Archive for October, 2009
Truth 28 Oktober 2009 “Prestasi”
Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat. (2Kor. 5:10)
Kata ”prestasi” dalam bahasa Indonesia artinya “hasil yang telah dicapai”. Sejak kanak-kanak, kita telah diajar dan didorong oleh orang tua dan lingkungan kita untuk mencapai prestasi yang terbaik, baik dalam studi maupun karier. Ini telah terpatri dalam jiwa, bahwa hidup ini untuk mengejar prestasi. Demikianlah semua manusia menghabiskan umur hidupnya, mengerahkan segala tenaganya untuk mencapai prestasi yang terbaik. Dalam filosofi hidup manusia pada umumnya prestasi yang baik adalah kebahagiaan, kebanggaan pribadi dan orang tua serta tujuan hidup.
Prestasi yang dianggap tinggi oleh orang biasanya diukur dengan berhasilnya mencapai gelar, meraih kedudukan yang tinggi dalam jabatan, kebahagiaan berumah tangga, banyaknya harta yang dimiliki, yang terwujud dalam bentuk rumah mewah, mobil bagus, perhiasan yang melekat di tubuh dan lain sebagainya. Di lingkungan Kristen, prestasi ini menjadi ukuran apakah seseorang terberkati oleh Tuhan atau tidak.
Konsep prestasi yang seperti ini telah mengakar di dalam pikiran hampir semua orang hari ini. Banyak orang Kristen yang masih terbelenggu oleh konsep prestasi hanya di dunia yang fana ini. Walaupun bibirnya membicarakan kebenaran Firman Tuhan, bahkan mengkhotbahkannya, namun hal ini begitu kuatnya melekat dalam jiwa manusia sehingga mereka tidak pernah berpikir mengenai prestasi di kekekalan. Padahal semua kita harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang kita lakukan selama kita hidup di dunia ini ketika memasuki kekekalan nanti.
Yang disebut prestasi di kekekalan tidak diukur dari berapa tinggi pendidikan, kedudukan, kekayaan, kehormatan yang telah diterima dari manusia. Prestasi di kekekalan menyangkut apakah kita telah mengisi tahun-tahun hidup kita dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan; apakah kita berkenan kepada-Nya (2Kor. 5:9). Oleh karena itu kita perlu berhikmat, mengenakan peta berpikir yang diperbarui agar dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan yang sempurna (Rm. 12:2).
Prestasi di kekekalan menyangkut apakah kita telah mengisi tahun-tahun hidup kita
dengan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
Truth 27 Oktober 2009 “Menanggalkan Sistem”
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya.(Yoh. 1:12)
Kedatangan Tuhan Yesus memberi “gen” baru dalam kehidupan orang percaya. Inilah “kuasa” supaya dapat menjadi anak-anak Allah. Gen baru ini ialah Roh Kudus yang memeteraikan diri orang percaya. Kalau orang percaya tidak aktif berjalan dalam pimpinan Roh setiap hari, semua ini menjadi sia-sia seperti talenta yang disembunyikan (Mat. 25:14–30). Anugerah yang besar ini hendaknya tidak kita sia-siakan.
Perlu dipahami bahwa yang membuat anugerah tersebut menjadi sia-sia ternyata adalah sistem agama yang justru merusak kebenaran. Tuhan Yesus berkata bahwa kini orang tidak menyembah Allah di Yerusalem atau di Gunung Gerizim, tetapi dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:21, 23). Ibadah tidak dibatasi oleh ruangan, waktu dan sistem.
Di alam pikiran hampir semua orang beragama—termasuk orang-orang Kristen—telah terpeta sebuah sistem, peta orang beragama. Peta yang dimiliki tersebut justru lebih banyak pengaruh dari agama-agama sekitar. Kalau di Barat kekristenan berhadapan dengan $ slsafat, tetapi di Timur kekristenan berhadapan dengan agama-agama dan berbagai aliran kepercayaan yang mistis. Filsafat dunia dan berbagai agama tersebut membangun peta berpikir yang bertentangan dengan Alkitab. Kemerdekaan bisa terjadi kalau seseorang tetap dalam Firman, menjadi murid dan mengerti kebenaran (Yoh. 8:31–32).
