengan Tuhan. Murid-murid Tuhan Yesus mendapat kesempatan untuk tetap tinggal bersama-sama dengan Tuhan dalam segala pencobaan yang Tuhan Yesus alami (Luk. 22:28). Kata “pencobaan” disini pirasmos yang selain berarti pencobaan, juga berarti adversity, yaitu kemalangan atau kesukaran hidup. Ini adalah kesempatan yang luar biasa. Pirasmos ini adalah karunia. Kita diberi karunia bukan hanya untuk percaya tetapi juga untuk menderita bersama dengan Dia (Flp. 1:29). Berkenaan dengan hal ini Paulus menasihati anak rohaninya, Timotius, untuk menjadi prajurit yang baik, yaitu prajurit yang menderita (2Tim 2:3). Ada banyak orang yang mestinya berstatus sebagai prajurit, tetapi ada prajurit yang mau menderita, dan prajurit yang menolak menderita.
Pilihan ada di tangan kita. Tuhan tidak memaksa kita. Kita boleh memilih, apakah mau mengiring Tuhan Yesus dengan sungguh-sungguh sampai sepenanggungan dengan Dia, atau hanya mau nikmat di zona kenyamanan kehidupan ini. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Paulus menyatakan bahwa ia lebih suka menderita bagi Tuhan (Flp. 3:10).
Ini hanya bisa dipercakapkan dengan orang-orang yang rela tidak memiliki dirinya sendiri, tetapi sepenuhnya dimiliki Tuhan. Orang-orang yang melakukan segala sesuatunya hanya untuk Tuhan. Orang-orang yang rela kehilangan nyawanya karena Tuhan. Memang kehidupan seperti ini bisa sangat menyakitkan, tetapi kalau kita berani melangkah dan membiasakan diri masuk ke dalamnya, maka kehidupan seperti ini akan menjadi suatu keindahan dan kenikmatan, sampai akhirnya kita tidak dapat memiliki hidup model lain. Kita hanya memiliki model hidup seperti ini, model hidup yang hanya dimiliki oleh sosok Guru dari Nazaret. Pada waktunya ketika kita menutup mata, maka penghuni Surga akan menyongsong kita seperti pahlawan yang pulang dari perang. Tuhan berkata, “Berbahagialah hamba-Ku, berhentilah dari lelahmu dan masuklah ke dalam kemuliaan-Ku.” Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai (Mzm. 126:5).
Mau menderita bersama Yesus berarti siap dimuliakan bersama dengan-Nya.
Truth 29 November 2009 “Mewujudkan yang Diajarkan Alkitab”
Perjalanan hidup kekristenan kita harus menjadi sebuah perjalanan untuk mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab. Mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab pada dasarnya adalah mengalami Tuhan setiap hari secara nyata, sehingga tidak ada keraguan sama sekali atas keberadaan Tuhan dalam kehidupan ini. Mengapa terdapat begitu banyak kisah yang ditulis dalam Alkitab? Untuk apa semua itu disaksikan? Supaya kita dapat mengenal siapa Tuhan itu dan apa hakikat-Nya, dan menemukan pengalaman manusia yang berjalan dengan Tuhan. Hal ini akan menginspirasikan kita, bagaimana menjadi manusia yang berjalan dengan Tuhan. Pengalaman-pengalaman luar biasa tokoh-tokoh Alkitab bersama dengan Tuhan menjadi pengalaman yang kita alami juga.
Kelihatannya ini sederhana, tetapi sebenarnya tidak. Berapa banyak di antara kita yang benar-benar telah mengalami kehadiran Tuhan dalam kehidupannya? Pernahkah kita renungkan bagaimana tokoh-tokoh iman seperti Nuh, Abraham, Yusuf, Musa, Daud, Daniel, Sadrakh, Mesakh dan Abednego, Petrus, Paulus berjalan dengan Tuhan dalam pergumulan hidup yang mereka jalani? Tentu, sebagaimana manusia, ada saat-saat di mana mereka menjadi kecewa dan ragu-ragu terhadap Tuhan yang tidak mudah dipahami, sebab Ia bukanlah Sosok yang mudah diselidiki; selalu ada sisi misteri yang tidak mudah terbaca. Nuh yang membangun bahtera hanya dengan keluarganya sendiri (Ibr. 11:7), Abraham puluhan tahun menanti anaknya dilahirkan, tidak pernah melihat negeri yang dijanjikan, harus mempersembahkan anaknya (Ibr. 11:8–19). Musa menghadapi pahitnya perjalanan di padang gurun (Ibr. 11:24–29). Sadrakh dan kawan-kawan harus masuk dapur api (Dan. 3:8–30), dan sebagainya. Tetapi pada akhirnya mereka menjadi manusia-manusia yang lulus dari kehidupan ini, dan berijazah sebagai “sahabat atau kekasih Allah”.
