18. Manusia Yang Gagal

KEAGUNGAN HIDUP KEKRISTENAN bukan karena menjadi aktivis atau menjadi pendeta, tetapi senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh ini, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh ini.1 Inilah yang Paulus maksudkan dengan “persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya”.2 Apa maksud pernyataan Paulus ini? Untuk menjawabnya, perlulah kita memeriksa secara teliti seluruh perikop di dalam 2Korintus 4. Perikop ini berbicara mengenai perjuangan mengenakan kehidupan sebagai anak-anak Allah di tengah-tengah masyarakat Korintus yang sangat fasik dan kafir. Anak-anak Allah harus memiliki posisi atau keberadaan yang berbeda dengan mereka yang bukan anak-anak Allah.

Paulus aktif dalam pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepadanya.3 Hidup Paulus sepenuhnya merupakan perjuangan untuk pekerjaan Tuhan. Pengorbanannya berupa harta, jiwa sampai penderitaan fisik. Hal itu akan membentuk gaya hidup yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Ini adalah profil dari seorang yang telah kehilangan hidup, tetapi memperoleh hidup yang baru. Gaya hidup seperti ini jika terus dikembangkan terus akan sampai pada kualitas hidup “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku”.4 Ini juga yang dimaksud dalam Kolose 3:1-4, bahwa orang percaya sudah mati, hidupnya tersembunyi bersama dengan kristus di dalam Allah. Sampai pada level ini seseorang dapat disebut sebagai “hidup baru” di dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang pantas disebut sebagai pengikut Kristus dan layak disebut sebagai “Kristen” yang artinya seperti Kristus. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Paulus dalam 2Korintus 4:10, yaitu supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.

Dengan demikian, seseorang barulah menjadi saksi yang efektif -yang dapat membuktikan bahwa Tuhan Yesus bukan tokoh dongeng, bahwa Dia adalah Anak Allah yang mati dan bangkit, bahwa Dia hidup dan berkuasa yang suatu hari akan tampil sebagai Raja. Kehidupan seperti inilah yang dirindukan oleh Allah Bapa sehingga seseorang pantas mendapat sertifikat yang berbunyi: Inilah anak-Ku yang Ku-kasihi, kepadanya Aku berkenan. Dalam hal ini proses keselamatan harus terselenggara dengan baik. Pengalaman ini tidak dialami oleh orang yang tidak mengalami kelahiran baru. Gaya hidup seperti ini adalah gaya hidup bangsawan Surgawi yang bisa diajak menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Tentu saja hanya orang-orang seperti ini yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus.5 Hanya, untuk mencapai level ini seseorang harus berjuang dengan perjuangan keras tanpa batas. Tidak mungkin dapat dialami secara otomatis atau kerja setengah-setengah. Hal ini sangat tergantung pada masing-masing individu. Tuhan memberikan fasilitas keselamatan, tergantung masing-masing orang apakah memanfaatkannya atau tidak.

Untuk mewujudkan kehidupan yang luar biasa ini seseorang harus berani meninggalkan pola hidup wajar pada umumnya. Manusia pada umumnya adalah manusia yang tidak mencapai standar tata laksana hidup yang dikehendaki Allah. Mereka tergolong manusia yang gagal. Bukan berarti manusia menjadi biadab seperti hewan, tetapi manusia berkeadaan tidak menjadi persis seperti yang Allah Bapa kehendaki. Standar yang benar seperti yang Allah kehendaki adalah kehidupan yang diperagakan oleh Tuhan Yesus. Kehidupan Tuhan Yesus adalah kehidupan dalam ketaatan yang tidak bersyarat kepada Allah Bapa,6 penghormatan yang sempurna kepada Bapa dan kasih cintanya yang sangat mendalam kepada Allah Bapa tanpa batas. Walaupun status seseorang di mata masyarakat adalah orang baik, sukses dalam studi, karir, ekonomi, rumah tangga dan lain sebagainya, tetapi jika mereka tidak pernah mengenakan gairah hidup yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, maka sesungguhnya mereka tidak memiliki keharuman yang menyukakan hati Tuhan.

1) 2Korintus 4:10 ; 2) Filipi 3:10 ; 3) 2Korintus 4:1; 4) Galatia 2:19-20 ; 5) Roma 8:17 6) Filipi 2:7-10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.