2 Januari 2015: Menciptakan Keindahan 1

Kalimat “indah pada waktunya” hendaknya tidak dipahami bahwa keindahan itu datang dengan sendirinya sesuai dengan jadwalnya. Seakan-akan keindahan itu datangnya hanya oleh anugerah Tuhan semata-mata tanpa peran manusia sama sekali. Dalam hal ini seakan-akan Tuhan sudah menentukan “momentum”-nya. Ada penyusunan “time table” oleh Tuhan yang bersifat mutlak; tidak bisa diubah. Kalau seseorang berpikir bahwa keindahan akan terwujud sesuai dengan jadwal Tuhan yang ketat dan tidak seorang pun dapat menunda serta membatalkannya, berarti Tuhan bertindak secara otoriter dan absolut atas ciptaan-Nya. Segala sesuatu ada dalam skenario Tuhan. Manusia hanya menerima saja apa yang telah ditentukan dalam kedaulatan-Nya yang mutlak. Dalam hal ini manusia hanya menjadi obyek semata-mata, tanpa hak dan kewajiban. Manusia hanya menunggu waktu dimana Tuhan memberikan keindahan.

Konsep di atas ini menempatkan manusia hanya menerima saja apa yang ditentukan baginya, termasuk juga mengenai jadwal waktunya. Mestinya tidak demikian. Tuhan adalah Tuhan memberi kehendak bebas kepada manusia. Manusia dapat menentukan takdirnya sendiri, baik meliputi kehidupannya yang sementara di bumi maupun nasib kekalnya. Sama seperti Adam menentukan takdirnya sendiri. Kejatuhan manusia ke dalam dosa tentu bukan karena skenario Tuhan. Tuhan memberi manusia kebebasan untuk menentukan keadaannya. Tuhan pun tidak mencegah ketika Hawa memetik buah itu dan memberikannya kepada suaminya. Akhirnya bukan keindahan yang datang tetapi kutuk. Mereka tidak mengenal keindahan yang datang pada waktunya karena mereka telah kehilangan keindahan itu untuk selamanya.

Seorang pelajar yang malas tidak bisa berkata mengenai studinya akan “indah pada waktunya”. Ia tidak akan mengalami keindahan sampai kapan pun. Seorang yang tidak menjaga pola hidup dan pola makan yang baik tidak berhak mengatakan indah pada waktunya

berkenaan dengan kesehatan tubuhnya. Yang ada adalah sakit dan kematian pada waktunya. Bagaimana pun manusia harus tunduk kepada hukum tabur tuai. Apa yang ditabur seseorang itulah yang akan dituainya.1 Berkenaan dengan waktu atau saat yang indah yang dinantikan, manusia itu sendiri ikut berperan dalam mewujudkan “momentumnya”. Jadi bukan secara mutlak dan absolut Tuhan menetapkannya. Dalam hal ini manusia dilibatkan untuk menentukan “takdirnya”.

Berkenaan dengan keindahan yaitu menjadi serupa dengan Tuhan Yesus, hal ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya dan dalam waktu singkat. Tuhan sendiri tidak mengadakan “sulapan” untuk mengubah orang pilihan-Nya yang mengasihi Dia. Melalui perjalanan waktu yang panjang seorang anak Tuhan yang mengasihi Tuhan diproses Tuhan secara luar biasa melalui segala peristiwa yang diijinkan Tuhan terjadi.2 Perubahan itu bisa terjadi setelah seorang anak Tuhan menerima didikan Bapa dalam waktu yang panjang. Kalau orang tua di bumi ini mendidik dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka pandang baik, tetapi Bapa di surga menghajar orang percaya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya.3

Indah pada waktunya berarti pada waktunya setelah mengalami proses pembentukan Tuhan seseorang menjadi seperti Tuhan Yesus, sehingga seseorang layak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah puncak dari keindahan dimana orang percaya menyaksikan penggenapan dari rencana Bapa yaitu membangun Kerajaan bagi Putra Tunggal-Nya; dimana setiap lutut berlutut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.4 Pada akhirnya, keindahan adalah hasil kerjasama antara manusia dan Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran. Berdirinya Kerajaan Allah pun melibatkan peran manusia, bahkan manusia pun turut serta mempercepat kedatangan Tuhan.

1) Galatia 6:7 2) Roma 8:28 3) Ibrani 12:9-10 4) Filipi 2:9-11 5) 2Petrus 3:9-12

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.