Untuk mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab, kita harus masuk ke dalam kebenaran Tuhan dengan sepenuh hati dan segenap hidup beserta segala pengorbanannya. Dalam hal ini kita mengerti mengapa Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Pada kenyataannya, tokoh-tokoh iman yang terpilih sebagai sahabat Allah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk menerima panggilan berjalan dengan-Nya. Ketika mereka masih hidup, pasti mereka dianggap konyol oleh orang-orang sezamannya. Tetapi sekarang, setelah ribuan tahun, kita dapat menemukan betapa beruntungnya mereka bisa berjalan dengan Tuhan.
Untuk mewujudkan apa yang diajarkan Alkitab,
kita harus masuk ke dalam kebenaran Tuhan dengan sepenuh hati.
Truth 28 November 2009 “Iman Fantasi”
Banyak orang percaya tanpa sadar hidup dalam iman fantasi. Iman fantasi maksudnya adalah merasa bahwa dirinya telah mencapai apa yang dinyatakan melalui pengakuan dalam pujian maupun doa, padahal kenyataannya belum. Ini sebuah kesalahan mengenal diri sendiri. Misalnya seseorang berkata, “Tuhan hidupku adalah milik-Mu, aku menyerahkan hidupku melayani Engkau.” Padahal kenyataannya ia masih memiliki dirinya sendiri, dan pelayanannya hanya demi kepentingannya sendiri. Mudah sekali mengatakan, “Aku tidak khawatir, sebab Engkau besertaku.” Padahal hidupnya senantiasa khawatir dan cemas. Ini namanya “iman fantasi”.
Iman fantasi adalah kesenjangan yang sangat jauh antara apa yang ada dalam bayangan mengenai imannya dan kenyataan hidup yang dialaminya setiap hari. Ini mirip dengan anak-anak yang merasa sudah sayang kepada orang tuanya, padahal belum—bahkan kadang tidak sama sekali; sebetulnya mereka malah menyusahkan. Mengapa demikian? Sebab mereka tidak memahami apa yang dikatakannya. Mereka tidak tahu apa yang dimaksud dengan “sayang” itu. Selain itu mereka juga tidak jujur melihat dirinya sendiri, karena tidak sanggup untuk jujur atau tidak tahu bagaimana jujur terhadap diri sendiri. Banyak orang Kristen seperti anak-anak ini.
Oleh sebab itu, perlulah kita mengoreksi diri kita sendiri. Jangan-jangan hal yang prinsip yang seharusnya menjadi pengakuan yang benar dan merupakan fondasi iman yang penting ternyata hanya merupakan iman fantasi. Misalnya, kalau orang berkata kepada Tuhan Yesus, “Aku percaya (beriman) kepada-Mu,” benarkah percayanya itu? Ingat, iman tanpa perbuatan sia-sia (Yak. 2:17). Kalau percayanya belum benar—hanya sebuah pengakuan bibir dan persetujuan pikiran atau pengaminan akali, bagaimana mungkin dapat selamat? Sebab keselamatan hanyalah karena iman (Ef. 2:8). Betapa berbahayanya kalau seseorang ternyata memiliki iman fantasi dan tidak ada orang yang menunjukkan kesalahannya tersebut.
Untuk menanggulangi hal ini, maka kebenaran Firman Tuhan yang murni harus disampaikan dengan jelas dan tegas. Kita harus berani berterus terang tanpa takut-takut untuk menyampaikan kebenaran ini. Untuk menanggulangi iman fantasi, ada dua langkah. Pertama, mata pengertian kita harus dibuka untuk memahami kebenaran. Langkah berikutnya adalah harus jujur mengakui keberadaan kita, supaya bertobat dan berubah. Ini adalah proses panjang, sepanjang umur hidup kita. Oleh sebab itu, jangan berhenti bertumbuh dalam pengenalan akan kebenaran Tuhan dan mengoreksi diri terus-menerus dalam pimpinan Roh Kudus (Kol. 1:9–10).
Iman fantasi harus ditanggulangi dengan kerelaan memahami kebenaran dan jujur
mengakui keberadaan kita, supaya bertobat dan berbuah.



