Archive for September, 2009
Truth 30 September 2009 “Jangan Melupakan Tanggung Jawab”
Kembali ke kisah Lazarus dan orang kaya (Luk. 16:19–31), penyebab utama mengapa si orang kaya dan keluarganya tidak peduli terhadap kesaksian Musa dan para nabi adalah sebab mereka menikmati kenikmatan dunia tanpa memedulikan orang lain. Dalam hal ini, kenikmatan dunia menjadi ikatan sehingga seseorang kehilangan kasih terhadap sesama. Orang yang terikat dengan percintaan dunia akan menghabiskan niatnya untuk segala hal yang bertalian dengan kenikmatan hidup di bumi. Itulah sebabnya Abraham berkata kepada orang kaya itu: “Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” Pernyataan Abraham ini bukan berarti kekayaan atau kenikmatan hidup membuat seseorang masuk neraka. Yang membuat seseorang masuk neraka adalah egoisme, dimana seseorang mementingkan diri sendiri sehingga melupakan tanggung jawab.
Banyak orang ingin kaya. Mereka tidak tahu bahwa seorang yang dipercayai dengan harta yang berlimpah memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Bila tanggung jawab tersebut tidak ditunaikan, maka risikonya sangat besar. Adalah bijaksana kalau kita belajar menyerah kepada Tuhan, mohon hikmat agar bila Tuhan memercayakan harta materi kepada kita di bumi ini, kita dapat mengelolanya secara bertanggung jawab agar harta tersebut tidak membinasakan.
Pertanyaan yang perlu dikemukakan adalah: mengapa orang kaya masuk neraka sedang lazarus masuk Surga? Kebaikan apakah yang dimiliki Lazarus sehingga dilayakkan masuk Surga? Dan kesalahan apakah yang ada pada orang kaya sehingga ia masuk neraka?
Kepada Lazarus tidak dituntut untuk melakukan apa yang ia tidak dapat lakukan, tetapi kepada orang kaya ia dituntut untuk berbuat apa yang ia harus lakukan. Kekayaan yang diberikan Tuhan kepada seseorang memuat tanggung jawab. Bahkan apa pun yang Tuhan berikan kepada kita memuat tanggung jawab. Luk.16:12 menjelaskan bahwa kalau seseorang tidak setia dengan harta Tuhan (harta orang lain) maka Tuhan tidak akan memberikan hartanya sendiri. Hartanya sendiri adalah harta di surga. Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa ketika Tuhan Yesus menebus kita, maka kita bukan lagi milik kita sendiri (1Kor. 6:19-20). Semua yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Adapun harta kita adalah Tuhan sendiri, dan kemuliaan yang kita akan terima bersama dengan Tuhan Yesus di Kerajaan-Nya.
Apa pun yang Tuhan berikan kepada kita memuat tanggung jawab.
Truth 29 September 2009 “Mengapa Aku Tidak Diperingatkan?”
Dalam Luk. 16:19–31 dikisahkan mengenai orang kaya yang memohon kepada Abraham agar mengutus Lazarus ke rumah orang tuanya supaya memberi peringatan kepada saudara-saudaranya agar tidak masuk ke tempat celaka yang menyakitkan, di mana terdapat nyala api yang tidak pernah padam. Abraham mengatakan bahwa jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.
Itu menunjukkan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga, seseorang dituntut untuk bertindak dan memiliki niat yang kuat. Menerima Yesus sebagai Tuhan berarti melakukan tindakan nyata seperti yang diperintahkan-Nya. Kesaksian Musa dan para nabi adalah kebenaran yang menyatakan bahwa ada Allah yang hidup yang memiliki rancangan. Ia bukan Allah orang mati tetapi Allah orang hidup (Luk. 20:38). Orang yang ingin hidup bersama dengan Dia harus mengikuti kesaksian Musa dan para nabi, artinya belajar hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Inti dari kitab kesaksian Musa (Taurat) dan kitab para nabi adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hidup dan sesama seperti dirinya sendiri (Mat. 22:37–40).
Seharusnya ketika masih hidup, si orang kaya bisa bertobat dan mengerti bagaimana mengasihi sesama, sebab ada Firman Tuhan. Semestinyalah ia tahu bagaimana harus mengisi hidup ini. Tetapi ia memilih untuk tidak menaati Firman Tuhan. Ia memilih jalannya sendiri. Si orang kaya yang masuk neraka tidak menyalahkan siapapun; ini berarti ia menyadari kesalahannya. Ia berharap dengan orang mati bangkit membuat saudara-saudaranya yang masih ada di dunia akan bertobat. Tetapi Abraham menegaskan, untuk orang yang memang hatinya tidak mau bertobat, tetap tidak akan bertobat walau bertemu orang mati bangkit dari kubur.
