14. MENYERAHKAN WILAYAH HIDUP KEPADA TUHAN

Mematikan keinginan daging di mana ada natur dosa adalah proses yang paling sulit dalam kehidupan orang percaya. Banyak mereka yang menghindarinya, bahkan berusaha menjauh. Mereka merasa memiliki hak untuk mengatur hidupnya sesuai dengan selera dan keinginannya sendiri. Salib bagi mereka adalah ancaman kebahagiaan atau dipandangnya sebagai pola hidup tidak normal. Tetapi bagi yang mengerti kebenaran, salib adalah jalan kehidupan. Salib mengandung kekayaan yang tidak terhingga. Salib adalah alat transaksi menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Tidak ada kehidupan dan kemuliaan tanpa kematian. Tidak ada Kekristenan sejati tanpa salib. Kehidupan Kekristenan tanpa salib adalah kepalsuan. Inilah Kekristenan produk Iblis yang menipu banyak orang, tetapi laku keras di pasaran.

Lebih banyak orang Kristen yang menolak memikul salib, sehingga memilih meletakkan salibnya dan menikmati keinginan daging, dosa, serta dunia dengan segala keindahannya seperti anak-anak dunia menikmatinya. Pada waktu itu proses penyaliban daging terhambat bahkan berhenti. Bagi mereka yang memiliki komitmen tulus untuk mengasihi Tuhan, akan ditegur dengan pukulan agar kembali ke “Taman Getsemani dan Via Dolorosa” Tuhan. Tetapi mereka yang tidak memiliki komitmen mengasihi Tuhan bisa dibiarkan sampai kematian menjemput mereka dan mereka tidak pernah memikul salib. Kalau Tuhan memberikan pukulan atau dengan berbagai cara mengingatkan kita untuk kembali ke jalan salib, maka kita tidak boleh mengabaikannya, sebab kalau kita tidak memedulikan maka tidak akan ada peringatan lagi. Ini berarti kerugian yang tiada tara.

Saat kesempatan memikul salib berlalu atau lewat, berarti kesempatan untuk menerima keselamatan juga hilang. Salib merupakan cara Allah mengajarkan bagaimana kita dapat mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Bagaimana seseorang bisa memiliki pikiran dan perasaan Kristus, mengosongkan diri, dan taat sampai mati di kayu salib kalau tidak memiliki pengalaman yang sama dengan Dia? (Flp. 2:5-7). Kalau Tuhan Yesus mengalami penyaliban secara fisik, maka orang percaya cukup mengalami penyaliban dari natur daging dosa, tanpa penderitaan fisik (Ibr. 12:2-4). Itulah sebabnya Kekristenan tidak boleh menjadi sekadar sambilan dalam kehidupan ini. Keristenan harus menjadi seluruh kehidupan kita. Kita harus rela memiliki kehidupan yang disita untuk belajar memikul salib.

Sesungguhnya proses menyangkal diri dan memikul salib adalah proses memperluas wilayah hidup dalam diri seseorang untuk dapat dimiliki oleh Tuhan. Hal tersebut akan terus dialami sampai seluruh wilayah hidup orang tersebut dikuasai sepenuhnya oleh Tuhan Yesus Kristus sebagai Penebusnya. Seseorang yang menolak memasuki proses menyangkal diri dan penyaliban diri berarti tidak bersedia dimiliki oleh Tuhan (Gal. 5:24-25). Itu berarti hidupnya dimiliki oleh kuasa kegelapan yang akhirnya tidak bisa diklaim sebagai milik Allah. Inilah orang-orang yang menjual diri kepada dunia atau kepada setan; orang-orang yang kawin dengan dunia sampai distempel Iblis. Orang-orang seperti ini disebutkan oleh Alkitab sebagai pezina (Yun. moikhalides; μοιχαλίδες), orang-orang yang tidak setia, yang menjadikan dirinya sebagai musuh Allah (Yak. 4:4).

Paulus menangisi orang-orang Kristen seperti ini yang ditulis dalam suratnya kepada jemaat Filipi: “Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus” (Flp. 3:18). Tulisan kepada jemaat Filipi tersebut tidak ditujukan kepada orang kafir, tetapi kepada orang Kristen yang tidak mau menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya. Oleh karenanya, Paulus menganjurkan mereka untuk meneladani dirinya, seperti ia telah meneladani kehidupan Tuannya (Gal. 2:19-20). Jika seseorang tidak meneladani kehidupan Tuhan Yesus berarti ia menjadikan dirinya musuh salib.

Jika Tuhan masih memberi kesempatan kita untuk bertobat, menyangkal diri dan memikul salib berarti masih ada peluang untuk kita dapat disempurnakan. Tetapi kalau seluruh wilayah hidup kita belum diserahkan kepada Tuhan atau banyak dikuasai oleh diri sendiri, ini berarti bahwa kita tidak menundukkan diri kepada Tuhan Yesus. Ketika berhadapan dengan Tuhan nanti, mereka akan mendapat perlakuan seperti yang dikatakan Tuhan Yesus dalam Lukas 19:27, “Akan tetapi semua seteruku ini, yang tidak suka aku menjadi rajanya, bawalah mereka ke mari dan bunuhlah mereka di depan mataku.” Tuhan Yesus akan bersikap tegas terhadap mereka yang tidak tunduk kepada-Nya, yaitu kepada mereka yang tidak mau memberikan wilayah hidupnya bagi Tuhan. Ketika seseorang menyangkal diri dan memikul salibnya, ia belajar untuk memberikan persembahan kepada Tuhan, dari jumlah kecil sampai seluruh hidupnya tanpa batas. Jika demikian maka barulah ia bisa diklaim sebagai milik Tuhan. Sampai tingkat ini, seseorang tidak bisa dimiliki lagi oleh kuasa mana pun.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.