19. KONSEP KEPASTIAN MASUK SURGA DALAM PENGHAKIMAN

Banyak teolog berpendapat bahwa Allah memilih dan menentukanorang yang pasti menerima anugerah untuk diselamatkan. Sejatinya pandangan ini tidak tepat. Untuk menemukan makna orisinil dari ayat-ayat Alkitab yang berbicara mengenai hal tersebut, seorang penafsir tidak boleh terbelenggu atau tersandera oleh suatu premis, sehingga pengertian terhadap ayat-ayat tersebut sudah didasarkan pada premis di dalam pikirannya. Hendaknya kita tidak dengan gegabah menyatakan bahwa Tuhan memilih dan menentukan orang-orang tertentu pasti selamat masuk surga berdasarkan kedaulatan-Nya secara sepihak. Bila demikian, berarti kita sudah mulai menilai Tuhan dengan pikiran manusia yang sangat terbatas. Sebagai akibatnya, timbul dugaan dan tuduhan bahwa ada orang-orang tertentu yang oleh kedaulatan Tuhan juga dipilih dan ditentukan untuk binasa. Ini suatu hal yang tidak mungkin, sebab Allah yang adalah kasih adanya, tidak menghendaki seorang pun binasa (1Ptr. 3:9-11).

Pemilihan dan penentuan tidak boleh diartikan sebagai langkah Allah Bapa tanpa pertimbangan apa pun, menunjuk siapa yang selamat masuk surga dan yang lain berarti masuk neraka.Dalam hal ini Tuhan tidak akan memilih dan menentukan tanpa “sistem” atau tatanan dalam diri Allah yang sempurna. Harus diingat bahwa “yang dipilih” adalah orang-orang yang mendapat kesempatan untuk hidup di zaman Perjanjian Baru, mendengar Injil, dan memiliki kapasitas untuk merespon anugerah. Adapun “yang ditentukan” adalah standarnya, yaituuntuk serupa dengan Yesus, hidup kudus, dan berkeberadaan sebagai anak-anak Allah (Rm.8:28-29; Ef. 1:4-5).

Mereka bersikeras berpendapat bahwa Allah menentukan keselamatan individu atas pilihan dan penentuan-Nya. Argumentasi-argumentasi tersebut menciptakan pemikiran yang tidak logis dan menggambarkan Allah sebagai “Sosok” yang memiliki pemikiran yang tidak logis dan berkepribadian tidak adil, tidak sehat, dan aneh. Seharusnya orang percayamenyadari bahwa dirinya tidak berhak mengemukakan pernyataan tersebut. Dengan hormat, orang percaya harus mengakui bahwa Allah adalah “Allah yang transenden dan transempiris” (melampaui akal dan pengalaman manusia). Manusia tidak boleh masuk atau berintervensi ke wilayah Tuhan, karena wilayah tersebut tidak akan bisa dimasuki oleh pikiran manusia.

Hendaknya kita tidak mempersempit pandangan kita mengenai pemilihan dan penentuan tersebut dengan merumuskan bahwa tindakan Tuhan hanya berdasarkan kedaulatan-Nya. Kalau manusia memiliki kedaulatan bisa berlaku sewenang-wenang (walau terbatas), tetapi Tuhan dalam kedaulatan-Nya tidak mungkin bertindak di luar kesucian, keadilan, dan keagungan pribadi-Nya. Tuhan bisa saja merancang orang-orang untuk diselamatkan, tetapi Tuhan tidak mungkin merancang seseorang untuk binasa, sebab jelas sekali Firman Tuhan menyatakan bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Hakikat Tuhan yang kasih adanya itu tidak mungkin merancang seseorang binasa dalam siksaan lautan api kekal. Adapun apakah seseorang menolak atau menerima rancangan-Nya tergantung kehendak bebas masing-masing individu.

Jika seseorang mengakui kedaulatan Allah atas segala sesuatu, berarti juga harus mengakui bahwa kenyataan manusia binasa juga dalam wilayah kedaulatan-Nya.Kedaulatan seperti ini adalah kedaulatan “sewenang-sewenang” yang menyalahi prinsip kasih dan keadilan. Di sini Tuhan direpresentasikan sebagai Pribadi yang kejam, suka-suka sendiri tanpa kebijaksanaan. Ini pandangan yang salah. Tuhan pasti bertindak berdasarkan kebijaksanaan, kasih, dan kecerdasan yang sempurna. Kebinasaan menunjuk kepada siksaan yang kengeriannya digambarkan Tuhan Yesus sebagai tempat di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api yang tidak pernah padam. Ulat-ulat bangkai menunjuk tempat yang tidak menyenangkan. Semua itu adalah kengerian dahsyat wujud hukuman Allah (Mat. 5:22; Mrk. 9:43,48), ratap dan kertak gigi (Mat. 8:12), dan kegelapan dalam waktu yang tidak terbatas (Mat. 8:12; Why. 14:11). Dan ditegaskan bahwa Tuhan tidak merancang manusia ciptaan-Nya untuk berada di tempat ini.

Tuhan tidak mungkin membiarkan orang binasa atau sengaja membinasakan manusia. Tuhan memberikehendak bebas manusia memilih dan menentukan keadaannya, baik di bumi maupun di kekekalan; selamat atau binasa. Kalau seseorang berpandangan bahwa secara sepihak Allah menentukan keselamatan manusia, maka ia tidak boleh berbicara dan meyakini adanya penghakiman. Kalau Allah menentukan seseorang selamat atau binasa maka tidak perlu adanya penghakiman atau pengadilan. Penentuan atau penetapan Allah membuat pengadilan atau penghakiman tidak dapat tampil secara proporsional.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.