Suatu hari nanti, bisa saja banyak orang akan menyalahkan pemberita Firman, “Mengapa Anda tidak memaksa saya untuk berniat ke surga? Mengapa saya tidak diperingatkan?” Itu dikatakannya ketika ia menyaksikan betapa mengerikannya terpisah dari hadirat Tuhan selamanya. Sesungguhnya Firman Tuhan telah disampaikan dengan sangat tegas, tetapi karena memang dasarnya tidak mau bertobat, maka ia tidak mengambil keputusan. Kalau Firman Tuhan yang sedemikian keras dan tegas dinyatakan tidak membuat orang bertobat dan berniat masuk Kerajaan Surga, apalagi pemberitaan Firman yang hanya menekankan pemenuhan kebutuhan hidup jasmani hari ini semata? Tentunya tidak akan membawa orang kepada pertobatan yang sungguh dan tidak mengarahkan hati kepada “perkara-perkara yang di atas”.
Untuk masuk Kerajaan Surga, dituntut tindakan dan niat yang kuat untuk mengasihi
Tuhan dengan segenap hidup dan sesama seperti dirinya sendiri.
Truth 28 September 2009 Lorong Kekekalan “Pergunakanlah Waktu yang Ada”
Merupakan hukum kehidupan yang tidak dapat kita sangkali adalah bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dengan waktu yang berjalan. Sadar atau tidak sadar, kita terikat dengan waktu. Kita harus tunduk kepadanya, sebab tidak seorang pun yang sanggup menghentikan waktu. Kenyataan ini harus kita camkan dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita masa bodoh.
Selama ini orang mengungkapkan “waktu adalah uang”. Kemudian rohaniwan menangkisnya dengan konsep “waktu adalah anugerah”. Benarkah waktu adalah anugerah? Benar sebagian, sebab waktu adalah anugerah bagi orang tertentu, tetapi sebaliknya menjadi kutuk bagi orang yang lain. Waktu menjadi anugerah bagi orang yang memanfaatkannya secara bijaksana (Ef. 5:15–17), sebaliknya waktu menjadi kutuk bagi orang yang mengisi hari-hari hidupnya dengan tidak bijaksana.
Dalam waktu hidup ini terdapat kesempatan, yang bisa diibaratkan sebagai kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran Allah atau sebaliknya menjauhinya. Dalam Ef. 5: 16, Paulus berkata, “Pergunakanlah waktu yang ada.” Di sini waktu ibarat kendaraan yang dimanfaatkan; maksudnya, diarahkan ke tujuan yang benar. Sebab waktu tetap berjalan, tidak ada yang dapat menghentikannya. Setiap orang terseret oleh waktu itu. Karenanya sementara kita diseret oleh waktu, hidup di dalam waktu ini harus diarahkan ke tujuan yang benar (1Kor. 9:26). Waktu ini sangat singkat, artinya kendaraan yang membawa kita kepada kebenaran ini terbatas masa penggunaannya (Yak. 4:4; 1Ptr. 1:24). Menyadari hal ini maka kita harus memiliki hati yang bijaksana (Mzm. 90:10). Oleh sebab itu, jangan kita gunakan waktu yang tersisa ini untuk hal-hal yang tidak Tuhan kehendaki; tetapi gunakanlah secara bijaksana (1Ptr. 4:2–3).
Memang kenyataannya masih banyak manusia tidak menggunakan waktu dengan bijaksana dan tidak membawa diri kepada kebenaran Allah. Banyak waktu yang mereka gunakan untuk sekadar mengumpulkan harta, meraih cita-cita duniawi seperti pangkat, prestasi, gelar dan sebagainya. Waktu digunakan untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan, seolah-olah hidup ini adalah kesempatan satu-satunya bagi manusia memiliki kesadaran. Ia lupa bahwa hidup ini sekarang baru permulaan dari sebuah kesadaran abadi (1Kor. 15:32; Luk. 16:19–31). Di balik kehidupan hari ini, masih ada kehidupan yang panjang yang disediakan Allah, yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh-tokoh iman (Flp. 3:10–11). Gereja Tuhan harus menggiring jemaat kepada kehidupan yang penuh harapan (1Ptr. 1:3–4): harapan untuk hidup dalam kekekalan bersama dengan Tuhan.
Waktu menjadi anugerah bagi orang yang memanfaatkannya secara bijaksana,
sebaliknya menjadi kutuk bagi mereka yang tidak bijaksana.



