13. MENYALIBKAN DIRI

Bila kita memandang salib Tuhan Yesus di Bukit Golgota, hendaknya pikiran kita tidak hanya ditujukan kepada pengorbanan-Nya yang menebus kita dari dosa, sehingga kita dapat menjadi milik Allah dan diselamatkan. Mestinya ketika seorang Kristen semakin bertumbuh dewasa, maka ia menemukan bahwa salib memancarkan tantangan berat yang harus disikapi atau harus ditindaklanjuti secara nyata. Sebenarnya salib juga menunjukkan bahwa kehidupan manusia dengan pola dan gayanya harus diakhiri. Salib di Bukit Kalvari juga membawa pesan bahwa Allah berkenan memberikan hidup baru bagi mereka yang bersedia mengikuti jejak Tuhan Yesus. Bila tidak memahami tantangan tersebut dan tidak bersedia mengikuti jejak Tuhan Yesus, maka kuasa salib menjadi sia-sia.

Kuasa salib maksudnya adalah tujuan salib itu diadakan. Inilah faktanya, bahwa banyak orang Kristen yang percaya salib, tetapi tidak memiliki kehidupan yang istimewa seperti yang dibawa oleh Tuhan Yesus. Mereka belum memiliki kehidupan yang berdamai dengan Allah, belum bersekutu dan belum menjadi sahabat dan anak Bapa yang benar. Inilah hidup baru yang dikehendaki oleh Allah untuk dimiliki orang percaya, sebuah kehidupan yang berkualitas. Itulah sebabnya Tuhan Yesus selalu menyatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Tidak ada orang yang mengaku Kristen bisa tidak menyangkal diri dan memikul salib. Itulah juga sebabnya Kekristenan sebenarnya bukanlah agama untuk kebanyakan orang (Luk. 13:23-24).

Firman Tuhan mengajarkan bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar kita tidak menghambakan diri lagi kepada dosa (Rm. 6:6). Penyaliban diri dimaksudkan agar dosa tidak berkuasa atas tubuh kita yang fana ini. Pengalaman hidup seperti ini terus terang jarang dialami oleh orang Kristen, sebab mereka memandang terlalu mahal harganya atau terlalu sulit untuk dilakukan. Tetapi justru inilah keunggulan anak-anak Tuhan. Kalau seorang Anak Bapa sudah menerima penebusan oleh darah Tuhan Yesus maka ia harus menjadi hamba bagi Tuhan yang menebus dan memilikinya. Itu berarti ia tidak boleh menjadi hamba dosa. Dosa di sini artinya segala sesuatu yang meleset dari kehendak Allah. Jadi, orang percaya bukan saja harus melakukan hukum-hukum Tuhan, tetapi juga melakukan segala sesuatu yang Tuhan inginkan. Jika tidak demikian, berarti seseorang menjadi hamba dosa. Untuk ini dibutuhkan kesungguhan dan keberanian untuk menjadi hamba Tuhan. Untuk ini pula orang percaya harus merasa sebagai orang yang akan dieksekusi hukuman salib, supaya kita juga bisa masuk proses penyaliban.

Tidak ada yang lebih membanggakan dan membahagiakan hati Allah Bapa, selain kesediaan kita untuk menyangkal diri dan memikul salib seperti yang Tuhan Yesus jalani (Mat. 10:38, 16:24; Mrk. 8:34; Luk. 9:23, 14:27). Menyangkal diri artinya bersedia memiliki cara hidup yang berbeda dengan dunia. Untuk ini seseorang perlu belajar sungguh-sungguh dengan tekun dan tentu saja membutuhkan waktu yang tidak singkat. Selanjutnya juga memikul salib, artinya bersedia menderita demi kesukaan hati Allah Bapa. Inilah sebenarnya inti Injil itu. Kabar baik sungguh-sungguh menjadi kabar baik kalau orang percaya bersedia menyangkal diri dan memikul salib. Injil palsu diajarkan tanpa hal ini. Dalam penyangkalan diri dan memikul salib tersebut orang percaya diajar untuk memiliki hidup baru. Hidup baru adalah hidup yang Tuhan Yesus sendiri kenakan selama hidup di dunia ini dengan tubuh daging manusia.

Tuhan sendiri mengajarkan dan menunjukkan hidup baru yang tidak bisa dimiliki oleh manusia mana pun. Ini hanya untuk mereka yang percaya kepada Tuhan Yesus dan bersedia mengikuti jejak-Nya. Memikul salib adalah kesadaran penuh untuk membunuh atau mematikan setiap keinginan yang tidak dikehendaki oleh Allah. Hal ini dimulai dari renungan hati, pikiran, perkataan yang diucapkan, dan juga segala perbuatan. Sungguh, ini bukan sesuatu yang mudah. Sebab ketika kita menggiring diri kita kepada suasana hidup seperti ini, kita seperti membawa diri kita ke kuburan. Kita menguburkan manusia lama dengan segala sesuatu yang Tuhan tidak kehendaki untuk kita miliki dan lakukan.

Kita seperti sedang meninggalkan dunia ini. Kalau benar-benar meninggal dunia tidaklah sulit, sebab kita tidak lagi bisa meraih dan menikmati keinginan daging, dosa, dunia dengan segala keindahannya. Tetapi kalau masih hidup di mana kita masih bisa meraih dan menikmati keinginan daging, dosa, dunia dengan segala keindahannya, namun harus menolaknya, maka ini adalah sesuatu yang benar-benar berat. Tetapi seberat apa pun, tidak boleh dan memang mestinya tidak bisa untuk tidak dihindari. Menyalibkan diri adalah bagian dari anugerah yang Tuhan berikan untuk mencapai keselamatan secara penuh yang Tuhan sediakan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.