11 Oktober 2014: Sama Karakter Bersama Menderita

Orang yang bisa menikmati kebersamaan dengan Tuhan adalah orang-orang yang sudah tidak mengingini dunia ini. Makanan atau rejekinya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Inilah prinsip hidup Tuhan Yesus selama hidup di dunia dengan tubuh daging seperti manusia (Mat. 4:34). Orang-orang yang memiliki prinsip sama seperti Tuhan Yesus ini adalah orang-orang yang memiliki kebersamaan dengan Tuhan. Mereka bersama-sama dengan Tuhan bukan hanya dalam keadaan yang menyenangkan tetapi juga dalam keadaan yang tidak menyenangkan. Tuhan Yesus menyatakan bahwa murid-murid-Nya adalah orang-orang yang telah tetap tinggal bersama-sama dengan Dia dalam segala pencobaan yang Dia alami (Luk. 22:28). Inilah yang dimaksudkan Paulus sebagai hidup dalam persekutuan dalam penderitaan Tuhan Yesus, dimana seseorang menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya (Flp. 3:10). Betapa hebat kualitas hidup orang percaya yang mencapai taraf ini. Orang-orang seperti ini dikatakan oleh Firman Tuhan sebagai “menderita bersama-sama dengan Tuhan” sehingga dilayakkan untuk dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan (Rm. 8:17). Untuk bisa menderita bersama-sama dengan Tuhan, seseorang bukan hanya memiliki nyali untuk berani menderita secara fisik bagi Tuhan seperti pada jaman perang salib, tetapi yang terutama dan penting adalah harus menjadi sama dalam karakter atau kepribadian seperti Tuhan Yesus terlebih dahulu. Tuhan Yesus sebenarnya tidak membutuhkan orang yang berani menderita atau martir atau semacam jihad bagi Tuhan Yesus. Tuhan menghendaki seseorang belajar kebenaran, menjadi cerdas, berhikmat dan kudus seperti Tuhan Yesus dalam segala hal. Inilah orang-orang yang dalam segala hal melakukan kehendak Bapa. Memiliki pribadi seperti Tuhan Yesus adalah hal terpenting dan utama. Inilah tujuan keselamatan. Setelah itu barulah boleh mengalami apa pun demi kepentingan Tuhan. Dalam hal ini Tuhan menghendaki seseorang tidak bertindak sendiri tanpa kebersamaan dan persekutuan dengan Tuhan. Pelayanan yang dilakukan tanpa persekutuan dengan Tuhan akan melahirkan berbagai “proyek-proyek gereja” yang tidak berasal dari hati Tuhan. Proyek-proyek seperti ini sarat dengan kepentingan pribadi hanya untuk memuaskan diri sendiri. Biasanya orang yang melakukan hal ini memiliki kebanggaan atas prestasi yang dicapainya dalam pelayanan bagi Tuhan. Mereka bukan hamba Tuhan.

Bagikan melalui:
Bookmark the permalink.

Comments are closed.