11. UKURANNYA BUKAN MORAL UMUM

Firman Tuhan mengatakan bahwa orang yang berkata bahwa dirinya tidak berdosa adalah orang yang tidak mengenal kebenaran dan Firman-Nya tidak tinggal di dalamnya (1Yoh. 1:8,10). Ayat ini menunjukkan bahwa sejak dulu (zaman rasul-rasul) ada orang-orang yang merasa bahwa dirinya tidak memiliki dosa atau salah. Tuhan menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal kebenaran dan yang tidak tinggal di dalam Firman-Nya. Tetapi ironinya, mereka mengaku sebagai orang kudus. Mereka adalah pendusta yang tidak bisa dipercayai. Mereka adalah orang-orang yang mencari penghargaan dan nilai diri di mata manusia lain. Biasanya mereka adalah moralis-moralis yang suka menghakimi sesama, mencela dan mengutuk orang lain karena kejahatan yang disangkakannya atau dinilainya secara naif.

Mereka juga adalah orang-orang yang mau menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain. Hal ini dilakukan, sebab tanpa sadar ia memandang atau merasa bahwa orang lain adalah saingannya. Inilah kesombongan rohani yang ditentang oleh Allah. Bisa dipastikan mereka belum mengenal Injil Tuhan Yesus Kristus yang tuntutan-Nya adalah sempurna seperti Bapa. Bisa dipastikan bahwa mereka tidak mengenal kebenaran, yang menekankan sikap dan nilai-nilai batiniah. Kesucian hanya diukur oleh mereka dari tindakan lahiriah secara hukum moral umum. Kalau ia seorang pembicara di mimbar, pasti khotbahnya tidak bisa berkembang, dangkal, tidak ada isinya dan penuh dengan kesaksian pribadi. Hal ini terjadi sebab ia tidak menggali kebenaran Firman. Sebagai gantinya mereka akan mengagungkan kesaksian pribadi, bahwa mereka sudah berhadapan langsung dengan Tuhan dan menerima mandat-Nya.

Apakah mereka yang mengaku orang suci sudah mencapai kesucian seperti yang Bapa kehendaki? Pasti belum, tetapi mereka merasa sudah tidak bercacat, sebab ukuran kesuciannya adalah moral umum. Karena mereka belum mengenal kebenaran -sehingga tidak hidup dalam kebenaran- maka cirinya jelas yaitu meninggikan diri seakan-akan dirinya paling suci di antara manusia lain. Hal ini juga bisa didorong oleh hasrat ingin dikultuskan, seharusnya tidak demikian. Orang-orang seperti ini akan membangun strata kasta dalam gereja, sehingga tidak mendorong jemaat untuk mencapai kesempurnaan. Kalaupun seseorang memiliki kesucian yang tinggi dan luar biasa, hal itu tidak perlu dikemukakan kepada orang lain. Biarlah hanya Tuhan yang tahu, yang akan memberikan upah kepada setiap orang sesuai dengan perbuatan-Nya (2Kor. 5:9-10). Paulus sendiri seorang hamba Tuhan yang kualitasnya tidak diragukan lagi berkata, bahwa dirinya belum sempurna, dia sedang mengejar atau menggumulinya dengan sungguh-sungguh (Flp. 3:12; 1Kor. 9:27).

Firman Tuhan mengatakan: “Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita” (1Yoh. 1:10). Kalimat ini sekilas sederhana, tetapi sebenarnya pengertiannya tidak mudah dipahami. Mengapa kalau seseorang mengaku tidak berdosa berarti membuat Tuhan menjadi pendusta? Apakah manusia bisa membuat Tuhan menjadi pendusta? Maksud ayat ini adalah kalau orang percaya tidak menyadari dan tidak mengakui keberadaannya sebagai orang-orang yang tidak mencapai standar kesucian Tuhan, maka ia tidak akan pernah berjuang untuk mencapai standar kesucian Allah. Jika demikian, maka kehidupan orang percaya tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya, bahkan kenyataannya ada yang lebih jahat. Keadaan hidup orang percaya ini akan menimbulkan pertanyaan: Untuk apa Tuhan Yesus datang ke dunia?

Kalau kedatangan Tuhan Yesus membuat ajaran atau etika baru, atau lebih baik dari sebelumnya (Taurat) mengapa orang Kristen yang percaya kepada-Nya tidak berbeda dengan orang lain, bahkan lebih jahat? Bagaimana bisa memberitakan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus? Dengan keadaan kehidupan orang percaya ini, maka membuat Tuhan menjadi pendusta, artinya memberikan stempel atau cap bahwa Dia penipu. Sebagai akibatnya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus menjadi tidak berharga. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus memiliki hidup keberagamaan atau kebenaran (Yun. dikaiosune) yang lebih dari tokoh-tokoh agama sekalipun. Hanya kalau orang percaya memiliki kualitas moral yang luar biasa menakjubkan, maka orang percaya bisa menjadi terang dan garam dunia serta bisa menjadi saksi bagi Kristus.

Untuk membuktikan Tuhan Yesus adalah Juruselamat, Allah yang benar, maka dalam sikap hidup anak-anak-Nya atau kualitas hidup orang percaya bukan saja dilihat dan dinilai dari segi lahiriahnya. Sebab kalau hanya dilihat dan dinilai dari segi lahiriahnya saja, orang tidak percaya pun banyak yang sukses dalam berbagai bidang, mereka pun juga bisa menunjukkan keajaiban allah yang mereka yakini sebagai allah yang benar. Kalau orang percaya tidak diarahkan untuk mengenali kebenaran guna menemukan standar kesucian Tuhan yang benar, maka fokus orang percaya akan diarahkan kepada hal lain. Dalam hal ini terjadi penyesatan sehingga maksud keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus tidak dapat terwujud.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.