Archive for October, 2009
Truth 31 Oktober 2009 “Yang Memuaskan Hati Tuhan”
Tuhan Yesus tidak akan puas dengan jumlah anggota yang terdaftar di suatu gereja, tetapi berapa banyak orang Kristen yang telah bersikap hidup seperti Tuhan. Bila ternyata gereja hanya merupakan kumpulan atau sekelompok orang-orang yang beragama Kristen tetapi tidak mengenakan pribadi Kristus, maka berarti seluruh kegiatan pelayananya sia-sia. Dalam hal ini, gereja harus mengubah kehidupan jemaat oleh pertolongan Roh Kudus. Hal yang diubah adalah karakternya, bukan hal lain. Bila fokus perubahan ditujukan pada hal lain, itu berarti gereja menyesatkan dan membinasakan jemaat. Tetapi bila karakter seseorang diubah, maka aspek hidup lainnya juga pasti berubah.
Perubahan karakter akan membuat kita dapat mengenakan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5), memampukan kita dapat menjadi sungai pikiran dan perasaan Tuhan yang dialirkan. Pikiran dan perasaan orang percaya dapat menjadi arus pikiran dan perasaan Tuhan. Dengan demikian seluruh kehidupan ini harus dapat memperagakan keinginan-Nya. Bila sampai di tahap ini, barulah kita dapat memuaskan hati-Nya. Betapa berbahagianya bila kita bisa sampai di tahap dapat “memuaskan hati Tuhan”.
Gereja yang menyukakan hati Tuhan bukanlah gereja yang eksklusif bagi dirinya sendiri, tetapi menjadi berkat bagi masyarakat. Inilah pelayanan yang tidak terbatas.Tidak sedikit orang-orang Kristen yang aktif dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kehidupan setiap harinya tidak mendatangkan berkat bagi orang lain. Dalam berbagai tindakan tampaklah karakter manusia berdosa mereka yang belum diubahkan, dan sebagai akibatnya, banyak orang tersandung, bahkan kehidupannya kontraproduktif dari apa yang dikehendaki Tuhan untuk dapat dicapai. Jiwa-jiwa tidak tergiring ke rumah Tuhan tetapi makin cenderung ke rumah setan. Tuhan Yesus menyebutnya sebagai menjadi batu sandungan bagi Dia (Mat. 16:23). Rencana Tuhan menyelamatkan seseorang menjadi rusak karena perilaku orang Kristen yang tidak menjadi berkat.
Kehidupan yang memperagakan pribadi Kristus bukan hasil dari sebuah pendidikan beberapa bulan atau beberapa tahun, tetapi hasil dari proses panjang yang serius ketika seseorang mematikan “kedagingannya”, supaya Yesus dapat hidup dan berkuasa di dalam dirinya. Hanya kematian terhadap diri sendirilah yang membuat Tuhan Yesus dapat hidup di dalam diri orang tersebut (Gal. 2:19–20; Kol. 3:3–6).
Betapa bahagianya bila kita bisa sampai di tahap dapat memuaskan hati Tuhan.
Truth 30 Oktober 2009 “Pelepasan yang Terpenting”
Melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia ini artinya adalah kesediaan tidak mengingini atau berhasrat memiliki segala sesuatu yang ada di dunia ini sebagai sumber kesenangan yang utama. Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki rumah, mobil dan berbagai fasilitas lainnya. Kita perlu memilikinya sebab kita membutuhkannya untuk menjalani hidup ini dalam pelayanan bagi Tuhan. Itulah sebabnya kita harus bekerja mencari nafkah dengan tekun dan giat bekerja. Kita tidak boleh menjadi beban atau “benalu” bagi orang lain. Kita harus bisa mencari nafkah dan memenuhi segala kebutuhan kita dengan cukup supaya kita tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dan tidak terhalangi turut serta dalam proyek penyelamatan umat manusia.
Orang yang memiliki segala sesuatu untuk melayani Tuhan berbeda sekali dengan orang yang memburu segala sesuatu untuk kehormatan diri sendiri. Orang yang memburu uang dan berbagai fasilitas hidup untuk melayani Tuhan akan puas dengan apa pun yang telah dicapai dalam pendidikan, pekerjaan, bisnis atau segala usahanya. Ia merasa cukup (1Tim. 6:6), tidak akan membahayakan bagi sesama dan tidak menghalalkan segala cara dalam mencari nafkah. Tetapi orang yang memburu uang dan berbagai fasilitas hidup sebagai sumber kesenangannya sendiri akan terjebak dalam pemberhalaan dunia ini, dan membahayakan sesama bahkan menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya. Orang-orang seperti ini digembalakan oleh iblis dan menyembah iblis (Luk. 4:5-8).
