13 Desember 2014: Hak Hidup

Orang yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan nampak dari sikap hidupnya yang mengingini segala sesuatu untuk kepuasan dirinya (Yak. 4:1-4). Orang-orang seperti ini berarti bersahabat dengan dunia. Mereka adalah orang-orang yang berkhianat kepada Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah (Luk. 4:5-8). Kenyataan hari ini banyak orang merasa berhak memiliki hidupnya dan menaruh berbagai keinginan dalam dirinya tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki kehidupan ini. Satu hal yang paling sering dilupakan oleh manusia adalah sejatinya kita berasal dari ketiadaan. Allahlah yang mengadakannya dengan menghadirkan seorang pribadi yaitu “kita”. Hal ini harus selalu diingat bahwa kita ada dari tidak ada (creatio ex nihilo). Dengan ini kita bisa mengerti bahwa sebenarnya kita tidak berhak memiliki hak hidup. Hidup yang kita miliki adalah milik Tuhan yang mengadakannya. Jika kita sungguh-sungguh menghayati hal ini maka kita tidak akan berkeberatan untuk hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya secara mutlak. Selanjutnya, dalam penciptaan atas kita masing-masing Allah pasti memiliki agenda. Agenda Tuhan itulah yang seharusnya kita pedulikan dengan serius, dan kita tidak boleh memiliki agenda sendiri. Orang yang mengumbar segala keinginan dalam dirinya adalah orang yang merasa berhak memiliki agenda sendiri. Orang seperti ini sebenarnya berstatus pemberontak. Hidup di dunia hanya dipenuhi dengan segala kegiatan yang berasal dari agendanya sendiri. Kita harus sadar bahwa kita sebenarnya tidak berhak ada. Kalau kita bisa mengadakan diri kita sendiri, maka kita berhak memiliki keinginan sesuka kita sendiri tetapi ternyata kita tidak bisa membuat diri kita ada. Tuhan yang mengadakannya, maka Tuhanlah yang seharusnya berhak sepenuhnya atas diri kita. Maka kita harus berani berkata dengan tegas: God doesn’t exist for me, I exist for The Lord. Orang percaya yang benar akan berusaha untuk belajar tidak berhak memiliki suatu keinginan. Segala keinginannya haruslah sesuai dengan kehendak Bapa. Orang percaya yang benar akan berkata kepada Bapa: Bukan kehendakku yang jadi tetapi kehendak-Mu lah yang jadi. Bukan kerajaanku yang datang tetapi kerajaan-Mu. Kehendak-Mu yang jadi di bumi seperti di surga. Manusia yang ditebus oleh darah Tuhan Yesus tidak berhak memiliki spirit atau gairah kecuali spirit atau gairah yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus. Tubuh yang kita hidupi ini haruslah tubuh yang digerakkan oleh gairah atau spirit yang dimiliki oleh Tuhan Yesus (Gal. 2:19-20). Jika kita menghadirkan gairah Anak Alah dalam diri kita yaitu menyerap semangat hidup-Nya, maka kita menghadirkan Dia dalam hidup. Tetapi sebaliknya jika tidak, maka berarti kita tidak menganggap Dia ada. Kita meniadakan Dia dalam hidup ini. Itulah sebabnya bagi orang yang sungguh-sungguh mau melayani kehendak Tuhan, Tuhan menjadi sangat riil baginya, tetapi bagi mereka yang tidak mau melayani kehendak-Nya, Tuhan seperti tidak ada. Tuhan Yesus pernah dicobai Iblis agar memiliki spirit yang salah yaitu spirit dunia. Iblis menunjukkan keindahan dunia untuk menjerat Tuhan Yesus. Tuhan Yesus digoda untuk mengingini keindahan dunia, tetapi Tuhan Yesus menolak. Penolakan ini berarti Ia tidak mau menyembah Iblis. Seperti Dia menang kita juga harus memang. Itulah sebabnya Tuhan Yesus disebut sebagai pokok keselamatan yang menjadi teladan bagi kita (Ibr. 5:7-9). Dalam hal ini kita mengerti mengapa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Fil. 2:5-7). Memiliki pikiran dan perasaan Kristus berarti kita hidup di dalam gairah-Nya.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.