14 Desember 2014: Menjadi Anak-Anak Allah

Kalau Tuhan mengadakan seseorang atau menciptakan seorang individu, sejatinya Tuhan ingin memiliki anak, yaitu anak yang dengan rela mengabdi kepada Bapa dan bersekutu dengan Dia. Bisa saja Tuhan menciptakan makhluk yang diprogram untuk taat saja tanpa bisa berbuat dosa. Tetapi bukan ini yang dikehendaki oleh Allah Bapa. Ketaatan seperti ini bukanlah ketaatan yang proporsional dan natural. Sebuah ketaatan yang sangat tidak bermutu dan sebenarnya tidak bisa disebut sebagai ketaatan. Tuhan menciptakan manusia dengan menghembuskan nafas kepada manusia agar manusia menjadi makhluk yang hidup. Hidup dalam kebebasan, bisa menaati Allah sebagai Bapanya dan mengabdi dengan kerelaan atau memilih jalannya sendiri dengan memberontak terhadap Dia. Sangat besar kemungkinan Lusifer dan para malaikat juga diciptakan segambaran dengan Allah. Lusifer dan para malaikat juga memiliki roh dari Allah untuk menjadi anak-anak yang berbakti kepada Bapa (Ibr. 12:9). Tuhan memberi kehendak bebas kepada mereka. Dalam Yehezkiel 28:28 tertulis: “Beginilah firman Tuhan Allah: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan mahaindah”. Dengan kehendak bebas yang dimiliki Lusifer, maka ia juga memiliki kemungkinan untuk tunduk sebagai anak yang taat atau memberontak kepada Bapa. Bisa dipertimbangkan bahwa malaikat-malaikat yang jatuh juga diprogram untuk menjadi anak-anak Allah yang dengan kerelaan mengabdi kepada Bapa, tetapi ada malaikat yang memberontak. Dalam kitab Ayub 4:18 ditemukan kenyataan bahwa malaikat ada yang sesat (Sesungguhnya, hamba-hamba-Nya tidak dipercayai-Nya, malaikat-malaikat-Nya pun didapati-Nya tersesat). Dalam teks aslinya yaitu bahasa Ibrani, kata “sesat” terjemahan dari toholah ( (תָּהֳלָה yang dapat diterjemahkan folly; tolol atau bertindak bodoh . Dalam Alkitab versi New International Version kata sesat tersebut diterjemahkan error. Berdasarkan teks asli Alkitab, bila kita terjemahkan bebas maka Ayub 4:18 bisa diterjemahkan Ia menempatkan malaikat-Nya bisa berbuat salah atau sesat dan berlaku bodoh. Dengan analisa ini dapat kita mengerti mengapa dalam salah satu Alkitab terjemahan bahasa Inggris diterjemahkan and his angels he charged wit folly. Dari penjelasan di atas ini ditunjukkan bahwa Lusifer dan malaikat adalah pribadi bukan sekedar tenaga aktif, tetapi juga pribadi yang bebas mengambil keputusan. Pribadi yang dapat mengambil keputusan dari keinginan-keinginannya. Dalam perjalanan sejarah Surga, ternyata ada Lusifer yang memberontak, sehingga gagal menjadi anak Allah. Seharusnya Adam pertama yang menjadi prototipe manusia yang pantas disebut sebagai anak-anak Allah, tetapi Adam gagal, seluruh keturunannya pun juga menjadi gagal. Seandainya manusia pertama berhasil menjadi anak-anak Allah sesuai dengan pola Tuhan, maka semua keturunannya pun menjadi anak-anak Allah. Karena Adam gagal, maka Allah mengutus Putra Tunggal-Nya Tuhan Yesuslah yang menjadi model Anak Allah yang dikehendaki oleh Bapa. Dialah yang sulung di antara banyak saudara. Keselamatan yang disediakan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya yaitu “supaya kita menjadi anak-anak Allah” (Yoh. 1:11-12). Untuk ini kalau kita mau menerima keselamatan dari Tuhan Yesus, maka kita memberi diri digarap untuk menjadi anak-anak Allah. Kita bukan dipanggil sekedar menjadi orang beragama yang mengerti hukum dan melakukan hukum-hukum itu. Tetapi kita dipanggil sebagai makhluk yang dalam kesadaran tinggi bahwa kita hidup dalam semesta dimana ada Sang Penguasa yang aktif memerintah, dimana kita harus menundukkan diri sepenuh tanpa syarat kepada-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.