14. Mengoreksi

ROH MANUSIA ADALAH pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya,1 maksudnya adalah bahwa roh manusia bisa menjadi suara Tuhan. Kata menyelidiki dalam teks aslinya adalah chapas ( חָפשַׂ ). Kata ini berarti sama dengan melihat dengan teliti untuk menemukan sesuatu. Adapun terjemahan kata “lubuk hati” menunjuk ruangan yang terdalam (Ibr. cal khetther beten ־ כָּל־חַדְרֵי בָטֽןֶ ), Kalimat ini dalam bahasa Inggris diterjemahkan the inward parts of the belly or womb. Hal ini menunjuk ruangan yang paling terdalam di hati manusia. Menyelidiki seluruh lubuk hati, artinya Tuhan yang akan mengoreksi nurani kita dalam neshamah dan membersihkan nurani dari segala hal yang dipandang Tuhan sebagai tidak pantas berada di dalam jiwa dan kepribadian anak-anak Allah. Mereka yang dikoreksi oleh Tuhan adalah mereka yang membuka dirinya untuk Tuhan agar mengalami pertumbuhan sempurna seperti Kristus. Orang yang bersungguh-sungguh memperkarakan hal ini akan dapat mendengar suara Tuhan ketika mengoreksi dirinya.

Perjalanan hidup yang panjang dari seorang anak manusia, membuat jiwanya banyak yang telah diterimanya yaitu melalui apa yang didengar dan dilihat. Hal itu membangun filosofi hidup. Filosofi hidup yang permanen atau semi permanen tersebut tertanam di dalam nuraninya. Semakin panjang umur hidup seseorang, semakin kuat filosofi yang berasal dari apa yang paling banyak atau paling dominan yang diterima orang tersebut melalui jendela jiwanya, yaitu mata dan telinga. Kalau yang diterima buruk maka filosofinya juga buruk, hal ini menentukan keadaan nuraninya, nuraninya juga menjadi buruk, tetapi kalau yang diterima baik maka nuraninya juga baik. Nurani inilah yang kemudian mengontrol dan mengendalikan seluruh hidup seseorang. Segala sesuatu yang dilakukan seseorang didasarkan pada pengertian dan standar moral yang telah tertanam di dalam nuraninya. Jadi, suara nurani itulah yang dominan mempengaruhi dan mendorong seseorang dalam melakukan segala sesuatu, maka perbuatan seseorang adalah ekspresi dari nuraninya. Semakin baik nuraninya maka pasti mengekspresikan kebaikan yang tinggi kualitasnya. Firman Tuhan mengatakan: Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?2

Ketika seseorang telah bertumbuh mengenal kebenaran secara memadai atau dalam level tertentu dan bersungguh- sungguh untuk melakukan keinginan Allah, maka dalam proses untuk melakukan kehendak Allah tersebut, ia dapat mendengar suara di dalam dirinya melalui nuraninya Itulah suara Tuhan. Suara itu akan semakin akrab dan menyatu dalam dirinya sehingga diarahkan kepada kehendak Allah yang sempurna, sehingga seseorang mudah mendeteksi kalau ada suara yang tidak senada dengan kebenaran. Kalau seseorang tidak memahami kebenaran secara memadai, maka ia tidak akan dapat mendengar suara Tuhan, tetapi ia mendengar suara lain. Dalam kebodohannya ia menganggap suara itu tidak menyalahi kekudusan Allah. Suara itu tidak sesuai dengan kebenaran dan mengarahkan orang percaya pada kehidupan yang semakin jauh dari kesempurnaan.

Nurani seseorang adalah si aku dari orang itu. Itulah dirinya. Itulah hasil akhir kehidupan. Kalau Alkitab mengatakan bahwa setiap orang harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Tuhan,3 maksudnya keadaan si aku itulah yang dinilai. Ibarat bejana, itulah hasil akhir dari pembentukan bejana. Kualitas hati nurani itulah ekstraksi atau peta seluruh dari seluruh kehidupannya selama di dunia. Semua perbuatan salah dianggap telah selesai di kayu salib, tetapi hasil akhir yaitu keadaan nuraninya itulah yang dipersoalkan oleh Tuhan. Itulah sebabnya kita harus berjuang untuk selalu mendandani manusia batiniah kita, yaitu nurani tersebut.

1)Amsal 20:27; 2) Lukas 6:45; Yakobus 3:11; 3) Roma 14:12; 2Korintus 5:9-10

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.