16. UKURAN PENGHAKIMAN YANG BERBEDA

Terkait dengan penghakiman atau pengadilan Tuhan, kita harus memahami tatanan Tuhan bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit tentu juga dituntut sedikit. Hal ini terkait dengan penjelasan diatas mengenai pengertian dosa bagi masing-masing komunitas. Dengan demikian, penghakiman atau pengadilan Tuhan atas manusia dan komunitasnya berbeda-beda. Perbedaan ini menyangkut obyek manusia atau komunitasnya yang berkeadaan khusus (tidak semua komunitas memiliki keadaan yang sama) dan subyek hukum atau tatanan moral yang dipahami oleh masing-masing individu dan komunitas. Dalam hal ini, nampak jelas keadilan dan kebijaksanaan Tuhan atas masing-masing individu dan kelompoknya. Jadi setiap orang dihakimi menurut ukuran masing-masing yang tidak sama.

Kebenaran di atas ini, diteguhkan oleh Firman Tuhan yang tertulis dalam Wahyu 20:12 yang berbunyi: “Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu”. Kita harus teliti memerhatikan kalimat di dalam ayat ini, yaitu adanya kitab-kitab (lebih dari satu), dimana setiap orang dan komunitasnya dihakimi berdasarkan apa yang tertulis di dalam kitab-kitab itu. Hal ini menunjukkan adanya ukuran norma atau hukum yang berbeda-beda, yang menjadi dasar penghakiman atau pengadilan atas setiap individu. Kitab-kitab yang dimaksud di ayat tersebut menunjuk berbagai ukuran norma atau hukum yang banyak terdapat di dunia, sesuai dengan budaya dan moral masing-masing suku bangsa dan keyakinan. Tidak mungkin seseorang dihakimi dengan ukuran norma dan hukum yang tidak dipahami.

Penjelasan mengenai penghakiman atau pengadilan yang didasarkan atas berbagai ukuran norma atau hukum, juga dijelaskan oleh Paulus dalam Roma 2:12-16, “Sebab semua orang yang berdosa tanpa hukum Taurat akan binasa tanpa hukum Taurat; dan semua orang yang berdosa di bawah hukum Taurat akan dihakimi oleh hukum Taurat. Karena bukanlah orang yang mendengar hukum Taurat yang benar di hadapan Allah, tetapi orang yang melakukan hukum Tauratlah yang akan dibenarkan. Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela. Hal itu akan nampak pada hari, bilamana Allah, sesuai dengan Injil yang kuberitakan, akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia, oleh Kristus Yesus”. Dari ayat ini sangatlah jelas ada penghakiman atas orang yang tidak memiliki Taurat berdasarkan Taurat (hukum) yang tertulis di dalam nurani mereka. Sedangkan Bangsa Israel dihakimi menurut Taurat yang tertulis secara harafiah.

Orang Kristen dituntut banyak karena mereka mengenal Tuhan Yesus yang adalah Juruselamat dan mengenal Injil; Injil itu kuasa Allah yang menyelamatkan. Menyelamatkan itu artinya mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yang semula, dimana manusia bisa menjadi manusia yang segambar dan serupa dengan Allah. Untuk memperoleh keselamatan, seseorang harus memiliki iman. Jadi keselamatan adalah standar dangoal satu-satunya yang harus dicapai orang percaya. Hal ini membuat penghakiman atas orang percaya memiliki ukuran yang berbeda.

Iman atau percaya berarti menyerahkan diri kepada obyek yg dipercayai, jadi kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus kita menyerahkan diri kepada segala sesuatu yang diajarkan-Nya untuk dikenakan dalam kehidupan ini. Untuk ini orang percaya harus mengenal dengan benar pribadi-Nya, memiliki hubungan yang riil dengan Dia, mengerti kehendak-Nya dalam segala hal, dan melakukan kehendak-Nya tersebut. Inilah yang menentukan kualitas iman kita. Kualitas iman tersebut menentukan kualitas hidup kita yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Tuhan nanti. Menjadi kemutlakan agar orang percaya sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Orang percaya dihakimi dengan ukuran yang berbeda dengan mereka yang tidak percaya. Orang percaya harus sampai tingkat kehidupan sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48), berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10), serupa dengan Yesus (Flp. 2:5-7), hidup tidak bercacat dan tidak bercela (Flp. 1:10), berkeadaan kudus seperti Bapa kudus (1Ptr. 1:16), mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10), mengenakan kodrat Ilahi (2Ptr. 1:3-4).

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.