Pelepasan dari keterikatan dengan dunia adalah pelepasan yang terpenting dan yang sesungguhnya harus dialami oleh setiap anak Tuhan. Tanpa mengalami pelepasan ini seseorang tidak akan masuk Kerajaan Surga, sebab tidak melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia berarti menolak percaya kepada Tuhan Yesus dan mengiring Dia (Mat. 10:37–39). Orang yang tidak melepaskan diri dari keterikatan dunia adalah orang yang masih hidup dalam pemerintahan Iblis.
Perlu disadari bahwa belenggu ini tidak gampang dilepas. Pelayanan pelepasan yang mengusir setan dalam diri seseorang bukan pelayanan tuntas yang membuat seseorang menjadi anak-anak Tuhan yang berkenan kepada Bapa. Untuk ini pengertian kita harus dibuka untuk mengerti Firman Tuhan dan mengalami nikmatinya persekutuan dengan Tuhan yang nyata dan hidup. Dengan mengerti Firman Tuhan dan mengalami keindahan persekutuan dengan Tuhan, kita pasti akan sanggup untuk melepaskan keterikatan dengan dunia ini.
Pelepasan dari keterikatan dengan dunia adalah pelepasan yang terpenting
dan yang sesungguhnya harus dialami oleh setiap anak Tuhan.
Truth 29 Oktober 2009 “Zona Ketidaknyamanan”
Kita senantiasa harus memeriksa diri sendiri apakah kita telah melakukan kehendak Bapa atau tidak. Untuk itu dibutuhkan suatu kejujuran dan juga kerja keras, sebab melakukan kehendak Bapa bukan sesuatu yang sederhana. Melakukan kehendak Bapa menyangkut dua hal. Pertama, menjalani hidup pribadi kita sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Dengan sikap hati yang benar, tindakan-tindakan konkret yang diwujudkan oleh pemahaman dari kebenaran Firman Tuhan akan dirasakan oleh orang lain di sekitarnya. Kedua, menemukan apa yang dikehendaki Tuhan dalam keterlibatan kita menyelamatkan orang lain untuk masuk Kerajaan Surga. Dalam hal ini, setiap orang pasti memiliki sesuatu yang istimewa yang telah ditaruh Tuhan dalam hidupnya sehingga ia juga memiliki tempat dalam rencana Tuhan bagi proyek penyelamatan umat manusia. Dengan melakukan kehendak Bapa melalui dua hal tersebutlah kita akan dilihat berprestasi di kekekalan.
Sekali lagi ditegaskan, melakukan kehendak Bapa melalui dua hal tersebut tidak sederhana. Dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus menuju prestasi di kekekalan, kita harus berani memasuki zona (wilayah) yang tersulit, zona ketidaknyamanan. Keluar dari kenyamanan hidup dalam usaha berprestasi secara duniawi, kenyamanan dalam naluri manusiawi kita.
Dalam perumpamaan tentang penabur, Tuhan Yesus menjelaskan bahwa kekhawatiran dunia, tipu daya kekayaan, dan keinginan duniawi menghimpit Firman sehingga tidak berbuah (Mrk. 13:22). Oleh sebab itu untuk mengerti kebenaran Firman Tuhan yang diajarkan Alkitab, kita harus meninggalkan atau melepaskan diri dari keterikatan dengan dunia. Dengan pengertian yang benar barulah kita sampai di tahap bersedia melakukan Firman-Nya.
Untuk melibatkan diri kita dalam proyek penyelamatan umat manusia sesuai amanat agung-Nya (Mat. 28:18–20), hidup kita juga berubah fokus. Dari sebelumnya fokus kepada diri sendiri, sekarang terfokus kepada keselamatan orang lain. Irama hidup ini yang bertentangan dengan naluri manusiawi, yang memang pada kodratnya adalah egois, mau dihormati, dihargai, tersanjung, dianggap penting, diutamakan dan memerintah orang lain.
Ketika seseorang belajar meninggalkan naluri manusiawinya, ia akan merasakan ketidaknyamanan, suatu “duri” yang menyakitkan, yaitu salib yang harus dipikulnya. Kalau seseorang bersedia bertahan terus dan mengingat terus prestasi di kekekalan, maka “duri” tersebut menjadi keindahan dan kenikmatan dalam hidupnya.
Ketidaknyamanan yang kita alami ketika melakukan kehendak Tuhan akan menjadi indah ketika Ia memandang kita berprestasi di kekekalan.