Sistem agama yang terpeta dalam pikiran banyak orang Kristen dapat menghalangi orang tersebut menerima kebenaran yang diajarkan. Untuk ini kita harus memiliki peta yang diperbarui, yang dikehendaki oleh Tuhan. Untuk memiliki peta yang diperbarui tersebut kita harus mengalami kelahiran baru dari pertobatan terus-menerus. Pertobatan tersebut berupa pembaruan pikiran dari konsep berpikir yang salah (Rm. 12:2).
Dalam Yoh. 3:1–21, Nikodemus tidak bisa mengerti apa yang diajarkan Tuhan Yesus sebab ia telah memiliki sistem dalam pola berpikir beragamanya. Dengan peta yang diperbarui tersebut kita akan dapat menangkap apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Tanpa peta yang diubah, kita tidak akan mengerti bahasa Tuhan (Yoh. 8:43).
Agar tidak menyia-nyiakan anugerah kita sebagai anak-anak Allah, peta berpikir kita
harus menanggalkan sistem agama sehingga dapat mengerti kebenaran.
Truth 26 Oktober 2009 “Amanat Tuhan”
Setiap orang memiliki peta berpikir. Ini disebut juga dengan paradigma, atau pola berpikir, atau sistem berpikir dari syaraf-syarafnya. Peta ini terbangun dari paling tidak tiga hal. Pertama, pengalaman hidup, yaitu reaksi inderanya terhadap peristiwa-peristiwa kehidupan yang telah dijalaninya. Kedua, berbagai filosofi hidup yang diserapnya—di dalamnya termasuk teologi ajaran-ajaran disekitar kita. Ketiga, sifat yang dibawa gen yang dimiliki masing-masing individu dengan karakteristiknya yang khusus dan khas. Siapa kita hari ini adalah akumulasi dari pengalaman kita masa lalu. Dengan melihat hidup seseorang hari ini, kita dapat melihat masa lalu atau perjalanan hidupnya dan gen yang diwariskan dari nenek moyangnya.
Kedatangan Tuhan Yesus hendak memperbarui peta berpikir manusia. Inilah yang dimaksud dengan menebus kita dari cara hidup yang sia-sia, yang diwarisi dari nenek moyang kita (1Ptr. 1:18–19). Proses penebusan ini melibatkan dua pihak. Tuhan melalui Roh Kudus menuntun kita kepada segala kebenaran, dan di lain pihak, kita memberi diri untuk diperbarui-Nya dari hari ke hari.
Inilah sebetulnya isi amanat (mandat) Tuhan Yesus dalam Mat. 28:18–20, supaya kita melakukan segala perintah-Nya. Dalam teks asli, kata “melakukan” ditulis tereo yang bisa berarti to observe (“mempelajari”; “mengamati”; selain itu juga berarti “berpegang teguh”). Itulah sebabnya dalam versi King James teks ini diterjemahkan: “Teaching them to observe all things whatsoever I have commanded you” (Ajarlah mereka untuk mempelajari, mengamati segala sesuatu yang aku perintahkan kepadamu). Kata “perintah” dalam teks aslinya ditulis endellomai yang bisa diartikan “tuntutan” atau “instruksi”. Manarik sekali, dalam ayat ini Tuhan Yesus tidak menggunakan kata nomos yang artinya “hukum”.
Dengan demikian, orang percaya harus mempelajari atau mengamati dengan seksama semua yang diperintahkan, diinstruksikan atau dituntut oleh Tuhan. Jadi kita bukan hanya melakukan perintah tanpa pengertian tentang apa yang diperintahkan oleh Tuhan; kita perlu juga mengerti makna atau esensi dari perintah-Nya tersebut. Maka kita diajar berpikir cerdas untuk mengerti kehendak Tuhan. Di sini yang hendak diajarkan adalah peta, cara atau sistem berpikir. Analoginya, kalau hendak menolong seseorang dapat hidup mandiri dengan nafkahnya, berikan kail, bukan ikan. Dalam hal ini, sistem berpikir adalah kailnya. Dengan memiliki “kail”,seseorang dapat “memancing” sebanyak-banyaknya “ikan kebenaran” yang ada, tentu berdasarkan tuntunan Alkitab sebagai satu-satunya landasan.
Dengan peta berpikir yang diperbarui, kita diajar berpikir cerdas
untuk mengerti makna atau esensi dari perintah Tuhan.



